Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 3.3)


__ADS_3

"Assalamualaikum?" Suara Ustad Vano membuat mereka menghentikan semua pekerjaan.


Mereka segera berdiri dan menjawab salam Ustad Vano sopan.


"Waalaikumussalam, Ustad."


Ustad Vano lalu menaruh kantong plastik hitam yang ada di tangannya ke anak tangga masjid yang sudah bersih.


"Istirahatlah, minum dan makan makanan kalian." Dia lalu melihat waktu di jam tangannya.


"Setelah makan dan minum kalian bisa kembali ke asrama karena sebentar lagi waktu sholat ashar masuk." Sambungnya masih dengan suara dan ekspresi dingin wajahnya.


Ai dan Asri sangat kepanasan.


"Baik, Ustad."


"Makanan dan minuman ini," Katanya sembari melirik wajah tertunduk Ai yang berkeringat dan agak pucat, namun walaupun begitu warna merah di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

__ADS_1


"Harus kalian habiskan. Jika tidak, aku akan mengirim surat kepada kedua orang tua kalian karena telah menyia-nyiakan makanan." Ancam Ustad Vano tidak bercanda.


"Inshaa Allah, kami akan menghabiskannya, Ustad." Janji Ai dan Asri bersuka cita.


Mereka tidak berharap Ustad Vano akan memberikan mereka air dan makanan mengingat ini adalah sebuah hukuman.


"Hem, kalau begitu aku permisi dulu, assalamualaikum." Salam Ustad Vano langsung pergi setelah mengantarkan mereka makanan.


Ai dan Asri memastikan Ustad Vano pergi terlebih dahulu sebelum pergi mendekati kantong plastik hitam itu.


Mereka membukanya tidak terburu-buru. Di dalam ada roti basah dari merek tertentu, kue lemper, bolu coklat kukus, serabi, nasi kuning sebanyak dua mika ukuran sedang dengan taburan suir ayam dan telur puyuh yang menggugah selera, hem nasi kuning ini bahkan masih panas seolah-olah baru saja dikemas. Terakhir, ada dua botol minuman mineral yang masih tersegel rapi belum disentuh.


Rasanya sangat enak.


Sementara itu, Ai lebih memilih mengambil nasi kuning yang masih hangat itu. Ketika tangannya menyentuh nasi kuning itu, tiba-tiba dia teringat akan masakan Ayahnya di setiap luang. Dulu Ayah suka sekali membuat nasi kuning untuknya. Masakan Ayah sangat enak dan disukai juga oleh semua adik-adiknya. Ayah bilang ketika tinggal di pondok dia sering membuat nasi kuning jika ada tamu penting yang datang ke pondok pesantren. Bisa dibilang nasi kuning adalah kebiasaan pondok pesantren Ayah ketika masih sedang mondok karena disukai oleh banyak orang.


"Ini enak," Bisik Ai ketika memakannya.

__ADS_1


Rasanya memang tidak seenak buatan Ayah tapi Ai bersyukur bisa memakannya di sini.


"Apa kamu tahu, Ai? Di desaku kami jarang makan makanan yang mewah seperti ini." Kata Asri mulai mengenang hidupnya ketika masih di desa.


Ai terkejut,"Makanan mewah?" Ai pikir ini adalah makanan yang sederhana.


"Iya, Ai. Bapakku adalah seorang petani di desa dan Ibuku adalah seorang pedagang di pasar. Ibuku menjual hasil panen sawah kami tapi ini tidak dilakukan setiap hari. Mungkin hanya ketika musim panen saja. Saat pulang dari pasar biasanya Ibuku akan membeli ini dan ini." Katanya sambil menunjuk kue lemper dan nasi kuning.


"Tapi roti basah dan kue coklat ini harganya mahal. 1 bungkus saja itu sudah menghabiskan puluhan ribu," Desahnya, "Jadi, dia hanya membeli beberapa kali, yang paling banyak adalah kami mendapatkannya dari kerabat jauh yang datang bersilaturahmi."


Ai ikut melihat roti basah bermerek yang ada di tangan Asri. Jujur, dia tidak terlalu tertarik makan makanan yang seperti ini karena Ayah dan Bunda jarang membeli. Di samping itu masakan Ayah dan Bunda sangat lezat, bukannya membeli mereka lebih sering membuat makanan atau kue di rumah.


"Aku tidak suka makan makanan seperti ini jadi kamu bisa memakannya untuk dirimu sendiri." Kata Ai mulai menyantap nasi kuningnya.


Asri langsung melambaikan tangannya menolak,"Jangan mengasihani ku, meskipun jarang memakannya tapi bukan berarti aku sangat menginginkannya."


Ai menggelengkan kepalanya membantah. Dia tidak berbicara sebelum menelan makanan yang ada di mulutnya.

__ADS_1


"Aku tidak mengasihani mu karena ini memang yang sebenarnya. Ayah dan Bunda jarang membeli makanan bungkusan seperti ini. Daripada membeli mereka lebih suka memasak sendiri. Hem, nasi kuning ini lebih enak daripada roti basah yang ada di tangan mu." Kata Ai seraya memasukkan lagi makanan ke dalam mulutnya.


Asri senang tapi dia tidak menunjukkannya secara langsung, alih-alih tertawa dia mengucapkan terimakasih kepada Ai. Dari sini dia semakin menyukai Ai dan ingin menjalin pertemanan yang lebih dalam lagi dengannya.


__ADS_2