
"Hem, ini tidak keras." Jari-jariku menembus ke dalam tanah dengan mudah dan sebuah sensasi dingin mulai merambat melalui jari-jariku.
"Sepertinya ini akan menyenangkan." Aku mulai menggerakkan jari-jariku.
Menggali tanah dengan semangat berharap bisa segera menemukan kentang yang disukai hampir semua orang.
"Jangan seperti ini," Aku terkejut dan langsung mengangkat kepalaku melihat seorang laki-laki yang berjarak mungkin 3 meter jauhnya dariku.
Itu adalah laki-laki asing dan aku tidak pernah bertemu sebelumnya dengan dia, kecuali dia bagian dari kelompok yang datang dengan Ustad Azam.
Melihatnya sekilas, aku segera menundukkan kepalaku melihat tanah. Menarik kedua tanganku dari dalam tanah dan menyembunyikannya dari pandangan laki-laki itu.
"Jika kamu menggunakan tangan kosong untuk menggali tanah maka tanganmu akan terluka." Katanya masih diam di tempat tanpa ada pergerakan.
Aku tahu tanganku akan terluka, tidak, sebenarnya tanganku sudah terluka tapi bukan luka yang serius. Ini hanya luka ringan karena tidak sengaja bergesekan dengan batu tadi.
"Tapi aku tidak punya sarung tangan untuk menggali tanah." Kataku kepadanya.
Jika ada mungkin aku tidak akan menggunakan tangan kosong untuk menggali tanah.
"Kamu bisa menggali tanah tanpa menggunakan sarung tangan." Dari tempatku duduk, aku bisa mendengar dia bergerak.
Aku mengintipnya dari sudut mataku dan melihat jika dia sedang duduk berjongkok di depan sebuah pohon kentang.
"Ikuti aku menggali dengan ranting pohon ini." Katanya seraya menggali tanah dengan ranting pohon.
Dia hanya menggali beberapa menit saja dan dua atau tiga kentang keluar dari lubang.
"Aku tidak sempat memikirkannya." Kataku malu.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah menggali dia lalu menarik pohon kentang itu hingga semua kentang yang ada di dalam tanah ikut keluar.
Ini sangat praktis dan mudah.
__ADS_1
Kenapa sebelumnya aku tidak memikirkan langkah ini?
Dia membersihkan kentang yang dicabut dengan cepat dan menaruhnya ke dalam keranjang sayur ku tanpa melirikku sama sekali.
"Sekarang kamu bisa melanjutkan lagi dengan menggunakan ranting pohon ini." Dia menaruh ranting pohon yang dia gunakan di samping keranjang sayur ku.
Setelah itu dia berjalan menjauh dariku.
"Terimakasih." Kataku kepadanya.
Dia hanya mengangguk ringan dan kembali menggali tanah lagi tapi kali jaraknya cukup jauh dariku.
Yah, ini lebih baik karena dengan begini aku tidak akan risih di sini.
Setelah itu aku menggunakan metodenya untuk mendapatkan kentang lebih cepat. Meskipun tidak secepat laki-laki itu tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Bayangkan saja, jika aku menggunakan kedua tangan maka prosesnya akan sangat lambat dan melelahkan.
Tidak terasa waktu sudah berlalu banyak dan keranjang sayur ku hampir terisi penuh. Mungkin menggali satu pohon lagi bisa memenuhinya.
"Ugh.." Kakiku rasanya mati rasa.
Hah, sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dari mulai tangan, gamis, hingga kaus kakiku kini telah kotor karena tanah.
"Apa kamu tidak apa-apa?"
Deg
Ini dingin, suara yang telah membasahi pendengaran ku selama bertahun-tahun lamanya. Suara yang sering membuat ku menjatuhkan air mata di malam-malam sunyi.
Ustad Azam ada di sini. Aku tidak berani mengangkat kepalaku dan menatapnya. Daripada menatapnya, aku lebih memilih berpura-pura tidak mendengar pertanyaannya dan bersikap seolah tidak ada siapapun di sini.
Untuk mendukung sandiwara, aku menggunakan kedua tanganku untuk memijat kedua kakiku. Sejujurnya ini juga aku lakukan agar mati rasa di kakiku segera menghilang.
"Mega, apa kamu baik-baik saja?" Dia kini sudah ada di sampingku entah sejak kapan.
__ADS_1
"Oh..Ustad," Aku pura-pura baru menyadari kedatangannya.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya sedikit kesemutan." Jawabku memaksakan senyum.
Dia lalu duduk di sampingku, agak menjaga jarak tapi tidak terlalu jauh. Mengenai ekspresi wajahnya, aku tidak bisa melihatnya karena yah.. jujur aku tidak berani melakukannya. Aku takut menemukan wajah dingin itu lagi.
"Kesemutan? Apakah masih sakit?" Dia bertanya lagi.
Memangnya kenapa jika masih sakit?
Ini tidak seperti dia akan membantuku atau memijat kakiku. Ah..apa yang aku pikirkan hahaha..
Jangan terlalu berharap, Mega!
"Tidak, ini sudah tidak sakit lagi." Aku mencoba menggerakkan kakiku tapi mati rasanya masih ada.
Ini..berapa lagi aku harus menunggu? Kenapa kakiku tidak mau bekerja sama di saat waktu yang paling genting, ah!
"Jika masih sakit kamu tidak perlu menyembunyikannya."
Oh, memangnya Ustad siapa sampai aku harus menyembunyikannya! Seolah-olah kamu sangat penting untukku!
"Ini sungguh baik-baik saja." Kataku meyakinkan.
"Tidak, aku akan memanggilkan seseorang untuk membantumu."
Oh, jadi kamu sedari tadi bersikeras ingin melemparkan aku kepada orang lain?
Ya Allah, Ustad Azam..apa di dalam hatimu tidak ada sedikitpun rasa belas kasih?
"Tidak, perlu-"
"Sasa, kemari lah." Dia memanggil Kak Sasa ke sini.
__ADS_1
Ah..jadi begitu. Dia menggunakan aku sebagai batu loncatan agar bisa berduaan dengan Kak Sasa. Hahaha..