
Ai menyemprot 5 sampai 7 kali dari kaki sampai atas kepala ranjang. Setelah itu wangi bunga mawar yang sangat ringan mengambang di udara.
"Ibu bukan parfum tapi pewangi. Bunda bilang ini tidak mengandung alkohol dan wanginya tidak terlalu keras menyebar kemana-mana jadi aku dibolehkan membawanya." Kata Ai sambil mengulurkan tangannya kepada Asri.
"Mau?" Tawar Ai tidak ragu.
"Kalau begitu aku mau. Hem..ini sangat harum.." Dia mengambilnya dan menghirup pewangi itu dengan ekspresi yang sengaja dilebih-lebihkan.
Ai tersenyum,"Ambil saja dan simpan untuk dirimu sendiri. Aku masih punya beberapa di lemari jadi jangan menolak." Kata Ai sambil mengambil peralatan mandi.
Asri tidak menolak, dia sangat senang menerima pewangi itu. Dia bahkan menciumnya beberapa kali karena ketagihan.
"Ayo kita mandi sekarang sebelum semua orang pergi ke masjid."
Asri terkejut,"Sepagi ini?" Ini sangat dingin.
"Tidak apa-apa, Asri. Airnya tidak sedingin yang kamu pikirkan dan mandi di sepertiga malam sungguh bermanfaat untuk tubuh kita." Ai menjelaskan dengan ringan.
__ADS_1
Asri sejujurnya tidak berani mandi, tapi karena Ai sudah mengatakannya maka dia malu menolak.
"Ayo pergi." Kata Asri mengambil mukenanya juga.
Mereka membangunkan Mega, menyeretnya bersama-sama ke kamar mandi dan langsung berpisah ketika masuk ke kamar mandi kecil.
Ini pukul 3 dini hari jadi mereka tidak mandi terlalu lama karena tidak tahu bagaimana aturan sholat tahajud di sini. Jadi untuk menghindari hukuman mereka langsung melarikan diri ke masjid agar datang tidak terlambat.
Mereka melaksanakan sholat tahajud di saf tengah. Membenamkan diri membaca sholawat sebelum membaca Al-Qur'an.
"Kalian bertiga tenang saja, nanti di kelas kami akan mengamankan 3 tempat duduk untuk kalian." Herlina berjanji kepada mereka.
Ai dan Asri mengucapkan terimakasih sementara Mega tidak mengatakan apa-apa. Herlina dan yang lain tidak terlalu memikirkannya karena biar bagaimanapun manusia dilahirkan dengan karakter yang berbeda-beda.
Setelah itu mereka semua pergi sarapan di stan makanan. Selama makan Ai kadang-kadang mengangkat kepalanya mencari Ustad Vano tapi dia tidak menemukannya di manapun. Entah itu dijalan atau di stan makanan dia tidak bisa melihatnya.
"Kamu mencari siapa?" Asri ikut melihat sekelilingnya sambil mencuri pandang ke stan laki-laki.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat situasi saja." Bohong Ai kembali menunduk, menyuapkan setengah sendok bubur hangat ke dalam mulutnya.
"Oh.." Nyatanya dia tahu Ai berbohong tapi dia tidak mendesak Ai untuk jujur.
Mereka memang berteman tapi belum sedalam itu untuk saling mengungkap rahasia hati.
"Assalamualaikum, apa kalian sudah selesai sarapan?" Sasa, Tiara, dan Frida mendatangi meja mereka.
Kebetulan Ai, Asri, dan Meha sudah menyelesaikan sarapan dan akan bersiap pergi ke sawah. Tapi mereka bingung akan ke sawah bagian mana mengingat di sini sawah sangat luas dan banyak.
"Waalaikumussalam, Kak. Kami sudah selesai sarapan dan akan pergi ke sawah. Tapi kami bingung pergi ke sawah mana karena semalam Umi tidak menjelaskannya." Ucap Asri dengan nada sopan.
Sasa tersenyum,"Ikuti kami. Kalian akan kami bimbing dan awasi selama menjalankan hukuman di sawah. Tapi sebelum itu kalian harus mengambil keranjang sayuran di dapur untuk menampung sayuran yang kalian petik." Sasa mengarahkan dengan lugas dan ramah.
"Terimakasih, Kak. Kami akan segera mengambilnya." Mereka bertiga masuk ke dalam dapur untuk mengambil keranjang sayur. Masing-masing orang mengambil 1 untuk dibawa.
Lalu, mereka berenam pergi bersama-sama melewati jalan setapak pondok pesantren. Di perjalanan Ai dan Mega jarang berbicara karena pertama, ada Frida yang terus menerus melihat Ai dengan tatapan mengejek sehingga Ai tidak mau membuat gerakan apapun yang semakin meningkatkan kebencian Frida kepadanya. Kedua, Ai memang sedang tidak ingin berbicara. Kepalanya penuh dengan keluarga di rumah yang sangat dia rindukan dan tentu saja, dia juga merindukan Ustad Vano.
__ADS_1