Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Kelakuan Shin


__ADS_3

Norin bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, ia menghampiri pintu kamar dimana Shin tidur lalu membukanya perlahan. Nampak pria itu masih bergumul dengan selimut. Entah jam berapa ia tidur tadi malam.


Sebuah tangan memegang sebelah bahunya membuat Norin terperanjat lalu menutup pintu itu dengan keras.


"ish kamu zal, ngagetin aja." wajah Norin berubah jadi panik. Ia telah kepergok adiknya tengah mengintip ke dalam kamar yang di tempati oleh Shin.


Rizal tersenyum melihat kepanikan kakaknya itu." lagian mba ngapain ngintip di pintu kayak mau maling aja."


"mba bukannya ngintip tapi cuma mau mastiin aja itu orang udah bangun apa belum?" Norin berbohong.


"masaaa....kalau udah bangun pasti orangnya keluar kamar mba."


"udah ah, malas mba berdebat sama adik yang suka kepo." Norin beranjak pergi meninggalkan pria bongsor yang menatapnya dengan tanda tanya.


Kelakuan Norin membuat pria yang sedang tidur itu terusik. Ia mengejapkan matanya yang masih terasa lengket sekali karena Shin baru bisa tidur jam setengah tiga.


Shin menyeret kakinya menuju kamar mandi. ia sudah tidak kuat menahan air yang sudah memenuhi kantong kemihnya.


Sampai di depan pintu kamar mandi, daun pintu itu tertutup dan terkunci. Shin kesal sekali lalu ia menggedor gedor pintu itu tanpa peduli pada siapa yang ada di dalamnya.


Sementara di dalam kamar mandi. Norin baru saja hendak membuka bajunya. Namun, ia urungkan setelah pintu di gedor keras dari luar oleh seseorang.


"mau apa sih si Rizal ganggu aja." ucap Norin kesal.


Kemudian ia membuka pintu itu dengan kasar.


"ngapain sih zal.......!"


Norin menyembulkan kepalanya keluar dan nampak Shin tengah berdiri dengan wajah meringis sambil dua tangannya memegang adik kecilnya.


"tu...........!"


Belum selesai Norin bicara, Shin mendorong pintu yang di buka sedikit oleh Norin sehingga membuat wanita itu ikut terdorong ke belakang.


Shin buru buru mengunci pintu itu, kemudian segera berdiri di depan closet duduk lalu mengeluarkan adik kecilnya dari dalam tanpa menghiraukan wanita yang tengah melebarkan pupil matanya melihat adik kecil miliknya.


" Ahh legaa !" Kemudian Shin memasukan kembali miliknya ke dalam lalu menoleh pada wanita yang tengah berdiri kaku dengan ekspresi melongo.


Shin tersenyum lalu berjalan mendekatinya.


"im sorry, saya sudah tidak kuat menahannya." Shin menjewel hidung Norin membuatnya tersadar.


Norin menepis pelan tangan itu."ngga sopan sekali pipis di depan orang!" Norin protes, ia kesal sekali atas apa yang di lakukan oleh pria pemaksa itu.


Ha ha ha ha.....


Shin tertawa." dan hanya kamu satu satunya orang yang pernah melihat adik kecilku. bagai mana apa kamu tertarik?" bisik Shin. Ia sengaja menggoda wanita yang tengah merona malu.


"aww....!" pekik Shin. Norin mencubit perutnya dengan keras lalu mendorongnya hingga keluar.


braakk

__ADS_1


Norin menutup pintu kamar mandi itu dengan kasar. Ia menyenderkan tubuhnya di daun pintu lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"ya ampun Rin, apa yang udah kamu liat tadi ?"


Shin keluar rumah Norin untuk menemui sopir pribadinya. Namun, ia tidak menemui sopir tersebut.


"kemana dia perginya ?" ucap Shin sembari matanya mengitari ke sekeliling halaman rumah Norin.


Shin berjalan ke arah mobilnya. Ia hendak mengambil tas yang berisi pakaian serta barang pribadi lainnya. Tanpa pria itu sadari di seberang jalan tepatnya di warung ia menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di sana.


"itu siapa nya bu Aminah ya ? kok ganteng banget kayak artis Korea." ucap salah seorang dari mereka.


"iya, mirip Eun Woo. apa jangan jangan dia memang Eun Woo ?"


"lah mau ngapain Eun Woo ke kampung sini ? ada ada aja kamu ni."


"siapa tau mau shooting di kampung ini."


Sementara Bu Sum yang tengah membeli tempe diam diam menguping pembicaraan pembeli yang lain. Ia juga penasaran pada siapa pria tampan bak artis Korea tersebut.


Shin kembali masuk ke dalam rumah sambil menenteng tas di tangannya.


"wangi sekali kekasih ku." harum sabun menguar setelah Norin keluar dari kamar mandi dan melintasi pria yang tengah duduk di atas sofa ruang tamu.


"iya dong, memangnya situ bauuuuu belum mandi." ucap Norin lalu menutup hidungnya.


"kamu meledek saya? awas saja."


Norin menjulurkan lidahnya lalu berlari kecil ke arah kamarnya. Shin menatap gemas pada wanita itu.


Norin sibuk memasak di dapur untuk sarapan karena Bu Aminah sendiri telah tidak sempat masak karena harus buru buru pergi kesekolah. Di tengah asik memasak, tiba tiba dua buah tangan melingkar di pinggangnya. Norin sudah tidak kaget dan dia juga sudah tau itu kebiasaan siapa. Ia tidak berontak, membiarkan saja dua tangan itu membelitnya. Entah karena Norin menyukainya atau karena sudah capek melarang pria pemaksa yang susah untuk di larang.


"sedang masak apa sayang ?" tanya Shin sambil memeluk wanita itu dari belakang.


"seperti yang tuan liat."


"omelet kesukaanku?"


"Hem!"


"terima kasih sayang.......cup!" Shin mengecup pipi Norin.


Norin tidak berontak, ia membiarkan saja Shin melakukan sesuka hatinya. Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan kelakuan mereka berdua.


"benar dugaan ku, mba Norin dan bosnya pasti memiliki hubungan. Kalau ngga mana mungkin mba Norin mau digituin." Rizal bermonolog.


Shin melepaskan tangannya setelah Norin selesai masak dan hendak menaruh hasil masakannya di atas meja.


"mau kemana sayang ?" tanya Shin yang hendak beranjak.


"mau manggil Rizal serta pak sopir untuk sarapan bersama dengan kita." Norin segera melangkah pergi sebelum Shin menimpali. Norin tau bahwa bos nya itu tidak suka makan satu meja dengan sopirnya.

__ADS_1


"zal, mang sopir hayuk sarapan bareng," norin memanggil dua orang itu yang tengah mengobrol di teras rumah.


"duluan aja mba, kami lagi ngopi sama makan kue," ucap Rizal.


"bener mba, ini aja udah cukup." sang sopir menyahuti.


"ya udah kalau gitu." Norin kembali ke dapur.


"jadi benarkan pak, dugaan saya kalau mereka ada hubungan?" tanya Rizal, melanjutkan lagi obrolannya dengan sang sopir setelah sang kakak masuk ke dalam.


"kalau menjalin hubungan sih saya rasa belum mas Rizal, tapi bos saya ini bucin banget sama mba Norin. Makannya jauh jauh dari kota nyusul kemari."


"apa tuan Shin itu orangnya baik pak?"


"baik, dia baik orangnya meskipun keliatannya jutek dan sombong tapi sebenarnya dia baik dan royal."


Karena penasaran, Rizal terus saja mengorek informasi tentang pria yang dekat dengan kakaknya.


"mana mereka?" tanya Shin setelah Norin kembali dan duduk di kursi meja.


"lagi pada minum kopi di luar."


Shin tersenyum, akhirnya ia bisa makan berdua.


Norin mulai meletakan makanan di piring milik Shin dan juga piring miliknya.


"oya, saya tidak melihat your mother, dimana dia ?"


"pergi ke sekolah."


"Is She a teacher ?"


Norin mengangguk."silahkan di makan dulu tuan!"


Shin tersenyum." thank honey!"


Dan mereka mulai makan dalam diam.


Tak selang lama, mereka menghentikan kunyahan nya mendengar keributan di luar rumah.


"what happen ?" tanya Shin.


"I don't know, biar saya lihat dulu."


Norin bangkit lalu beranjak pergi menuju ke luar rumah. Nampak segerombolan ibu ibu serta para gadis sedang berkumpul berbicara dengan Rizal dan sang sopir. Kabar tentang kehadiran artis Korea di rumah Norin telah menyebar luas di kampung tersebut. Entah siapa yang menyebarkan kabar itu


"lho ibu ibu ini kenapa pada ngumpul di rumah kami ?ada apa ini?" tanya Norin yang baru saja nongol dari balik pintu.


Mereka menoleh pada wanita cantik yang tengah berdiri di ambang pintu.


"kami mau liat artis Korea Rin, kamu kok diem diem aja sama kami." ucap salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"artis, artis siapa Bu?" tanya Norin.


"itu ada Cha Eun Woo kan di sini lagi shooting?"


__ADS_2