
"Waalaikumussalam, Kak Tiara. Kakak ke sini mau jengukin Ai, yah?" Sapa Asri sopan.
Saat Ai masih belum sadarkan diri tadi beberapa petugas kedisiplinan datang untuk melihat bagaimana keadaan Ai. Bahkan ada beberapa Ustazah yang tidak sengaja mendengar kabar Ai pingsan menyempatkan diri untuk menjenguk. Tapi sayangnya Ai tidak tahu bila ada banyak orang yang menjenguknya, jika tahu dia pasti senang karena masih ada orang yang perhatian kepadanya. Ini adalah pikiran polos Asri. Dia menganggap semua yang datang adalah orang yang perduli tanpa tahu apa isi hati orang tersebut.
"Awalnya aku datang untuk menjenguk Aishi, tapi waktu kedatangan ku memang sangat tepat. Karena Ai sudah siuman aku akan membawanya ke rumah Umi karena ada sesuatu yang ingin Umi bicarakan kepada Aishi."
"Umi mau ngomong apa sama Ai, Kak?" Tanya Ratna penasaran.
Tiara menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Aku tidak tahu karena aku datang ke sini hanya bertugas menyampaikan pesan dari Umi saja. Tapi, jika Aishi masih belum pulih Umi bilang tidak apa-apa untuk istirahat dulu. Dia berpesan pembicaraan ini bisa ditunda sampai Ai merasa lebih baik."
"Aku sudah baik-baik aja, Kak. Kita bisa menemui Umi sekarang mumpung waktu masih sore." Kata Ai dengan senyuman lembut tidak pernah menghilang dari bibir ranumnya.
"Iya Kak, kami akan menemani Ai ke rumah Umi. Jadi jika terjadi apa-apa kepadanya kami siap membantu." Ujar Ratna merasa bertanggung jawab sebagai ketua kamar mereka.
Dia akan memperbaiki kesalahan yang pernah ia buat untuk Ai. Maka dari itu ia ingin mengawal Ai langsung ke rumah Umi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sayangnya Tiara tidak mengijinkan. Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal terlihat tidak enak.
"Umi tidak mengizinkan itu terjadi. Dia bilang cukup aku saja yang menemani Aishi ke rumah Umi." Katanya tidak enak.
__ADS_1
"Oh begitu," Asri saling pandang dengan Ratna.
"Jika Umi mengatakan begitu maka kami tidak punya pilihan selain menunggu Ai di asrama." Kata Asri tidak bisa mengatakan apa-apa.
Umi adalah pemimpin santri perempuan di pondok pesantren. Bila ada apa-apa orang terakhir yang bisa mereka mintai bantuan adalah Umi karena masalah yang Umi selesaikan biasanya masalah yang cukup besar. Adapun bila ada masalah ringan Umi akan menyerahkannya kepada staf kedisiplinan asrama putri yang ia bentuk dan kepada para staf pondok.
Karena Umi ingin berbicara dengan Ai, maka mereka menyimpulkan jika pertemuan ini untuk membahas rumor buruk tentang Ai yang beredar di pondok pesantren. Mereka lega karena masalah ini akhirnya bisa diselesaikan dengan cepat tapi disaat yang bersamaan mereka khawatir dengan keadaan Ai.
"Kalian tenang saja, aku akan menemani Aishi di sana. Bila terjadi sesuatu aku tidak akan tinggal diam saja melihat sendirian." Tiara berjanji dengan sungguh-sungguh untuk meredakan kecemasan mereka.
"Kami tahu, Kak. Tolong jaga Ai di sana, dia sebenarnya belum pulih tapi tetap memaksakan diri ingin pulang ke asrama." Ujar Asri masih khawatir.
"Jangan khawatir, dia akan selalu bersamaku di rumah Umi."
Kemudian Tiara membawa Ai ikut bersamanya ke rumah Umi. Mereka berjalan menapaki jalan setapak pondok pesantren yang banyak ditumbuhi pohon-pohon tinggi nan rindang. Panas matahari sore rasanya tidak berpengaruh banyak untuk mereka yang berjalan di jalan ini.
Namun, sepanjang jalan mereka berdua tidak ada yang berbicara. Ai tidak tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Tiara saat ini karena rasanya sangat canggung sekarang. Ia sendiri masih belum melupakan ucapan Tiara saat itu di sawah. Meskipun Ai tahu niat Tiara baik tapi rasanya tetap saja agak canggung karena itu menyangkut urusan hati.
Sesampai di rumah Umi, Tiara mengingkari janji yang ia ciptakan dengan nada lembut dan sopan di depan teman-teman Ai. Ia bilang akan menemani Ai selama di rumah Umi tapi faktanya berbeda karena Tiara hanya mengantarkan Ai sampai di depan halaman rumah Umi.
"Masuklah ke dalam, ada seseorang yang telah menunggumu di sana." Kata Tiara dengan nada lembut yang sama.
__ADS_1
Selain mengingkari janjinya, ia juga mengatakan jika di dalam ada 'seseorang' dan tidak menyebut Umi.
Ai bingung, dia merasa ada yang salah di sini.
"Kakak tidak ikut masuk bersamaku?" Ai sebenarnya sedang menagih janji.
Tapi Tiara dengan mudah mengingkari,"Aku tidak bisa masuk karena kalian akan membicarakan masalah yang sangat privasi." Tolak Tiara bertolak belakang dengan apa yang ia janjikan sebelumnya.
Ai merasa tidak percaya diri bila sendirian.
"Aku...malu sendirian, Kak." Kata Ai dengan suara lemah.
Tiara tersenyum ringan,"Jangan takut, kalian di dalam hanya berbicara santai saja. Dia juga orangnya ramah, yakinlah giginya yang runcing tidak akan sampai menggigit mu." Kata Tiara bercanda.
Dia hanya ingin menghibur ketakutan Ai agar berani dan tidak bimbang lagi masuk ke dalam.
"Baiklah, Kak. Tapi tolong tunggu aku di sini, aku tidak ingin pulang sendirian malam-malam."
Waktu magrib sebentar lagi datang dan Ai tidak yakin pembicaraan ini berjalan singkat.
Tiara dengan mudah membuat janji,"Aku akan menunggumu di sini, jangan khawatir."
__ADS_1