Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.1)


__ADS_3

Samar, Ai merasakan sebuah usapan lembut diwajahnya. Dia begitu terhanyut oleh rasa hangat yang hidup di wajahnya. Membuat Ai tergoda untuk membuka matanya tapi pada saat yang sama enggan untuk membuka matanya.


"Apa yang harus aku lakukan, Ai?" Ada bisikan lembut di telinganya.


Ustad Vano?


Ai yakin ini adalah suara Ustad Vano tapi dengan versi yang lebih lembut dan rendah tidak seperti biasanya yang dingin.


Ustad Vano,


Ai bertanya-tanya jika ini adalah suara Ustad Vano maka sentuhan lembut di wajahnya tadi apakah mungkin juga miliknya?


"Aku tidak ingin terus seperti ini karena rasanya sungguh menyiksa. Ai, apa kamu merasakan apa yang aku rasakan? Jika kamu juga merasakannya maka mengapa kita harus terus seperti ini?" Dia berbisik lagi.


Jika ini tentang rindu maka alangkah menyiksanya rasa itu. Selama 12 tahun Ai terjebak dalam rasa rindu yang membingungkan. Apalagi kini mereka bertemu lagi setelah sekian lama berpisah, ya Allah..betapa Allah tahu Ai ingin berlari memeluk Ustad Vano.


"Ya Allah, untuk harga sebuah 'pantas' dan 'layak' agar bisa bersama, apa kami harus melewati semua ini?"


Deg


Kepala Ai langsung berdengung tidak nyaman dan perlahan sebuah cahaya menusuk pengelihatannya. Itu sangat silau, membuat Ai mengernyit tidak nyaman.


"Ai, kamu bangun?"


"Hem?" Ai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk mengepaskan cahaya lampu yang masuk.


"Dimana aku?" Seingatnya dia tadi ada di dalam masjid untuk menjalankan hukuman.


Apakah dia pingsan?


Pikiran Ai ditarik kembali oleh nyeri ditangan kirinya. Di tangan kirinya sudah terpasang jarum infus yang menyisakan setengah cairan, rupanya dia telah pingsan lebih dari 3 jam?

__ADS_1


"Kamu ada di ruang kesehatan pondok pesantren dan sekarang sudah pukul 1 dini hari. Ai, kamu telah membuat panik banyak orang! Apa kamu tahu berapa lama kamu pingsan?"


Asri dan Mega telah lama menunggunya untuk bangun. Kedua mata mereka terlihat memerah karena menahan kantuk.


Ai merasa tenggorokannya agak kering.


"Minumlah dulu sebelum berbicara." Mega membantu Ai meminum air putih yang sengaja disiapkan untuk Ai ketika bangun.


"Bismillah," Ai menyesap minumannya.


"Sudah baikan?" Tanya Mega perihatin melihat keadaan Ai.


Ai tersenyum,"Alhamdulillah, aku sudah baik-baik saja."


"Kamu sudah pingsan 5 jam lamanya. Kami sangat takut kamu tidak bangun-bangun dan hampir berpikir jika kamu jatuh koma. Tapi untungnya dokter yang bertugas menjelaskan kepada kami bahwa kamu baik-baik saja dan butuh waktu untuk memulihkan diri."


Setelah membersihkan masjid tadi Mega dan Asri langsung bergegas kemari ingin melihat Ai. Mereka sangat terkejut ketika melihat keadaan Ai dengan selang infus di tangan kirinya. Mereka tidak menyangka jika kondisi Ai akan separah ini karena tadi magrib Ai masih baik-baik saja tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda akan jatuh sakit.


"Apa yang dokter katakan memang benar. Aku baik-baik saja dan kalian tidak seharusnya khawatir." Karena dia selalu mengalami fase ini ketika sedang berhalangan.


"Tapi tetap saja menakutkan melihat mu pingsan selama itu, Ai." Kata Asri tidak berlebihan.


"Lain kali jika kamu memang kurang sehat maka jangan sungkan untuk mengatakannya agar kejadian ini tidak terulang lagi." Peringat Mega tidak mau ini terulang lagi.


"Benar Ai, jangan karena kamu harus menjalankan hukuman dari Ustad Vano membuat kamu harus memaksakan diri untuk tidak memperdulikan keadaan tubuh kamu." Asri merasa semua ini adalah kesalahan Ustad Vano. Jika dia tidak menghukum mereka maka malam ini Ai tidak akan terbaring di sini dengan selang infus di tangannya.


"Ini bukan salah dia, sungguh. Tapi ini salahku karena terlalu memaksakan diri."


Ustad Vano, dia masih menyimpan tanya akan suara-suara samar yang dia dengar saat tidak sadarkan diri tadi.


Dia yakin itu adalah milik Ustad Vano tapi disaat yang sama dia takut terlalu berharap.

__ADS_1


"Aku pikir ada sesuatu yang aneh dengan Ustad Vano." Kata Mega tiba-tiba membuka topik.


Tiba-tiba topik mereka beralih membicarakan tentang Ustad Vano.


Ai tidak bisa memungkiri bahwa dia juga gugup sekarang. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepada mereka apakah Ustad Vano sebelumnya di sini.


Ini sudah cukup, sudah sangat cukup untuk mengkonfirmasi semua keingintahuan Ai.


"Ada apa dengan Ustad Vano, kenapa kamu berpikir jika dia aneh?"


Mega tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir sejenak sebelum menceritakan semuanya.


"Kak Frida bilang kamu menyukai Ustad Vano dan sengaja membuat masalah untuk menarik perhatiannya. Aku pikir ini salah besar karena setiap ada masalah dia kebetulan selalu ada di tempat kejadian. Justru, aku malah berpikir jika Ustad Vano lah yang sering kali mendekati kamu. Karena agak heran juga melihat dia selalu ada di tempat kejadian walaupun yah dia bebas kemanapun pergi berhubung dia adalah Ustad di sini. Tapi dari sisi manapun Ustad Vano memang terkesan mencurigakan setiap kali bertemu dengan kamu."


Mega sangat yakin dengan pikirannya mengenai sikap Ustad Vano yang cukup terang-terangan mendekati Ai. Padahal setiap kesalahan yang mereka buat sejujurnya tidak berat tapi selalu diberikan hukuman yang tidak main-main oleh Ustad Vano.


"Iya Ai, aku sebenarnya ingin mengatakan ini dari tadi siang tapi aku takut kamu gak percaya sama apa yang aku bilang." Kata Asri ikut-ikutan.


Sejak awal melihat Ustad Vano dan Ai, dia selalu merasa jika mereka berdua saling mengenal namun entah mengapa Ustad Vano selalu memberikan bahu dingin. Selain itu Ustad Vano kerap kali muncul setiap kali mereka membuat masalah dan setiap masalah selalu diberikan hukuman yang tidak main-main. Dan yang paling mengherankan adalah setiap hukuman dilaksanakan batang hidung Ustad Vano selalu muncul entah darimana. Membuat para santriwati yang mengawasi mereka menjalankan hukuman diam-diam tersenyum malu. Akan tetapi Ustad Vano ujung-ujungnya akan mendekati Ai.


Membuat kesan mereka kepada Ai menjadi lebih buruk karena terbakar cemburu. Hei, ini baru dua hari mereka tinggal di sini dan sudah menyulut api permusuhan. Lalu, bagaimana jika 1 bulan, 1 tahun, atau beberapa tahun lagi?


Bukankah itu akan menjadi kobaran api yang sangat besar?


"Lalu tadi saat kamu pingsan di dalam masjid. Apa kamu tahu orang pertama yang berlari mendekati kamu siapa?"


Nafas Ai tertahan tangannya yang tersembunyi di dalam selimut saling meremat menahan gugup.


"Siapa?" Bolehkah dia berharap?


"Ustad Vano. Dia adalah orang pertama yang berlari mendekati kamu ketika jatuh pingsan. Percaya atau tidak dia sangat marah melihat kamu tiba-tiba jatuh pingsan."

__ADS_1


Bersambung..


Kalau NovelToon belum mengkonfirmasi masalah gaji saya di sini maka fiks, saya akan pindah novel ini juga ke lapak si kuning. Percuma kan capek-capek begadang tapi gak dapat apa yang diharapkan?


__ADS_2