Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.4


__ADS_3

"Presdir..apa Papa mengenalinya? Apa maksud Papa memanggilnya Presdir?" Bisik wanita glamor itu mulai merasa tidak nyaman apalagi Safira terus saja menatapnya dengan dingin.


Kulit kepala suaminya terasa mati rasa. Dalam skenario terburuknya di hidup ini, dia tidak pernah berharap akan terlibat konflik dengan presiden direktur perusahaan tempatnya bekerja sendiri. Entah cerita apa lagi yang akan menunggunya di perusahaan nanti.


"Apa kamu bodoh atau idiot? Dia adalah presiden direktur di kantor tempat ku bekerja! Apa kamu tahu artinya ini? Artinya kita sudah selesai karena kebodohan kalian berdua!" Balas suaminya tajam bercampur marah.


Wanita glamor itu panik. Kedua telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia tahu apa artinya itu, orang yang mereka hadapi sekarang adalah orang yang tidak seharusnya mereka singgung.


"Pak Presdir dan Nyonya Safira kejadian hari ini adalah kesalahan kami. Ini salah paham di antara anak-anak dan kita sebagai orang tua tidak seharusnya membawa masalah mereka dengan serius." Ucap suami wanita glamor itu dengan senyum bisnis di wajahnya.


Di keningnya yang berkerut muncul keringat dingin dimana-mana. Bahkan, kedua tangannya yang besar dan mulai kapalan karena terlalu lama memegang pulpen saling meremat untuk meredakan kecemasannya.

__ADS_1


Ali diam, namun sorot matanya yang dingin dan tajam seolah menunjukkan bahwa berbicara sekarang tidak ada gunanya.


Sayangnya Mega tidak tahu situasi menegangkan apa yang orangtuanya hadapi. Dia tidak terima dengan kata-kata Papanya sehingga dia berteriak mengeluhkan semua perlakuan Rina dan Ai kepadanya.


"Apa yang Papa katakan! Mereka telah menyakiti Mega di kelas! Bahkan si monster itu juga menyiram pakaian Mega dengan coklat yang-"


"Diam lah dasar manja!" Potong wanita glamor itu marah.


Safira tampak menutup mata dengan interaksi mereka bertiga karena yang paling penting sekarang adalah keadilan untuk anaknya. "Bagus bila kalian menyadari bila ini adalah kesalahan kalian. Tapi salah paham? Berbicaralah dengan jelas dimana letak kesalahpahaman masalah ini disaat anakku direndahkan oleh istri dan anakmu. Bukankah kamu bilang masalah ini tidak seharusnya dibawa serius? Tapi jelas-jelas kamu dan istrimu membawanya sangat serius. Kamu merendahkan anakku dan bahkan memanggilnya cacat atau monster. Setelah semua apa kalian pikir aku akan melepaskan semuanya begitu saja?" Tanya Safira dingin.


Tidak hanya kedua orang tua Mega saja yang terdiam namun Ali juga dibuat terperangah oleh istrinya. Penampilan dingin nan tajam ini terakhir kali dia lihat 10 tahun yang lalu ketika Safira berdebat dengan Reina untuk membersihkan nama Annisa.

__ADS_1


Jelas saja, perdebatan mereka memicu keributan di dalam pondok pesantren karena biasanya pondok pesantren sangat damai dan tenang, tidak ada yang pernah bertengkar atau membuat keributan seperti kejadian hari itu.


"Nyonya.." Wanita glamor itu meneguk ludahnya kasar.


"Kami tidak tahu bila dia adalah anak Anda, bila kami tahu masalah ini tidak akan sampai.. sampai.."


"Oh, jadi kenapa bila Ai adalah anak kami? Apa kamu pikir kelas ekonomi seseorang bisa kamu jadikan sebagai ukuran betapa mampu dirimu menjatuhkan mereka? Tolong, jangan membuat ku tertawa. Di atas langit masih ada lagi langit yang lain, apakah kamu tidak pernah mempelajari ini sebelumnya?" Tanya Safira sinis.


"Tidak.. tidak, Nyonya. Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan itu." Wanita glamor itu membantah.


"Jadi, apa kamu pikir pendengaran ku dan suamiku tidak berfungsi? Dari halaman depan kami sudah bisa mendengar teriakan mu menyumpahi kami dan anak kami dengan sebutan cacat atau monster. Kamu juga mengatakan bila kami adalah orang-orang yang suka mengemis di perempatan. Hal-hal yang kamu katakan tidak bisa ditarik kembali sama seperti kamu meludah ke tanah dan menjilatinya kembali, bukankah itu menjijikkan?" Tanya Safira tajam.

__ADS_1


__ADS_2