Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Sah


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Abdul serta kedua temannya masih sibuk membantu di rumah Abah. Sementara Shin berdiri di atas balkon kamarnya sambil memandang ke arah gedung yang hanya terlihat atapnya saja.


"Kamu sedang apa sayang? apa kau tau besok kita akan menikah. Aku akan memenuhi keinginan mu yaitu menikahi mu. Menjadi kan mu istriku dan aku menjadi suamimu. maaf kan aku yang bodoh ini, aku yang terlambat menyadari bahwa menikah itu suci, menikah akan menghindarkan kita dari dosa besar seperti yang sering aku lakukan padamu dulu. ya, dosaku sangat besar sekali."


Sementara di sebuah kamar. Norin sedang di temani oleh sang kakak serta sang ibu.


"Mulai besok puteri ibu yang cantik ini akan berganti status menjadi seorang istri. Apa kamu sudah siap untuk menjadi seorang istri nak?"


"Inshaallah ibu."


"Ingat pesan ibu, harus nurut apa kata suami, jangan membangkang, senang kan hati suamimu karena anak perempuan itu kalau sudah menikah surganya ada pada suami bukan orang tuanya lagi."


"Iya ibu."


"Dek, apa kamu benar benar tidak ingin tau terlebih dahulu gimana wajah suamimu itu?" goda Syifa.


Norin menggeleng.


"Nanti kamu nyesel gimana dek? calon suami kamu itu jelek banget lho, gendut lagi."Syifa sengaja berbohong hanya ingin mengetes adiknya saja.


Norin tersenyum tipis.


"Ngga apa apa kak, yang penting dia bisa menjadi imam yang baik untuk aku. Tidak ada manusia yang sempurna di di dunia ini kak dan aku menerima kekurangannya apa pun itu."


"Sampe segitu putus asanya kamu dek nyari jodoh. Di jodohkan sama pria seperti itu saja kamu mau."


"Kak, Abah dan Umi sama sekali tidak menjodohkan aku. Ini mutlak atas keinginan ku sendiri dan pilihanku."


"Syifa...jangan godain adik mu seperti itu, lebih baik sana bantu umi Husna apa saja yang perlu di siapkan untuk besok."


"Hi hi hi...ya ibu, ya sudah dek, kakak keluar dulu ya."


Norin mengangguk.


"Jangan di dengarkan apa kata kakakmu itu nak, inshaallah pilihanmu ini pria yang tepat. Dan ibu yakin kamu tidak akan menyesal," ucap Ibu menenangkan sang Puteri sambil mengelus lengannya.


Norin menyunggingkan senyum manis.


"Ibu ngga usah khawatir, seburuk apa pun calon suami Norin, Norin tidak akan membatalkan pernikahan ini Bu."


"Alhamdulilah ibu seneng mendengarnya nak."


Norin memeluk sang ibu dengan erat.


Malam berganti pagi.


Hari ini adalah hari yang telah di nantikan oleh pria tampan berkebangsaan Korea. Pria yang sudah dua bulan ini menjadi seorang mualaf. Hari dimana Shin akan menikahi seorang wanita yang sangat ia cintai.


Abdul serta ke dua temannya memandang kagum pada sosok pria tinggi dan juga tampan yang kesehariannya hanya memakai kaos dan kolor atau sarung namun pagi ini memakai kemeja putih, celana hitam dan di balut dengan jas hitam. Terlihat berwibawa sekali.


"Tutup mulut kalian itu, nanti masuk lalat," ledek Shin. Dengan tangan yang masih sibuk menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Aku baru sadar kalau kak Shin ini tampan sekali persis seperti artis Korea."Thoriq bergumam sambil pandangannya tak lepas dari Shin yang sedang membenahi rambut.


"Tapi lebih tepatnya seperti bos bos yang ada di film Drakor Thor." Akbar menimpali."


Sementara Abdul hanya menyimak ucapan kedua temannya saja.


"Ha ha, kalian terpesona oleh ketampanan ku kah?"


"Tapi kami pria normal kak, kami tertarik sama perempuan bukan laki laki." Abdul menimpali.


"Ha ha ha..!"


Sementara di sebuah kamar. Sang ibu, sang kakak serta umi Husna tidak berhenti memuji kecantikan calon pengantin wanita.


"Subhanallah Inay cantik sekali kamu nak, Umi jadi pangling sekali melihatmu."


"Iya dek, cantik banget kamu dek."


"Siapa dulu ibunya?"


"Ibu Aminah.....ha ha ha !" mereka tertawa bersamaan sementara Norin hanya tersenyum saja.


"Assalamualaikum..umi!" Salam seorang santri tiba tiba.


"wa'alaikum salam." Umi serta yang lainnya menoleh ke arah pintu.


"maaf umi, kata Abah sudah waktunya kak Inay dibawa ke masjid umi."


Shin sudah berada di dalam masjid dan duduk menghadap ke arah seorang penghulu yang akan menikahkan nya. Ada Rizal sebagai wali nikah dari Norin, pak Ali sebagai saksi dari pihak Shin dan Abah Ahmad sebagai sanksi dari pihak Norin.


Acara akad ini di hadiri oleh seluruh santri putera serta santri Puteri dan beberapa kerabat dekat.


Sang mempelai wanita di tuntun oleh ibu, umi Husna serta sang kakak memasuki masjid yang telah bersekat tirai yang cukup panjang sebagai pemisah antara wanita dan laki laki.


Norin di dudukan berdekatan dengan tirai dimana di balik tirai tersebut terdapat Shin yang akan melaksanakan ijab qobul.


Tak selang lama akad nikah pun di mulai.


"Saya terima nikah dan kawinnya Norin Inayah binti almarhum Faisal Nurdin dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta berlian dua puluh lima karat di bayar tunai." Dengan lantang Shin mengucapkan ijab qobul.


"Bagaimana saksi sah....sah....!"


"Sahhhh............!" teriak para hadirin.


Norin tersentak kaget. Ia mendongak kan wajahnya menatap ke arah tirai dimana laki laki itu duduk. Laki laki yang baru saja mengucapkan ijab qobul.


"Su...suara itu...su...suara tuan Shin. Di...dia yang menikahi ku...ibu?" ucapnya lirih dengan bibir bergetar. Sang ibu memegang telapak tangannya dengan erat agar puteri kesayangannya tetap tenang.


Kedua mata bulat Norin mulai berembun dan dalam hitungan detik cairan bening yang sudah menumpuk di bola matanya mengalir di kedua pipi mulusnya.


Sang ibu serta Umi Husna mengusap usap punggungnya dengan lembut menenangkannya dari tangisan.

__ADS_1


Tak selang lama pandangannya mulai kabur lalu gelap. Norin pingsan di pelukan sang ibu. Bu Aminah terkejut mendapati puteri nya pingsan.


"Teh Husna bagaimana ini Norin pingsan." Bu Aminah panik.


"Ya Allah Inay...bangun Inay." Umi Husna menepuk nepuk pipinya.


"Dek, bangun dek..!" Syifa mengguncang guncang lengangnya.


Acara akad sudah selesai namun Norin belum saja sadarkan diri. Dengan rasa tidak sabar Umi membuka tirai penyekat dan menyembulkan kepalanya.


"Rizal....mba mu pingsan, tolong angkat kan bawa pulang ke rumah." Umi meminta Rizal untuk membawa Norin ke rumah karena hanya Rizal lah yang boleh menyentuh Norin sebagai seorang adik. Karena panik umi melupakan bahwa Shin sudah menjadi pasangan halal bagi Norin.


Rizal tersentak mendengar sang kakak pingsan begitu pula dengan Shin. Rizal bergegas bangkit lalu membuka tirai. Shin ikut bangkit menyusul Rizal dari belakang. Rizal mendapati sang kakak sedang pingsan di pelukan sang ibu.


"Biar saya saja yang membawa Norin Zal, ibu, umi," ijin Shin tiba tiba.


"Saya sudah menjadi suaminya bukan?" lanjutnya.


Ibu serta Umi tersenyum.


"Iya nak Shin tolong antar kan Inay ke rumah," titah Umi Husna.


Shin mengangguk kemudian berjongkok lalu menggendong sang istri ala bridal style. Shin bergegas keluar dari masjid menuju rumah Abah Ahmad di ekori oleh Bu Aminah, Umi Husna, Syifa serta Rizal.


Shin memasuki kamar pengantin yang sudah di rias dan meletak kan nya di atas ranjang. Shin duduk di tepi ranjang sambil mengelus elus pipi wanita yang baru beberapa menit telah sah menjadi istrinya.


"Sayang....bangun, bangun sayang."


Tak lama umi Husna serta sang ibu memasuki kamar pengantin sambil membawa minyak angin lalu membaluri hidungnya dengan minyak tersebut. Tak lama kemudian Norin membuka matanya dan mendapati tiga orang yang sangat ia kenal dan salah satunya adalah pria yang sedang ia hindari selama ini. Norin menatap ke wajah pria yang juga sedang menatapnya. Seketika Norin memalingkan wajahnya lalu menangis di pelukan sang ibu. Shin yang sadar bahwa istrinya seperti itu karenanya bergegas keluar dari kamar. Shin tidak ingin membuat istrinya semakin shock melihatnya.


"Sabar ya nak Shin, saya yakin Inay pasti akan menerima pernikahan ini. Tunggu saja pasti tidak akan lama. Biarkan saja dulu dua ibunya menenangkannya. Nak Shin ikut dengan saya saja ada beberapa relasi yang ingin saya kenalkan dengan nak Shin."


"Iya Abah."


Kemudian Shin serta Abah keluar dari rumah menuju para tamu yang sudah duduk di kursinya masing masing.


Visual



Norin Inayah





Shin Dong Hoon


__ADS_1



__ADS_2