Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Kemarahan Norin


__ADS_3

Shin merebahkan tubuh yang penuh dengan peluh di samping wanita yang sedang memejamkan mata tak sadarkan diri atas ulahnya. Shin menatap lekat wajah yang penuh dengan air mata. Lalu, ia mengecupi wajah itu.


"maafkan aku sudah menyakitimu. Aku sudah merenggut mahkota berharga mu. Aku tidak punya pilihan lain karena aku tidak mau kamu di miliki pria lain. sekarang kamu adalah milik ku seutuhnya dan hanya milik ku. kamu tau bukan jika aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Im promise."


Kemudian, Shin melepaskan ikatan tangan Norin yang telah ia ikat sebelum menggagahinya. Tampak memerah lalu ia menciumi kedua tangan yang memerah itu sebagai permintaan maafnya. Shin menutupi tubuh polos Norin serta dirinya dengan selimut. ia memeluk erat tubuh wanita yang sedang tidak berdaya lalu tertidur pulas.


Sinar matahari pagi menyelinap masuk ke balik tirai jendela kaca kamar dan menyilaukan mata wanita yang masih terpejam. Norin perlahan mengejapkan matanya tampak langit langit kamar berwarna putih di atas. Dengan kesadaran yang baru lima puluh persen ia merasa kepalanya terasa pusing sekali. Sambil memegang kepalanya ia memiringkan wajahnya ke arah kiri. Tampak wajah pria yang sangat dia benci sedang mendengkur halus dengan jarak beberapa senti dari wajahnya.


Norin mendapati tubuhnya yang polos sedang di peluk erat oleh pria yang sudah merenggut mahkotanya tadi malam. Norin masih ingat betul perbuatan bejat Shin padanya. Tubuhnya terasa remuk redam dan dibawah perutnya terasa berdenyut nyeri.


Norin merasa dunianya runtuh dan masa depannya hancur seketika. Norin menangis sambil membekap mulutnya karena ia tidak ingin pria yang sudah menghancurkan masa depannya ikut terbangun.


Norin mengalihkan tangan kekar itu dari tubuhnya perlahan. Sambil menahan rasa sakit Ia bangkit lalu memunguti pakaian nya yang teronggok di lantai. Pakaian yang sudah robek sana sini di pakai saja karena Norin merasa jijik melihat tubuh polosnya sendiri. Norin berjalan tertatih mendekati pintu. Ia ingin cepat meninggalkan kamar yang menurutnya neraka. Namun sayangnya pintu itu terkunci dengan rapat dan Norin sendiri tidak tau bagaimana cara membuka pintu yang terkunci secara otomatis tersebut.


Tidak ada yang dapat Norin lakukan selain menangis meratapi nasibnya yang malang. Sakit di tubuhnya mungkin akan cepat menghilang tapi sakit di hatinya sampai kapan pun tidak akan bisa lenyap begitu saja. Ia tidak akan pernah sudi memaafkan pria yang sudah merusaknya dengan tega. Norin menatap nyalang pada pria yang sedang tertidur pulas lalu berjalan mendekati pria tersebut dan menatapnya dengan penuh kebencian. Ingin rasanya Norin membunuh pria itu, membekap atau mencekiknya tapi ia segera beristigfar karena membunuh hanya akan menambah dosanya saja.


Tangan Shin meraba mencari sosok tubuh yang ia peluk di sampingnya sudah menghilang lalu ia mengejapkan matanya perlahan. Sudah tidak ada lagi sosok wanita di sampingnya. Shin panik, ia takut wanitanya kabur. Ia segera mengambil bo xer nya yang teronggok di lantai lalu memakainya.


Norin berdiri di atas balkon. Ingin rasanya ia mengakhiri hidup nya terjun di atas balkon tersebut. Namun, raut wajah sedih ibunya sudah tergambar di fikirannya.


"maaf kan Norin Bu, maafkan aku mas Rio. Aku harus bagaimana? hidupku benar benar sudah hancur."


Dua buah tangan kekar melingkar di perutnya. Sebuah kecupan hangat mendarat di pucuk kepala wanita yang terdiam sambil menatap kosong ke hamparan danau. Norin tidak berontak Ia membiarkan saja Shin menyentuh tubuhnya dan mengecupi bagian bagian tertentu. Menolak pun tak ada gunanya hanya akan menambah pria itu berlaku kasar saja padanya.


"Aku menginginkannya lagi sayang," bisik Shin di telinga Norin sambil memberikan sentuhan di daun telinganya.


Norin memejamkan matanya. Ingin rasanya ia berteriak tapi lidahnya terasa kelu. Tanpa banyak bicara lagi Shin mengangkat tubuh kaku itu dan membawanya ke dalam kamar. Norin tidak menolak dan tidak pula berontak. Ia masih memejamkan matanya dan berharap Tuhan mencabut nyawanya detik ini juga.


Shin memberikan sentuhan - sentuhan lembut di setiap inci tubuh Norin namun sentuhan - sentuhan itu tidak dapat membangkitkan gairahnya. Mata Norin masih terpejam ia merasa tubuhnya sudah mati membiarkan Shin berlaku sesuka hati di atas tubuhnya yang sudah mati rasa. Untuk yang kedua kalinya Shin menggagahi Norin dengan penuh gairah meskipun yang digagahi nya seperti mayat hidup ia tidak peduli.


Setelah mencapai pelepasannya, Shin merubuhkan tubuhnya di samping wanita yang masih saja terpejam. Air mata mulai keluar dari sudut mata yang terpejam, Norin menangis tanpa suara.


Shin menyadari itu. Ia mengecupi mata yang terus menerus mengeluarkan air mata tanpa henti.


"don't cry please, don't cry baby, please. I love you so much,"ucap Shin sambil mengecupi mata itu dan sesekali mengelap air mata dengan telapak tangannya.


Namun, air mata itu terus saja mengalir hingga deras. Tiba tiba tubuh Shin terdorong oleh sebuah tangan. Norin bangun dan menjerit lalu menangis histeris. Shin segera mendekap erat tubuh polos yang sedang menangis histeris bahkan mengamuk.


"Im so sorry, im sorry..... aku sayang kamu dan aku tidak akan meninggalkanmu sayang."


Cukup lama Norin menangis serta mengamuk dan cukup lama pula Shin mendekapnya erat seolah olah memberikan ketenangan pada wanita yang sudah ia sakiti.

__ADS_1


Hingga Norin merasa lelah dan air matanya mulai mengering ia pun tak sadarkan diri kembali. Shin panik melihat wanita yang sudah ia sakiti tak sadarkan diri.


"Come one, get up please." Shin cemas dan panik sambil menepuk nepuk pipinya. Namun, Norin belum saja sadarkan diri.


Shin merebahkan tubuh tak berdaya itu di atas ranjang lalu menutupinya dengan selimut. Ia mondar mandir bingung harus berbuat apa untuk mengatasi wanitanya yang sedang tak sadarkan diri.


"Apa aku bawa saja ke rumah sakit? tapi dia tidak sakit hanya pingsan saja."


Seketika ia teringat pada pelayannya." Aku minta bantuan bibi saja kalau begitu."


Shin berjalan cepat ke arah pintu. Namun, sampai di depan pintu ia berhenti dan baru menyadari bahwa dirinya masih berpenampilan polos tanpa pakaian di tubuhnya.


"f u c k i n s h i t, untung saja aku ingat," umpat Shin kemudian ia berbalik lagi lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Bibi....bibi....!" teriak Shin sambil menuruni anak tangga.


Bi Surti tergopoh gopoh menghampiri sang tuan yang berteriak memanggilnya.


"Iya tuan," sahut bi Surti di bawah tangga.


"Cepat ikut saya ke kamar."


Bi Surti mengikuti Shin dari belakang menuju kamar. Setelah tiba di kamar ia terkejut melihat ada seorang wanita yang sangat dikenalnya sedang memejamkan mata di atas ranjang tuannya.


"Dia pingsan Bi, tolong sadarkan dia."


"kalau gitu saya ambil minyak dulu ke bawah ya tuan?"


Shin mengangguk. Bi Surti bergegas keluar kamar untuk mengambil minyak aroma terapi.


"apa, apa perbuatan ku sangat menyakitimu sayang? kau tau aku melakukan ini karena aku sangat menyayangimu. Sebagai bentuk rasa cinta ku padamu."Shin berbicara sambil mengecupi punggung tangan Norin yang masih belum sadarkan diri.


Tak selang lama. Bi Surti datang sambil membawa minyak serta baju milik Norin yang tertinggal beberapa waktu yang lalu. Sebelum bi Surti menyadarkan Norin, ia hendak memakaikan baju terlebih dahulu. Bi Surti membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"astaghfirullah hal adzim,"ucap nya terkejut melihat banyak nya kissmark di tubuh wanita yang sedang memejamkan mata. Tanpa bi Surti bertanya pun ia sudah paham bahwa tak sadar kan diri wanita ini di sebabkan oleh perlakuan tuannya sendiri. Bi Surti menggelengkan kepalanya. Ia tidak abis pikir bagai mana bisa sang tuan menggagahi kekasihnya hingga tak sadarkan diri.


Setelah memakaikan pakaian, bi Surti mulai membubuhi minyak aroma terapi di hidungnya.


"bagai mana bi, apa ada tanda tanda sudah sadarkan diri?" tanya Shin yang baru saja selesai mandi.


"belum tuan."

__ADS_1


Namun tak lama, Norin mulai mengejapkan matanya perlahan. Ia mendapati bi Surti yang sedang tersenyum di sampingnya.


"Bi Surti...!" ucap Norin dengan suara parau.


"Alhamdulilah, non Norin sudah sadarkan diri."


"Sayang, kamu sudah sadarkan diri," ucap Shin sambil berjalan mendekati Norin. Namun, Norin mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah tahu ada Shin di belakang bi Surti.


"kalau begitu saya permisi dulu non, tuan." Surti hendak turun dari ranjang namun Norin mencekal lengannya.


"tolong jangan tinggalkan saya di sini bi, saya takut," ucap Norin dengan mata berkaca kaca serta bibir bergetar.


Shin terpaku di tempat melihat wanitanya merasa ketakutan padanya.


Bi Surti menatap iba pada wanita yang di ketahui nya sebagai kekasih tuannya lalu memegang tangannya.


"Non....!"


"to tolong antar kan saya pulang bi, saya mohon. sa saya tidak mau ada di kamar neraka ini.'


Shin mendekat dan hendak menyentuh tangan Norin namun tangannya di tepis kasar olehnya.


"Jangan sentuh saya lagi bajingan. Aku jijik sama kamu. Sangat jijik. Kau adalah pria brengsek yang sangat menjijikkan yang pernah aku temui di muka bumi ini," bentak Norin dengan mata nyalang.


Shin diam terpaku tanpa menimpali ucapan pedas Norin.


"Kau tau, aku sangat menyesal telah bertemu dengan pria bajingan sepertimu. Kehadiran mu di hidupku hanya membawa petaka bagi kehidupanku. Puas kamu puas telah merenggut mahkotaku, mahkota yang seharusnya ku berikan pada suamiku bukan pada pria bajingan sepertimu. Kau sudah menghancurkan hidupku menghancurkan masa depanku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan mu Shin dong Hoon," ucap Norin dengan mata nyalang serta nafas naik turun menahan amarah.


Shin masih terpaku. Ia terperangah mendapat makian dari wanita yang ia cintai. Sesakit itu kah hatinya atas perlakuan Shin terhadap wanita di hadapannya. Padahal niatnya melakukan itu hanya karena ia tidak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai selama ini.


Bi Surti jadi mengerti permasalahan yang sedang dihadapi oleh dua orang di hadapannya. Ia pun bingung harus memihak pada siapa.


"Bi..tolong saya, tolong antar saya pulang sekarang." Norin memohon pada wanita paruh baya tersebut.


Bi Surti melirik pada pria yang masih berdiri.


"tuan.....!"


"Antar kan saja dia pulang bi. Biar Tono yang mengantar kalian,"ucap Shin kemudian pergi dari hadapan mereka.


Norin menangis kembali di pelukan bi Surti. Hatinya benar benar sakit atas sikap dan perlakuan pria yang katanya sangat mencintainya. Sudah merenggut mahkotanya pun pria itu masih saja tidak ingin menikahinya.

__ADS_1


"Sabar ya non sabar...bibi ngga bisa berbuat apa apa. bibi cuma bisa mendoakan semoga suatu hari nanti tuan Shin menyesali perbuatannya dan bertanggung jawab atas masa depan non Norin."


__ADS_2