
3 hari kemudian ...
"Nad, ayo kamu sudah rapi?, Pak penghulu dan Satrio sudah menunggu kamu diluar?."kata Ibu berbicara padaku dari balik pintu
"Iyaa Bu sebentar lagi, Nadia mau merapikan baju Nadia dulu."ucapku sambil berdiri dicermin
Lalu Ibu meninggalkanku ke luar lagi.
Hari ini aku dan Satrio akan melangsungkan akad nikah sekaligus resepsi dirumah Satrio. Kami sengaja melakukan ini secepatnya, khawatir menjadi fitnah jika aku dan dia tidak memiliki status sah tapi tinggal serumah, yaa meskipun kenyataannya dirumah banyak orang. Tapi tetaplah kami ingin niat baik ini terlaksana, aku sendiri yang meminta Satrio untuk melakukan pernikahan dengan sangat sederhana. Dan syukur nya dia menyetujui usulanku.
"Mbak Nad, aku kebelet ingin buang air kecil, Mbak Nadia aku tinggal dulu yaa."ucap Mbak Sisi yang menata riasan ku hari ini
"Silakan Mbak."ucapku
Tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk dari jendela kamar ku.
"Si..siapa kamu?."tanya ku takut
Lalu dia membekap ku dengan sapu tangan, aku sampai tidak bisa berbicara, ingin aku melawan namun sulit rasanya.
Aku dipaksa naik mobil dan tanganku diikat kencang, mulutku dilakban. Lalu mobil melaju dengan cepat. Aku rasa tidak ada yang tahu nasibku sekarang.
Dengan kondisi sadar dan tangan ku sudah diikat, aku dibawa ke sebuah gedung tinggi yang belum jadi, seperti nya ada yang menunggu ku disana. Pasti dia pelakunya.
Aku pun dipaksa berjalan dengan kebaya ku yang mulai acak-acakan, akhirnya aku disuruh berhenti di roof top gedung kosong itu. Ada 2 orang pria berjas rapi menunggu sambil menyalakan rokoknya.
Lalu aku dilempar didepan kaki 2 orang itu.
"Sudah kamu berjaga-jaga, jangan sampai ada yang melihat kita disini."ucap seorang laki-laki yang masih membelakangi aku
"Baik Boss."ucap orang yang menculik ku
__ADS_1
Lalu 2 orang laki-laki itu berbalik badan dan ternyata salah satunya adalah Ayahnya Nathan.
Lalu dia menghampiriku ku dan mengambil pisau tajam dari kantung celananya.
"Hahaha, Nadia Nadia, dasar kau gadis bodoh dan menyusahkan, gara-gara kau anakku dipenjara seumur hidup dan sekarang menderita secara mental, kau harus membalas semua perbuatan mu itu."ucap seorang laki-laki itu
Aku sama sekali tidak bisa bicara, aku yakin laki-laki itu adalah Ayah nya Meli.
Lalu laki-laki itu menggoreskan pisau ditangan kananku.
"Awww, sakit sekali rasanya."batinku berteriak
Lalu penutup mulut ku dibuka.
"Hei kau tentu tahu kami siapa?, saya adalah Ayah nya Meli, seorang perempuan yang kamu sudah sakiti dan dia adalah Ayah nya Nathan, Ayah dari laki-laki yang hampir jadi suamimu. Kau harus tahu memang benar kami pelaku pembunuhan keluarga Nathan, yaa sebelum kau mati ada baiknya kau tahu semua ini."ucap Ayah Meli
"Tapi Om, salah saya apa? wajar Meli dipenjara karena dia sudah melukai saya dan Satrio bahkan Bi Nini pun dibuatnya meninggal."ucapku memberanikan diri
"Om nggak berhak mengambil kekayaan Satrio, lagi pula kalau Satrio hidup itu tandanya Tuhan lebih berhak atas nyawanya bukan kalian."ucapku kesal
"Omong kosong, kalau bukan karena mu, beberapa bulan lalu Satrio bodoh itu sudah mati.Oh yaa, kamu harus tahu juga bahwa kami tidak bekerja berdua saja, tapi ada satu orang lagi yang membantu kami, kamu pasti akan terkejut."ucap Ayah Nathan
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang menghampiri ku.
"Om... Om Heru, bantu aku Om."ucapku padanya
"Hahaha membantu kamu ? jangan mimpi ! , asal kamu tahu Nad, akulah yang membantu Panji dan Hartono untuk membunuh Orang tua Satrio bahkan istri ku sendiri, karena aku sudah muak dengan sikap perempuan itu yang tak mendukung niatku. Lagi pula aku memiliki perempuan yang lebih cantik yang ada di Jakarta, jadi ku bunuh saja perempuan tak berguna itu."ucap Om Heru
"Nggak, nggak mungkin Om setega itu, aku tahu Om baik dan sayang sama Satrio, buktinya Om selalu membantu Satrio."ucapku sedih
"Haha, kamu itu sudah ku bodohi seperti Satrio, kamu harus tahu Nad, sudah sejak lama aku ingin membunuh Satrio dan mengambil harta nya, tapi rencana kami selalu kamu gagalkan, bahkan ketika Satrio sudah benar-benar terkena penyakit parah kamu juga yang membantu nya sembuh, padahal saat itu aku berharap dia mati karena sakitnya itu, makanya aku biarkan kamu bertemu Satrio terakhir kalinya, tapi aku salah, kamu berbahaya, kamu bisa membujuk anak keras kepala itu untuk berobat keluar negeri, bahkan kamu berhasil membujuk anak ku yang durhaka itu untuk mendonorkan sumsumnya, memang anak itu sebodoh Ibunya. Pokoknya hari ini kamu harus mati, setelah itu keluarga mu dan terakhir Satrio. Kalian harus mati."ucap Om Heru
__ADS_1
"Ja..jangan Om, jangan Om lukai keluarga aku, aku yakin kalau Om baik-baik minta hartanya Satrio pasti akan diberikan."ucapku menenangkan
"Hah kau pikir ini hanya tentang harta? tidak Nad, sejak dulu aku muak dengan Ayahnya Satrio, karena dia selalu menjadi orang yang diperhatikan keluarga ku bahkan ketika orang tua ku mati, tetap saja yang diingat hanya dia. Sampai-sampai hartanya untuk dia.Ah aku benci mengingat itu, pokoknya sekarang kamu harus mati duluan, tenang aja cantik, setelah kamu mati nanti pasti pacarmu itu akan menyusul. Hahahaha."ucap Om Heru tertawa
Aku hanya bisa pasrah dan menunduk, berdoa semoga ada yang menyelamatkan ku. Apalagi kondisiku sudah terikat begini. Entahlah apa yang harus aku lakukan sekarang selain berdoa.
"Ayo Ton, bunuh perempuan munafik ini."ucap Om Heru kepada Ayah Nathan
Tiba-tiba ada yang bertepuk tangan.
"Wah, wah wah ternyata Om Heru pelaku dibalik semuanya, aku nggak nyangka Om Heru sejahat itu, Om harus nya yang mati."ucap Satrio mendekat
"Satrio, akhirnya kamu datang, tolong aku."ucapku menangis
"Tenang Nad, kamu diam disitu, aku pasti bebasin kamu, Untung aku mengikuti iblis itu."ucap Satrio menunjuk Om Heru
"Hahaha bagus kalian sudah kumpul disini, jadi kita gampang menghabisi kalian semua, Satrio katakan selamat tinggal untuk selamanya."ucap Om Heru
Lalu Om Heru mencoba menusuk Satrio, namun Satrio lawan.
Dan Ayah Nathan makin mendekat padaku dan akan menusuk ku.
"Ja.... jangan Om."ucapku
Tiba-tiba Nathan datang.
"Pah, jangan lukai wanita yang aku cintai."ucap Nathan berlari kearah kami
"Nathan !"ucap Ayah Nathan kaget
Begitu pun aku tak kalah kaget.
__ADS_1