
Rasanya sakit sekali. Dia malah tidak tahu air matanya sudah terjatuh meskipun bibirnya membentuk garis senyuman.
Ternyata jatuh cinta itu resikonya sangat besar. Tersenyum rasanya begitu palsu bila patah hati, dan tertawa rasanya begitu aneh bila patah hati.
"Tidak apa-apa, Asri. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Lagipula laki-laki bukan hanya Kak Kevin saja, tapi kamu masih punya banyak pilihan di sini. Kamu bisa memilih fokus belajar jika mau atau kamu juga bisa menghidupkan kebiasaan buruk mu ketika pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren. Mengintip santri laki-laki dari stan makanan misalnya, bukankah ini menyenangkan?" Mega berusaha menghibur sahabatnya agar jangan terlalu terpuruk dalam lubang tidak berdarah dari putus cinta.
Untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa memihak sahabatnya karena Sasa juga memiliki hak penuh diantara semua kemungkinan. Mereka telah terikat tali pertunangan dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa naik ke jenjang pernikahan.
Asri tertawa kecil, dia bersikap seperti Asri yang mereka kenal. Ceria dan terbuka, dia tampak seperti orang yang tidak patah hati.
"Saran mu bagus juga. Tapi aku tidak terlalu suka belajar jadi mencari mangsa baru tidak apa-apa, bukan?"
Karena ini Ai dan Mega hampir berpikir bila Asri tidak benar-benar menyukai Kevin.
"Tapi jangan bawa-bawa aku bila kamu ingin mencari yang lain. Satu lagi, berhati-hatilah agar tidak tertangkap pengawas bila kamu melakukannya di stan makanan." Ai sudah kapok mendapatkan hukuman dari Ustad Vano.
Hukuman hari ini saja masih belum ia laksanakan tapi sudah membuat masalah lagi, hah...Ayah dan Bunda pasti akan sangat marah bila tahu perbuatannya di sini.
"Ya Allah, aku tidak mungkin membawa kalian berdua karena Ustad Azam dan Ustad Vano pasti akan mengawasi. Dengan begitu rencana ku akan ketahuan dan kita akan berakhir dihukum lagi. Jadi membawa kalian berdua adalah ide yang sangat buruk." Dumel Asri tidak bisa membayangkan wajah datar nan dingin dari duo kulkas berjalan bila tahu kekasih mereka diam-diam memperhatikan laki-laki lain.
__ADS_1
Hukuman yang diterima pasti lebih berat dari sebelumnya.
"Hei jangan katakan itu di sini. Aku tidak mau ada rumor buruk lagi yang menyebar tentang dia." Ai buru-buru menghentikan Asri agar jangan membicarakan tentang Ustad Vano di sini.
"Rumor buruk apa, jika ini rumor buruk lalu kenapa dia memberikan mu jaketnya?"
Apa yang Asri katakan memang benar. Jika Ustad Vano tidak ingin tersebar rumor buruk mengenainya lalu kenapa dia memberikan sebuah perhatian kepada Ai?
"Tidak, ini karena dia murni ingin membantuku melindungi aurat ku." Meskipun terlihat samar karena lumpur, wajah Ai tampak sudah memerah.
Persis seperti namanya, Aishi Humaira. Gadis lembut dengan wajah yang mudah memerah. Hati laki-laki siapa yang tidak tersentuh bila melihatnya?
"Jika niatnya hanya membantu lalu kenapa selalu kamu yang ia pilih diantara kita bertiga? Entah itu saat di sawah dulu, saat kamu pingsan dulu, ataupun hari ini. Kenapa selalu kamu yang ia bantu? Kenapa bukan aku atau pun Asri?" Ucap Mega masuk akal.
Ai kian malu,"Jangan katakan itu lagi...ini masih belum jelas."
Ai tidak mau terlalu berharap intinya. Dia telah menyerahkan semuanya kepada Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati. Bila Ustad Vano adalah imamnya, pemimpin yang akan membimbingnya di jalan Allah, maka Allah akan satukan mereka di waktu yang tepat.
Tapi jika tidak maka Ai bukanlah wanita yang pantas untuknya dan Ai selalu mempersiapkan diri untuk kedatangan hari itu.
__ADS_1
Akan tetapi terlepas dari semua itu, Ai tidak bisa menampik bahwa hari ini dia sangat senang menggunakan jaket Ustad Vano.
Wangi tubuh Ustad Vano yang tertinggal sepanjang jalan tadi memenuhi indera penciumannya. Membuat hati dan pikirannya tidak bisa lepas dari sosok dingin nan tampan itu.
Hanya Allah yang tahu betapa membara kebahagiaannya hari ini.
"Sampai kapan kalian akan menghalangi jalan masuk?" Suara acuh tak acuh Sari mengganggu percakapan manis mereka.
Ai tersadar jika ia telah menghalangi jalan masuk. Maka dengan permintaan maaf ia menggeser tubuhnya agar Sari bisa lewat.
"Astagfirullah, maafkan aku."
Sari tersenyum aneh, dia memandang Ai dari bawah hingga ke wajahnya.
"Kamu benar-benar memalukan. Apakah menyenangkan menggoda Ustad Vano dan santri laki-laki?" Tanyanya bias.
Mega dan Asri menjadi marah. Dia ingin membalas perkataan kasar Sari yang tidak berbobot tapi segera dihentikan oleh Ai.
"Apapun yang kamu katakan selama itu tidak benar aku tidak akan perduli. Kebenaran cukup hanya Allah yang tahu, sedangkan kamu orang luar yang tidak tahu apa-apa aku sarankan sebaiknya menjaga lisanmu. Karena apa yang kamu katakan hari ini tidak akan lepas dari pengadilan Allah, apakah kamu sanggup?" Balas Ai dengan sangat tenang.
__ADS_1
Dia telah berjanji sebelumnya bahwa dia akan berubah. Setidaknya ia harus mampu melindungi dirinya sendiri agar Ayah dan Bunda maupun orang-orang disekitarnya tidak khawatir.
"Cih, dasar sok alim." Ucap Sari sinis sebelum masuk ke dalam asrama.