
...اِنَّ الْاِ نْسَا نَ خُلِقَ هَلُوْعًا ...
...Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh....
...(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 19)...
...🍁🍁🍁...
Ai tidak tahu apa yang salah dengan Sari. Karena sejak keluar dari kamar mandi wajah Sari menjadi suram dan cemberut. Dia menolak berbicara dan hanya sesekali menggerutu tidak jelas.
Ai bukanlah tipe orang yang banyak bicara dan bukan juga tipe orang yang pandai menghibur. Jadi dia lebih banyak memperhatikan tanpa mengatakan apapun kepada Sari. Tapi Herlina, Sulastri, dan Asri berusaha menghibur Sari. Mereka mengatakan kata-kata singkat seperti,
"Jangan terlalu dipikirkan,"
"Dia tidak serius,"
"Maafkan lah dia," Dan seterusnya.
Tapi respon Sari hanya gerutuan tidak jelas tanpa niat memasukkan kata-kata mereka ke dalam hatinya. Malah Sari justru beberapa kali melihat ke arahnya, membuat Ai bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Ai, apa kamu dan Mega berteman?" Tanya Sari seketika membuat yang lain panik.
"Sudahlah, lupakan saja masalah ini. Dia tidak serius melakukannya." Kata Herlina membujuk Sari.
Tapi Sari tidak mau mendengar dan malah menyerang balik Herlina dengan kata-kata pedas.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku melupakannya di saat harga diriku saja baru terinjak-injak?! Kamu enak karena tidak berada di posisi ku tadi dan hanya bisa menjadi penonton!" Katanya kesal.
Asri tidak suka dengan cara bicara Sari,"Anggap saja ini pelajaran untuk kamu agar tidak asal berbicara lagi. Dan maksud Mega baik kok sama kamu, dia mengingatkan kamu agar tidak melewati batas lagi di masa depan-"
"Oh jadi kalian lebih suka temenan sama gadis sombong itu?" Potong Sari semakin ngelunjak.
Yang lain menghela nafas berat. Mereka pikir Sari terlalu kekanak-kanakan dan suka memperpanjang masalah yang dia ciptakan sendiri.
"Ada apa dengan Mega? Apa kalian bertengkar?" Suara Ai mengalihkan perhatian Sari.
Mega, dia sudah mengingat siapa gadis ini. Mega adalah gadis yang pernah berseteru dengannya di sekolah taman kanak-kanak dulu. Itu hanya pertengkaran anak kecil biasa tapi efeknya sampai harus melibatkan kedua orang mereka. Setelah kejadian itu Ai tidak diizinkan kembali ke sekolah taman kanak-kanak dan belajar di rumah sebelum masuk sekolah dasar.
Sejak itu pula dia tidak pernah bertemu dengan Mega lagi.
"Ya, teman kamu itu sangat sombong. Dia mendorongku hingga terjatuh dan mengejek ku dengan kata-kata kasar. Katakan dengan jujur Ai, apa kamu masih mau berteman dengan orang seperti itu?" Kata Sari mengadu.
Intinya Ai tidak boleh berteman dengan siapapun kecuali mereka.
"Um.." Ai ragu menjawab.
Dia ingat pertengkarannya dengan Mega 11 tahun yang lalu tapi dia juga ingat kebaikan Mega hari ini. Mulai dari pembelaannya saat dipojokkan Frida hingga kebaikannya memberikan Ai meminjam mukenanya saat sholat Zuhur tadi siang.
Bunda dan Ayah bilang daripada mengingat keburukan seseorang, lebih baik mengingat kebaikan seseorang. Lagipula pertengkaran itu terjadi saat mereka masih kecil dan belum mengenal dunia sehingga Ai tidak bisa menganggapnya serius.
Dia yakin, Mega sudah berubah menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kamu masih mau berteman dengan orang yang seperti itu?" Sari menekan Ai.
"Aku tidak akan menolak berteman dengan siapapun jika mereka tidak menolak ku." Artinya dia ingin berteman dengan Mega.
Sari berdecak kesal.
"Aku bilang dia itu sombong dan berprilaku buruk-"
"Bunda dan Ayah bilang untuk selalu mengingat kebaikan orang daripada mengingat keburukan orang. Karena bisa jadi keburukan yang mereka lakukan itu terjadi karena sebuah kekhilafan sedangkan kebaikan yang mereka lakukan adalah warna hati mereka yang sebenarnya. Urusan hati, kita tidak bisa menebaknya tapi bukan berarti tidak bisa berharap. Aku yakin Mega melakukan itu..bukan karena dia bermaksud buruk kepadamu. Dia pasti-"
"Orang kaya sama saja, huh! Daripada berteman dengan kami yang miskin kenapa kamu tidak pergi saja berteman dengannya yang sesama orang kaya!" Potong Sari marah.
Dia menatap Ai bias seolah melihat seseorang yang membuat iritasi mata. Intinya dia sangat marah saat ini. Dia tidak mau Ai berteman dengan orang lain di samping itu dia juga marah mendengar pembelaan Ai kepada Mega.
Dia tidak bisa menerimanya.
Asri ingin mengatakan sesuatu kepada Sari tapi ketika melihat wajah sabar Ai, dia langsung mengurungkan niatnya. Dia mundur ke belakang dan berjalan di sisi Ai. Jujur, dia lebih suka berteman dengan Ai saja daripada harus terjebak dengan orang se'egois Sari.
Setelah sampai di asrama mereka langsung mengambil mukena, sajadah, dan Al-Qur'an sebelum pergi ke masjid. Di perjalanan menuju ke masjid mereka bertemu banyak santriwati yang tidak ingin datang terlambat. Mereka berbicara ringan, tertawa kecil, dan ada pula yang tidak berbicara sama sekali seperti kelompok Ai.
Begitu sampai di masjid mereka langsung naik ke lantai dua sambil berharap mendapatkan saf paling depan. Karena jika berada di saf paling depan mereka bisa melihat ke lantai bawah melalui pagar besi yang ada di depan. Ini adalah bonus yang sangat menggoda untuk santriwati yang pemalu.
Bahkan Ai saja tidak bisa menahan godaan ini. Dia ingin berada di saf paling depan agar bisa melihat Ustad Vano. Hem, dia juga ingin mendapatkan ridho Allah tapi juga ingin melihat Ustad Vano menjadi imam lagi.
Tapi sayang, mereka telat atau lebih tepatnya orang-orang yang terlalu cepat datang. Barisan di depan sudah terisi penuh menyisakan barisan tengah dan belakang.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...