Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 10.3)


__ADS_3

"Aishi Humaira, bisa bicara sebentar?" Suara lembut itu menarik Ai dari lamunannya.


Dia terlalu terkejut dan tidak siap bertemu langsung dengan gadis berubah yang dirumorkan dekat dengan Ustad Vano.


"Mau ku temani?" Mega mendekati Ai.


Ai tersenyum lembut, dia mencoba menyamarkan kegugupannya melalui senyuman yang terukir indah di bibirnya.


"Tidak perlu, Ga. Aku bisa sendiri." Katanya menolak.


Mega mengangguk ringan. Dia lalu beralih menatap gadis berparas cantik yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari Ai.


"Bisa, Kak." Kata Ai merespon Almaira agak malu.


Dia berjalan melewati teman-temannya yang lain untuk mendekati Almaira di depan pintu masuk kamar Fatimah RA.


"Terimakasih, aku senang bertemu denganmu. Mau berbicara di luar?" Bulu matanya yang panjang dan lentik mengerjap ringan memperhatikan banyak pasang mata yang sedang mengawasi.


"Di sini terlalu ramai dan tidak nyaman untuk membicarakan masalah pribadi." Alasan Almaira cukup masuk akal.


Ai mengerti.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti keputusan Kakak saja." Katanya tidak ambil pusing, namun ini hanya diluar saja karena faktanya dia sangat gugup.


Ada banyak kemungkinan besar di dalam kepalanya saat ini mengenai kedatangan tidak terduga Almaira. Secara garis besar dia tahu kedatangan Almaira di sini pasti berhubungan dengan Ustad Vano, laki-laki yang Ai cintai bertahun-tahun lamanya.


"Baiklah, kalau begitu ayo ikuti aku." Almaira mengambil langkah lebih dulu keluar yang diikuti oleh Ai dari belakang.


Sepanjang jalan dia menatap punggung ramping Almaira di depan. Tidak heran orang-orang memujinya dan tidak heran pula Ustad Vano memilihnya. Almaira cantik, sikapnya lembut, dan dia juga cerdas tapi tetap rendah hati.


Ketika berbicara dengan Ai tadi sikapnya tidak menunjukkan rasa senioritas seperti Frida. Dia rendah hati dan sederhana, membuat orang-orang mudah merasa nyaman bila dekat dengannya.


Jujur saja, Ai merasa sangat malu berhadapan dengannya secara langsung. Dulu dia ingin sekali melihat siapa gadis beruntung yang bersanding dengan Ustad Vano. Namun sekarang setelah Allah SWT mempertemukannya dengan Almaira, dia tiba-tiba menjadi malu sendiri dan mulai mempertanyakan kualitasnya sendiri yang begitu lancang.


Ai malu ya Allah. Batin Ai miris.


"Apa Aishi mengenalku?" Mereka saat ini sedang berjalan menyusuri petak-petak sawah yang sebentar lagi memasuki masa panen.


Ini adalah hasil kerja keras para santri yang telah berjuang keras menanam dan merawatnya.


"Aku hanya tahu nama Kak Almaira tapi kita tidak pernah bertemu. Jadi, apakah ini bisa dikategorikan sebagai aku mengenal Kakak?"


Dia telah mendengar banyak tentang Almaira, sangat banyak. Semua orang mengaguminya dimana-mana entah itu santri laki-laki ataupun santri perempuan.

__ADS_1


Almaira tertawa kecil. Bahkan, di saat tertawa pun dia sama sekali tidak menghilangkan citra lembutnya yang anggun.


"Aishi kamu sangat polos."


Almaira tiba-tiba berbalik menatap langsung Ai yang selama ini patuh mengekorinya kemana-mana.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita berkenalan agar kita saling mengenal. Di masa depan nanti bila kebetulan bertemu kita bisa saling menyapa untuk memperluas ikatan tali silaturahmi," Dia lalu mengulurkan tangan kanannya yang putih bersih enak dipandang berbeda jauh dengan milik Ai yang terkesan seperti kekurangan daging.


Ai sejenak terdiam memperhatikan uluran tangan Almaira. Di dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan, bagaimana bisa sebelumnya dia bisa menjadi begitu kejam menginginkan laki-laki yang sudah dimiliki oleh gadis baik ini?


Namun, bukankah hati juga tidak bisa memilih akan berlabuh kepada siapa?


Hati egois dan Ai juga mengakuinya. Hanya saja dia juga cukup tahu diri sehingga seringkali menarik ulur perasaannya. Sekarang sudah seperti ini, apakah ia masih bisa melambungkan harapannya kepada Ustad Vano di saat dia tidak menemukan jalan untuk harapannya?


"Aishi?" Panggil Almaira menarik Ai dari lamunannya.


"Ah.." Ai tersadar, dia tersenyum kecil sebelum menyambut uluran tangan Almaira.


"Namaku adalah Almaira Babgie, calon istri sah Ustad Vano." Suara Almaira sangat lembut, nadanya ceria tanpa ada nada menyindir ataupun permusuhan. Seolah-olah kata-kata dikatakan bukan untuk memperingati Ai.


Hati Ai tiba-tiba berdenyut sakit.

__ADS_1


Bersambung..


Maaf up sangat-sangat telat 🍁


__ADS_2