
"Mengerikan, aku tidak berani lagi membuat masalah di depan Ustad Vano." Bisik Asri merasakan bulu kuduknya merinding.
Ketika dia melihat wajah dingin Ustad Vano, dia tiba-tiba teringat dengan orang-orangan sawah yang ada di sawah Bapaknya. Di malam hari orang-orangan sawah terlihat menakutkan dan seringkali membuat gerakan, padahal tidak ada satupun yang menggerakkan mereka!
"Ehe..tapi jika dia tidak datang ke sini lagi maka tidak ada salahnya menyapa santri laki-laki di seberang sana." Katanya cengengesan.
Ai sama sekali tidak mendengarkan apa yang Asri katakan sejak tadi. Hati dan pikirannya masih terikat dengan tatapan dingin Ustad Vano ketika melihatnya. Ini.. auranya terlalu kuat dan menakutkan.
"Asri," Panggil Ai gugup.
"Ya?" Jawab Asri sambil memasukkan sesuap besar nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.
Ai meraba dada datarnya, merasakan suara detak jantungnya yang menggebu-gebu.
"Aku ingin tidur.." Karena dia sangat takut bertemu dengan Ustad Vano nanti, meskipun..yah, pada saat yang sama dia ingin segera bertemu dengannya.
Ah, jatuh cinta itu sangat rumit!
🍁🍁🍁
Sesudah menyelesaikan makan siang, Ai dan Asri segera berjalan menuju masjid Abu Hurairah yang tidak terlalu jauh namun juga turut terlalu dekat dengan stan makanan.
Mereka berjalan dengan terburu-buru sambil memikirkan hukuman apa yang akan mereka terima.
Dari luar masjid mereka bisa melihat Ustad Vano sedang berbicara dengan beberapa orang. Mereka sepertinya sedang membicarakan program pondok pesantren yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Rencananya mereka akan mengajak semua santri untuk berpartisipasi memeriahkan acara tersebut. Tapi sekali lagi ini hanya rencana dan hasil akhirnya belum ditentukan oleh mereka.
"Aku pikir kita tidak sopan menyela pembicaraan mereka." Bisik Ai kepada Asri.
Saat ini mereka sudah berdiri di depan gerbang masjid. Mereka tidak berani masuk ke dalam halaman karena takut mengganggu pembicaraan mereka.
"Yah, kamu benar. Tapi Ai," Dia mengguncang tangan Ai.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya lebih gugup lagi dari yang di stan makanan.
Kedua tangannya bahkan sudah berkeringat banyak.
"Lihat ke sana." Asri menunjuk ke kiri.
Di sana ada banyak sekali santri sedang duduk lengkap dengan kitab maupun buku ditangan mereka. Sepertinya mereka sedang belajar.
"Sejujurnya aku tidak masalah dengan orang yang lebih tua dariku asalkan dia masih sekolah." Ucap Asri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari santri-santri itu.
Melihat ini, Ai lantas menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia segera memalingkan wajahnya karena tidak tertarik sama sekali topik pembicaraan Asri.
Dia lebih baik memandangi Ustad Vano. 12 tahun tidak bertemu, entah itu penampilan atau pribadinya selalu membuat Ai tidak bisa berpaling. Bahkan saat inipun masih begitu. Dia menatap kagum Ustad Vano yang sibuk berbicara di depan sana. Dia terpesona dan terlalu hanyut dalam kekagumannya hingga terlambat menyadari jika Ustad Vano juga menoleh ke arahnya.
Ai terkejut, dia segera memalingkan wajahnya pura-pura melihat hal-hal lain yang intinya bukan Ustad Vano. Dia melihat tanaman bunga di depannya, beberapa detik kemudian dia melihat tanah yang dia pijaki sekarang sampai akhir dia memberanikan diri mengintip apakah Ustad Vano masih melihatnya atau tidak.
Uh, tapi hasilnya mengecewakan.
Nyatanya, Ustad Vano sudah tidak melihatnya lagi. Dia kembali memperhatikan lawan bicaranya tanpa berniat memanggil mereka.
Hah, meskipun mereka dulu saling mengenal tapi itu dulu, 12 tahun yang lalu. Saat itu Ustad Vano mungkin hanya menganggapnya sebagai anak laki-laki, tidak-ini sangat lucu!
Pikiran anak-anak tidak serumit orang dewasa, Ai!
12 tahun menghilang setelah membuat janji kekanak-kanakan, itu pasti karena Ustad Vano sudah melupakannya.
Membuat Ai bertanya-tanya, sejak kapan Ustad Vano mulai melupakan tentang dirinya?
"Bahaya Ai, Ustad Vano sekarang berjalan mendekati kita!" Bisik Asri dengan kepala tertunduk.
Ai langsung tersadar dari lamunannya. Mengikuti Asri, dia menundukkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki besar dan berat milik Ustad Vano kian mendekati mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum?" Salam Ustad Vano kini telah berdiri dengan jarak kurang lebih 10 dari mereka.
Ini.. bukankah terlalu jauh?
"Waalaikumussalam, Ustad." Jawab Ai dan Asri dengan kepala tertunduk.
"Kalian adalah santri baru tapi dihari pertama masuk kalian sudah membuat dua kesalahan. Apakah kalian tahu kesalahan apa yang kalian buat?" Tanya Ustad Vano dingin.
Ai sangat gugup.
"Kami tahu, Ustad. Tolong maafkan kami." Kata Ai malu.
"Maaf selalu ada untuk siapapun. Tapi katakan dengan jelas kesalahan apa yang kamu lakukan hari ini?" Tanya Ustad Vano kepada Ai.
Ai menggigit bibirnya panik. Dia, dihadapan orang yang dia sukai harus menjelaskan dua kesalahan yang terjadi karena kelalaian dan kecerobohannya.
"Ini Ustad, karena kelalaian ku tadi kami telat datang ke masjid. Seharusnya kami datang lebih cepat dengan yang lain karena santri laki-laki akan memenuhi lantai pertama masjid."
Di pondok pesantren Abu Hurairah perempuan lebih dulu datang ke masjid dan yang terakhir keluar dari masjid. Mereka lebih dulu datang karena harus naik ke lantai dua sedangkan santri laki-laki datang belakangan karena memenuhi lantai pertama. Kemudian santri laki-laki lebih dulu keluar karena mereka dilantai pertama sedangkan perempuan yang terakhir karena mereka dilantai dua.
Dengan begini santri laki-laki maupun santri perempuan tidak akan pernah bertemu atau berpapasan. Mereka tetap di jarak yang telah ditentukan oleh pondok pesantren dan aturan ini sudah berlangsung sejak pondok pesantren Abu Hurairah berdiri.
"Lalu kesalahan yang kedua.." Ai ragu mengatakannya.
Apa yang harus dia katakan?
Haruskah dia mengatakan jika telah ceroboh mengintip ke arah stan makanan laki-laki?
Tapi dia tidak bermaksud apa-apa melakukannya!
"Kenapa? Apa kamu tidak mau mengakuinya?" Tanya Ustad Vano dingin.
__ADS_1
Sementara Ai ragu mengatakannya, Asri yang ada di samping entah mengapa merasa ada sesuatu yang salah di sini. Tapi dia tidak yakin dengan hal itu mengingat ini adalah pondok pesantren!
Ah, apa yang sedang dia pikirkan, ini bukan drama Korea, okay!