
Mereka bertiga mengucapkan terima kepada kedua wanita itu sebelum pergi kembali ke asrama.
Saat ini sebentar lagi pukul 3 dan seharusnya para santri sedang bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Mereka harus mandi terlebih dahulu agar lebih segar dan merasa lebih nyaman di dalam masjid.
"Bagaimana perasaan kalian berdua sekarang?" Asri iseng bertanya setelah melihat wajah kedua temannya agak merah tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ai tersenyum malu,"Jauh lebih baik setelah berbicara dengan Bunda." Katanya mengakui.
"Meskipun berbicara singkat tapi ini melegakan setelah mendengar suara Mama." Jawab Mega sama positifnya dengan Ai.
"Aku juga senang meskipun hanya berbicara dengan Bapak karena Ibuku sedang pergi keluar. Oh ya, Bapak bilang ingin mengirim sayur hasil panen ke sini tapi aku melarangnya karena pondok pesantren kita sudah punya banyak sayuran." Kata Asri lebih ceria dari sebelumnya.
Memang benar apa yang orang katakan jika orang tua adalah obat terbaik bila terjebak di tempat yang jauh. Seberat apapun masalah jika bisa melihat ataupun mendengar suara orang tua, maka masalah itu bisa dihadapi.
"Lho kok kamu yang larang sih, As? Bapak kamu kan niatnya baik mau bagi-bagi." Mega tidak tahu harus tertawa atau tidak ketika mendengar penolakan Asri.
"Tapikan kita udah punya banyak." Kata Asri diam-diam mengulum senyum.
Mega memutar bola matanya malas, kedua tangannya gatal sekali ingin mencubit pipi Asri.
"Kita masih punya atau tidak maksud baik tidak bisa ditolak, Asri. Ini adalah ladang amal jadi lebih baik kamu biarkan saja Bapak mu beramal." Kata Ai juga tidak setuju dengan penolakan Asri.
Asri tidak bisa berbohong lagi,"Astagfirullah...aku teh bohong sama kalian. Bapak aku mau kirim sayur ke sini besok atau lusa tapi aku tidak melarangnya. Aku malah ikut senang Bapak mau berbagi ke sini."
Mega sekali lagi memutar bola matanya,"Untung aja belum aku cubit."
Ai mengingatkan dengan tulus,"Jangan diulangi agar orang tidak berperasangka buruk kepadamu."
Asri melambaikan tangannya tidak perduli,"Aku hanya bercanda-"
Plak
Ada suara tamparan keras dari ruangan yang baru saja mereka lewati. Langkah mereka seketika berhenti secara kompak. Mereka saling pandang satu sama lain dengan pemahaman diam-diam yang entah sejak kapan terbentuk di antara mereka.
__ADS_1
"Apa kalian mendengarnya?" Kata Mega berbisik.
Ai dan Asri kompak mengangguk kepala.
"Ingin melihat?" Tawar Mega kepada mereka berdua.
Asri dan Ai menganggukkan kepala mereka cukup bersemangat. Tapi beberapa detik kemudian Ai langsung menggelengkan kepalanya tidak berani.
"Ini privasi orang, dosa tau." Kata Ai mengingatkan.
"Kamu benar, ini dosa." Kata Mega lemah.
Mereka bertiga tidak bisa melakukannya maka dari itu mereka memutuskan untuk pergi. Akan tetapi lagi-lagi langkah mereka harus berhenti ketika mendengar suara teriakan seorang laki-laki memarahi orang lain.
"Ayah kirim kamu ke sini untuk berubah bukannya untuk berbuat maksiat! Ayah mau kamu berubah dan menjadi kebanggaan keluarga tapi kenapa kamu malah membuat Ayah kecewa!" Teriakkan itu menjadi daya tarik terbesar untuk mereka.
"Sekali ini saja." Kata Mega langsung kabur mengintip dari jendela.
Asri adalah pengikut setia Mega jadi dia langsung pergi mengikuti Mega tanpa mengatakan apapun.
Ai tidak berani mengintip apa yang terjadi di dalam dan hanya berdiri di belakang mereka berdua sambil melihat-lihat adakah orang yang akan lewat.
Sementara itu asal suara teriakan keras tadi adalah dari ruang tamu. Di dalam sudah ada Pak Kyai, Umi, Ustazah Nur, Ustazah Laila, dan beberapa staf pondok dari laki-laki hingga perempuan paruh baya.
Mereka duduk di sofa yang luas dengan tatapan serius dan menegangkan. Sementara itu Sari hanya terduduk lemah sambil terisak di atas karpet tidak berani mengangkat kepalanya. Dia menundukkan kepalanya dengan tangan kanan yang melindungi pipi bagian kanan. Rupanya dia baru saja di tampar oleh laki-laki paruh baya yang kini berdiri tepat di sampingnya dan dipanggil oleh Sari sebagai Ayah.
"Sari.. minta maaf, Sari janji tidak akan mengulanginya lagi." Dalam isak penyesalannya Sari berjanji kepada Ayahnya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Dia pantas mendapatkannya!" Kata Mega dengan tatapan menikmati.
Asri juga sependapat,"Aku harap dia dikeluarkan dari pondok pesantren!"
"Itu pasti." Kata Mega yakin.
__ADS_1
"Kalian berhentilah melihat! Kita harus segera pergi sebelum ketahuan-"
"Ketahuan sama kami?" Suara dingin itu lagi!
Mereka bertiga sontak melihat ke arah sumber suara.
Di sana, 3 atau 4 meter jauhnya dari mereka berdiri duo kulkas berjalan bersama dengan beberapa orang tidak dikenal!
Bahkan di sana juga ada laki-laki yang baru-baru ini mencuri perhatian Asri.
"Ya Allah, ini buruk." Asri merasa reputasinya tercoreng.
Mega yang sudah muak di samping berkata,"Haruskah kita melarikan diri?"
Ai sungguh ingin melarikan diri,"Tapi kita akan menerima hukuman yang lebih berat lagi jika kabur."
Kata Ai memang masuk akal dan Mega hampir saja mengurungkan niatnya untuk melarikan diri, yah itu hanya hampir. Namun ide untuk melarikan diri kembali berkobar ketika Mega melihat Sasa dengan petugas kedisiplinan yang lain berdiri malu-malu menjaga jarak di belakang rombongan duo kulkas berjalan.
"Apa yang kalian-" Ustad Azam belum selesai mengucapkan kata-katanya tapi sudah dipotong oleh gerakan tiba-tiba Mega.
"Tidak..tidak..tidak, aku harus melarikan diri!" Kata Mega langsung memutar badannya melarikan diri tanpa menunggu jawaban Asri dan Mega.
Asri dan Ai,"....." Setidaknya dengarkan kami dulu!
Ustad Azam yang membeku di tempat,"...." Dia... melarikan diri?
Bersambung..
Bab selanjutnya inshaa Allah pukul 3 pagi 😌
Mau berapa chapter Hem...🤭🤭🤭
Author ambil suara terbanyak yah🍁
__ADS_1
Batasnya tepat pukul 12 malam, kesempatan hanya datang sekali🤭🤭🤭