Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.8)


__ADS_3

Mega terdiam. Bila sahabatnya tahu betapa tulus Kevin kepadanya, maka dia pasti akan sangat bahagia. Namun di atas kebahagiaan itu ada hati yang harus dikorbankan dan ada seorang gadis yang diam-diam menangisi perpisahannya.


Bukankah situasi ini sangat menjengkelkan?


"Jadi... jadi Kevin dan Asri-"


"Itu tidak terjadi. Ustad Vano telah menjelaskannya kepadaku jika Asri menolak menikah dengan Kevin, yakinlah." Potong Ustad Azam dari seberang sana.


Mega menghela nafas panjang, ia tidak tahu harus merasa lega atau tidak mendengar kabar ini.


Sahabatnya benar-benar memegang teguh janjinya yang telah ia buat.


"Jangan khawatir, sahabatmu sudah memiliki kehidupan yang baik. Jauh lebih baik dari yang kamu harapkan." Ustad Azam mencoba untuk menghiburnya.


Mega menjadi penasaran, ia ingin bertanya tapi segera dipotong oleh pengingat dari calon sang suami.


"Aku tidak akan memberitahumu masalah ini sekarang karena jika sudah waktunya, suatu hari nanti kamu akan tahu. Intinya dia baik-baik saja dan tidak kekurangan apapun, kamu bisa mempercayai apa yang aku katakan."


Mega menggigit bibirnya menahan rasa penasarannya yang tidak bisa direalisasikan. Bertanya juga percuma karena calon suaminya menolak menjawab semua pertanyaannya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ai ataupun Asri karena mereka baik-baik saja. Adapun hal yang pantas kamu khawatirkan dan pikirkan adalah mengenai hari akad kita besok. Aku harap acara resepsi kita tidak memakan banyak waktu karena aku ingin segera melaksanakan malam pertama-"


"Ustad Azam, ih!" Potong Mega panik dengan wajah cantiknya yang telah memerah terang seperti kepiting rebus.


Tidak hanya merah namun rasanya juga sangat panas seperti terbakar. Sakit?


Tidak, bukannya sakit ia malah merasakan sensasi manis yang terus meluap-luap dari dalam hatinya. Ini adalah sensasi manis dari indahnya jatuh cinta tanpa ikatan pacaran sebelum menikah.


"Ustad Azam jangan mesum, ih!" Protes Mega malu.

__ADS_1


"Lho, kok mesum, sih? Aku kan ngomongin yang baik-baik kalau besok saat malam pertama-"


Mega sungguh tidak tahan. Ia tidak ingin mendengar ucapan Ustad Azam selanjutnya dan segera menutup telpon.


"Udah yah, Ustad. Aku ngantuk dan ingin segera tidur, assalamualaikum!"


Dan tud,


Ia menutup sambungan.


Mega lantas menatap layar ponsel Mamanya dengan jantung berdebar sebelum memeluknya hangat. Merasakan perasaan hangat yang terus bermunculan dari dalam debaran jantungnya.


"Astagfirullah, ya Allah! Apa yang baru saja aku pikirkan! Bagaimana mungkin aku memikirkan yang tidak-tidak- ah, ini semua karena Ustad Azam! Jika dia tidak menyebutnya maka aku tidak akan pernah memikirkannya!" Dumel nya melimpahkan semua kesalahan kepada Ustad Azam, calon suaminya yang kini sedang asik tertawa di seberang sana.


Ustad Azam bisa membayangkan betapa marahnya Mega saat ini. Namun kemarahan yang Mega miliki bukanlah sebuah kemarahan yang serius, melainkan sebuah rajukan manja yang menggemaskan.


"Aku...aku harus segera tidur!" Putusnya seraya masuk ke dalam kamarnya.


Gaun ini akan menjadi saksi bisu pernikahannya besok dengan Ustad Azam. Gaun ini hanya akan ia gunakan sekali seumur hidup dan tidak akan pernah ia pakai kembali karena ia menggunakannya hanya untuk Ustad Azam seorang.


"Ya Allah, aku sangat gugup." Bisiknya mengadu.


"Aku sungguh tidak gugup, ya Allah." Bisiknya lagi dengan kedua mata yang paksakan untuk terpejam.


Awalnya memang sangat sulit tapi tidak butuh waktu lama ia akhirnya benar-benar masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh akan imajinasi tidak berujung. Menjelajahi dunia mimpi tersebut yang didominasi oleh mimpi-mimpi indah.


Sangat indah, sampai-sampai ia berharap bahwa alangkah indahnya bila dunia mimpi ini nyata.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Pukul 3 sore, rumah Mega yang telah dihiasi dengan berbagai macam bunga indah dan warna-warni khas acara sakral di datangi oleh banyak tamu undangan.


Mereka datang dengan sebuah senyuman lebar di wajah masing-masing, di beberapa tempat akan terdengar suara-suara penuh aura gosip khas Ibu-ibu ketika berkumpul. Namun, gosip yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang baik tanpa ada kata-kata yang menjelekkan.


Lalu, di beberapa tempat juga akan terdengar khas suara anak-anak yang sedang tertawa, saling mengejar dan membuat para orang tua berseru panik gemas ingin memborgol anak masing-masing agar jangan membuat ulah lagi.


Suasana sungguh hidup, penuh akan suara-suara kebahagiaan dan harapan manis pula dari tamu undangan.


Akan tetapi, suasana yang tadinya hidup tiba-tiba menguap entah kemana ketika melihat rombongan mobil panjang yang perlahan-lahan masuk ke halaman depan rumah Mega.


Penumpang rombongan mobil panjang itu satu persatu keluar dari dalam mobil. Menampilkan wajah-wajah sumringah yang sarat akan kebahagiaan.


"Apakah itu keluarga dari pengantin laki-laki?" Para tamu undangan mulai bertanya-tanya.


Mereka mengangkat kepala penasaran ingin melihat seperti apa wajah pengantin laki-laki tersebut. Jelas, dari segi materi mereka tahu jika keluarga calon pengantin laki-laki adalah orang yang sangat berada. Apalagi nama keluarga Ustad Azam sudah bukan orang asing lagi untuk beberapa orang.


Tapi tetap saja, di antara mereka akan ada beberapa orang yang tidak mengenal keluarga Ustad Azam. Mereka akan terlihat mencolok di beberapa tempat karena sangat penasaran ingin melihat seperti apa Ustad Azam itu.


"Mashaa Allah, tidak hanya berasal dari keluarga kaya raya, namun calon pengantin laki-lakinya pun adalah seorang Ustad muda dari pondok pesantren diluar kota dan ia juga telah menghafal Al-Qur'an sebanyak 30 juz! Mashaa Allah, Mega sangat beruntung bisa bertemu dengan laki-laki ini." Salah satu Ibu-ibu berdecak kagum melihat betapa beruntungnya Mega.


Sebagai seorang Ibu ia pasti merasa cemburu dengan Mega dan menginginkan situasi yang sama juga terjadi kepada putrinya. Namun apa daya, jodoh tidak ada yang tahu dan di samping itu putrinya tidak pernah sekolah di pondok pesantren sehingga keberuntungan Mega akan sulit terjadi pada putrinya, itulah yang Ibu ini pikirkan.


"Benarkah? aku menjadi lebih penasaran ingin melihat bagaimana rupa calon pengantin laki-laki itu." Yang lain ikut berbicara dengan leher terentang tinggi mengintip sang calon pengantin laki-laki yang masih belum keluar dari dalam mobil.


Sementara itu di dalam mobil Van hitam yang telah menarik perhatian banyak orang.


"Azam, apakah kamu siap, Nak?" Suara Papah menarik perhatian Azam dari kegugupannya.


Ustad Azam mengambil nafas panjang sebelum menghembuskan nya dengan segala macam tekat kuat di hati.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, Azam siap, Pah."


__ADS_2