
"Ekhem.." Asri mengambil air minum sisa Ai tadi dan meminumnya sampai habis.
"Kenapa, As?" Mega tahu ada yang ingin Asri katakan.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu kepada, Ai." Kata Asri sambil memperbaiki duduknya.
Ai mengangguk ringan menunggunya berbicara.
"Tadi saat kami datang ke sini diluar ada banyak sekali orang-orang yang menunggumu karena ketika kamu pingsan tadi semua orang sangat panik dan berlari menuju ke sini bersama Ustad Vano. Aku pikir di dalam juga ada beberapa orang yang menunggumu tapi nyatanya aku salah karena satu-satunya orang yang aku lihat duduk di sini adalah.." Asri tidak langsung menyelesaikan kata-katanya.
Padahal Ai sudah menahan nafas menebak-nebak di dalam hatinya.
Dia pertama-tama bangun dari kursinya, mengintip dari gorden jendela untuk melihat apakah ada orang di luar.
Ternyata di luar masih ada beberapa orang meskipun ini sudah pukul 1 dini hari. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah duo kulkas berjalan serta beberapa laki-laki yang Asri tidak kenal.
"Mashaa Allah.." Asri berdecak kagum melihat mereka berkumpul di depan.
Sejujurnya, dia ingin mengatakan apa yang sedang orang-orang ini lakukan di sini?
Hei, Ai hanya pingsan dan tidak sedang melahirkan jadi kenapa harus satu kampung berjaga di depan?
Cek..cek..
"Baguslah, aku harap setelah ini mereka berhenti memberikan kami hukuman!" Dumel Asri sebelum kembali ke kursinya.
"Siapa yang kamu lihat?" Mega heran.
Asri tersenyum santai,"Di luar ada duo kulkas berjalan jadi kita harus berhati-hati ketika membicarakannya." Bisik Asri mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Ai dan merendahkan volume suaranya.
Mega ikut menunduk,"Duo.. kulkas berjalan?" Bukankah panggilan ini konyol dan terkesan aneh?
__ADS_1
"Ya, kamu dengarkan saja karena aku akan melanjutkan ceritaku." Asri menjawab enteng.
"Jadi, orang yang aku duduk di sini adalah Ustad Vano!"
Maka bisakah Ai berharap ini adalah jawaban dari kebingungannya?
Orang yang membisikkan kata-kata itu dan orang yang mengelus sisi wajahnya, mungkinkah jawabannya adalah Ustad Vano?
"Kalian harus tahu saat itu aku sangat panik ketika melihatnya. Aku takut orang-orang akan berpikir jika kalian berdua sedang berzina meskipun yah kamu masih pingsan. Tapi aku sangat takut rumor buruk tentang kalian menyebar. Setelah berpikir singkat aku memberanikan diriku mencoba untuk masuk ke dalam sini tapi ketika aku akan masuk dokter yang merawat mu tiba-tiba mendatangi Ustad Vano dari ruangan itu," Asri berbisik sambil menunjuk ke ruangan tidak berpintu yang ada dekat meja dokter. Di dalam sana ada banyak rak-rak dengan berbagai macam obat-obatan khas seperti apotik.
"Ketika melihat dokter itu aku segera merasa lega dan mengurungkan niatku masuk hehe.."
Flash Back On
"Asri, kemari lah! Kita harus segera menemui Ai." Mega telah menyelesaikan hukumannya dengan kecepatan penuh karena sudah tidak sabar melihat Ai.
Dia khawatir Ai punya penyakit yang serius.
Dia buru-buru dan tanpa rasa belas kasih melempar sapunya ke dalam. Sapu yang tidak bersalah tanpa bisa ditolong jatuh tersungkur fi atas lantai.
Tapi Asri tidak punya waktu untuk memikirkannya. Dia segera berlari menghampiri Mega yang sudah menunggu di anak tangga.
"Ayo pergi." Mereka berlari kecil menuruni tangga.
Di lantai 1 masih ada orang yang membaca Al-Qur'an dan sholat sunnah sehingga mereka harus meringankan suara kaki mereka.
Membuka pintu masjid secara hati-hati dan langsung menutupnya setelah berhasil keluar.
"Kalian sudah selesai?" Suara bariton menarik perhatian mereka berdua.
Mereka sontak berbalik dan menemukan Ustad Azam sudah berdiri di depan mereka. Eh, sejak kapan Ustad Azam ada di sini?
__ADS_1
"Alhamdulillah, kami sudah menyelesaikan tugas kami, Ustad." Sejujurnya Mega tidak sabar bertemu dengan Ustad Azam, akan tetapi dia tidak bisa main melarikan diri saja karena tidak ingin menambah hukuman!
Dia harus segera menemui Ai, okay!
"Bagus. Apa kalian ingin bertemu dengan teman kalian?" Tanya Ustad Azam masih dengan wajah yang dingin.
Mega cemberut, dia tidak ingin menjawab tapi Asti tidak mau bekerjasama dengannya. Asri diam seperti pohon mangga yang tidak berbuah.
"Iya, Ustad. Kami ingin menemui teman kami, apakah kami boleh?" Tanya Mega dengan setengah hati.
"Kalian boleh pergi asalkan pergi bersamaku."
Mega tidak terima.
"Kami bisa pergi sendiri, Ustad."
"Apa kamu tahu dimana ruang medis pondok pesantren?" Tanya Ustad Azam menguji.
Mega dan Asri tidak tahu karena tadi pagi mereka tidak ikut perkenalan tempat-tempat di pondok pesantren! Mereka tidak masuk sekolah dan harus menjalankan hukuman di sawah!
"Tidak, Ustad. Tapi kami bisa bertanya." Mega keras kepala.
Ustad Azam menaikkan salah satu alisnya,"Oh ya, coba tebak sekarang sudah jam berapa?"
"Maaf Ustad, aku tidak tahu."
"Ini sudah pukul 11 malam, pikirkan baik-baik kepada siapa kamu akan bertanya?" Ustad Azam jelas berada di atas angin.
Mega menggigit bibirnya kesal,"Maka kami akan mengikuti Ustad Azam."
Bersambung...
__ADS_1
Inshaa Allah besok up agak banyak 🍁