
"Iyaa Om, mudah-mudahan saya bisa menjadi apa yang Om dan Satrio harapkan."ucapku hanya untuk sandiwara
"Iyaa Nad, entah kenapa Om yakin padamu, sebetulnya Satrio pernah menceritakan mu pada Om, dia bilang dia baru saja bertemu gadis unik yang bawel dan super cerdas, gadis pemberani yang nggak takut apapun, bahkan berani mempermalukan dia didepan umum, sejak saat itu Om lihat dia sering tersenyum bahkan tertawa lepas, yaa meskipun kita selalu melihat dia tertawa, tapi dihatinya penuh luka, ketakutan dan kesepian, karena selama ini dia hanya tinggal dengan Om, sementara Om juga harus selalu mengunjungi anak Om yang berada di Jakarta, jadi Satrio kadang hanya tinggal berempat dengan asisten rumah tangga, satpam dan supirnya. Itupun setiap malam mereka semua diwajibkan pulang ke rumah masing-masing oleh Satrio.Maka Satrio sebetulnya kesepian sekali, tapi didalam kesepian nya dia nggak pernah lupa membahagiakan banyak orang, Om berharap kalian segera menikah, agar Satrio ada yang mengurus dan Om tidak khawatir."ucap Om Heru memelas
"Ehem, maaf Om saya batuk, bukan saya nggak mau Om, tapi kami kan baru kenal, jadi nggak etis aja kalau langsung nikah, saya perlu mengenal nya lebih dalam dan meyakinkan diri bahwa dia sudah benar-benar berubah."ucapku beralasan
"Kamu jangan berburuk sangka dulu, Satrio bukan Playboy seperti bayangan mu, dia sebenarnya laki-laki baik, tak pernah dia melakukan hal-hal berlebihan pada perempuan, dia melakukan itu yaa pasti kamu sudah tahu lah alasannya, jadi mohon kamu pertimbangkan, masalah akad dan resepsi Om yang atur kalau mau seminggu resepsi bisa."ucap Om Heru tertawa
"Bukan gitu Om, saya masih harus berpikir dan menjalani nya dulu Om, oh ya Om, Om tahu siapa musuh keluarga Om?."tanyaku penasaran sekaligus mengalihkan pembicaraan nggak penting
"Oh itu, sampai sekarang saya belum tahu Nad,tapi saya mencurigai sahabat-sahabat dari almarhum ayahnya Satrio, karena merekalah yang tak pernah tampak semenjak kematian orang tua Satrio."ucap Om Heru geram
"Sahabat-sahabat Om, siapa tuh Om?."tanyaku
"Sudahlah jangan dipikirkan dulu, nanti kalau sudah ada bukti kamu akan tahu sendiri."ucap Om Heru
"Oh yaa Om kenapa anak Om nggak tinggal dirumah Satrio aja, kan biar nemenin Satrio dan Om."ucapku
"Nggak Nad, anak saya sudah menikah dan punya bisnis di Jakarta, jadi saya paksa tinggal disini gak mau, cuma karena saya kangen cucu saya, maka saya sering menginap di sana dan Satrio malah yang menyuruh."ucap Om Heru
"Oh udah nikah, Om sendiri kenapa belum nikah lagi?."ucapku keceplosan sambil menutup mulut
"Haha Nadia, saya udah nggak kepikiran nikah, yang ada saya hanya berpikir bagaimana cara melindungi Satrio dan keluarga saya, sepertinya dimulai kemarin semua keadaan sudah berubah seperti dulu, mencengkam dan penuh teror, jadi saya sarankan juga ke kamu, untuk hati-hati, terlebih kamu sekarang pacarnya Satrio, nyawamu bisa terancam."ucap Om Heru
Lalu Pak Nathan datang dan menghampiri kita setelah teleponan dengan Nenek lampir.
"Om dan Nadia kita keruang Satrio yuk, tadi kata dokter dia sudah sadar dan bisa dilihat."ucap Pak Nathan
"Alhamdulillah, terimakasih Tuhan."ucap Om Heru
__ADS_1
"Alhamdulillah."ucapku
Lalu kami memasuki kamar Pak Satrio, terlihat wajahnya pucat namun dia masih tersenyum bahkan tertawa.
Kami menghampiri nya dan dia mau bangun dari posisi tidur nya.
"Eh bro jangan bangun , tiduran aja."ucap Pak Nathan
"I...iya gue gak jadi bangun deh, lu koq kesini sih, nggak kerja lu?."ucap Satrio
"Ya elah masa sohib gue sakit ,gue masih mikirin kerja, btw semalem gue ditelpon Nadia, makanya gue langsung panik dan bawa lu kesini, terus lu tau yang donorin darah yaa pacar lu tuh."ucap Pak Nathan
"Emang aku gak salah pilih pacar, makasih sayang, nanti kalau aku udah sembuh total, aku ajak kamu jalan-jalan deh."ucapnya sambil mengedipkan mata
"Heheh, nggak usah sayang, yang penting kamu sembuh dulu."ucapku malas
"Eh Om Heru, kapan datang dari Jakarta?".tanya Satrio heran
"Udah nggak apa-apa Om, udah enakan koq, yaa cuma mungkin masih agak kaku."ucapnya
"Sat, kamu lihat gak orang yang mau membunuh kamu, kamu ingat ciri-cirinya?."ucap Om Heru
"Nggak Om , aku sama Nadia sama sekali nggak tahu mereka siapa, yang pasti badannya kekar dan menggunakan topeng Om, dia bawa kayu dan pisau, terus kalau gak salah naik motor CBR 150R, tapi aku lupa plat nomernya, karena aku udah nggak jelas lihat, sudah tertusuk."ucap Satrio
"Hemm, nanti harus kita cari tahu lagi, yasudah lah yang penting kamu baik-baik aja, lain kali, kalian semua harus hati-hati, karena bisa saja mereka mengincar kita semua."ucap Om Heru
Lalu suster datang membawa bubur dan air putih.
"Ini Pak Satrio makanannya."ucapnya
__ADS_1
"Iya makasih Sus."ucap Satrio
Lalu suster meninggalkan kami.
"Yaudah Sat, kan lu udah nggak apa-apa, sekarang gue harus pulang dulu ganti baju, nanti siang atau sore gue kesini lagi."ucap Pak Nathan
"Iyaa bro nggak apa-apa, kan disini ada pacar gue, lu pulang aja istirahat." ucap Satrio
Lalu Pak Nathan pamit kepada kita dan meninggalkan ruangan.
"Om mau beli sarapan untuk Om dan Nadia dulu yaa, kamu biar dijaga sama Nadia dulu, nanti Om kesini lagi."ucap Om Heru
"Iyaa Om silakan."ucap Satrio
"Nad, Om keluar dulu, tolong jaga Satrio baik-baik."pesan Om Heru
"Iyaa Om."ucapku
Lalu Om Heru juga keluar meninggalkan ruangan Satrio dan kalian tahu yaa kami disini hanya berdua saja. Lalu seperti biasa kalau dia sehat dia mulai menggombal dengan gombalan recehnya, rasanya aku pengen keluar ruangan.
"Sayangku, sini dong temenin Aa Satrio, duduk di sampingku dan suapin aku."ucapnya padaku
Akupun duduk sambil menggerutu.
"Sayang, sayang hei ini udah gak ada siapa-siapa, berhenti deh pura-pura, satu lagi aku gak mau panggil kamu Aa."ucapku ketus
"Duh koq bidadari aku jutek lagi sih, bukannya semalam katanya nggak mau kehilangan aku, takut aku kenapa-kenapa."ucapnya tertawa
Gawat dia denger lagi ucapan ku semalam, padahal dia pingsan.
__ADS_1
"Ya itu kan semalam karena panik, bukan karena apa-apa, jadi jangan GR deh, yaudah sini aku suapin, tapi awas yaa jangan macem-macem."ucapku mengancam