
Kata-kata Asri sangat masuk akal. Membuat hati Ai terketuk mengingat cerita Almaira mengenai interaksinya dengan Ustad Vano dulu. Dari sifat Ustad Vano yang terkesan acuh tak acuh Ai harusnya menyadari jika dia adalah laki-laki yang kaku. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang lembut seperti menulis surat-suratan atau saling mencuri pandang malu-malu.
Tidak, Ustad Vano bukanlah orang yang seperti itu. Maka apakah mungkin Almaira tadi membohonginya?
Semua cerita yang dia katakan tadi apakah itu semua bohong?
Apakah mungkin? Almaira adalah gadis yang lembut dan cerdas, dia tidak mungkin membodohi dirinya sendiri dengan sebuah kebohongan.
"Apapun itu ada baiknya jika kita menunggu kepulangan Ustad Vano untuk menyelesaikan masalah ini." Ujar Mega menasehati Ai.
"Air hujan sudah mulai deras, apa kalian tidak ingin segera masuk ke dalam asrama?"
Sebuah suara lembut menginterupsi pembicaraan mereka.
Ai, Mega, dan Asri sontak menoleh ke belakang. Di sana berdiri seorang gadis cantik yang cukup tidak asing untuk mereka. Gadis itu adalah senior yang memanggil mereka ke kantor staf asrama putri saat kejadian Sari hampir saja dikeluarkan dari pondok pesantren.
Namanya Hana Auliyah, dia adalah senior yang ramah dan baik.
"Kak Hana!" Ai langsung gugup.
Di dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Hana tadi mendengar pembicaraannya dengan Asti dan Mega atau tidak.
Hana di ujung sana tersenyum,"Mau kembali ke asrama bersama?" Tawar Hana ramah.
Mereka bertiga tentu saja tidak menolak dan segera mengiyakan. Maka jadilah mereka berempat berjalan bersama di bawah gerimis yang mulai berat.
Di jalan pulang mereka secara kompak menutup mulut untuk tidak lagi membahas mengenai masalah Ai dan Almaira karena ada Hana di sini.
"Aku satu angkatan dengan Almaira dan Sasa." Tiba-tiba Hana membuka pembicaraan.
"Satu angkatan?" Ini adalah respon Asri sebagai orang yang suka mengamati.
Baginya masalah Ai adalah masalahnya juga. Dia harus menyelesaikan masalah ini sampai semuanya cukup jelas agar tidak merugikan Ai. Ini juga berlaku bila Mega berada di posisi Ai, Asri tidak mungkin tinggal diam saja melihat temannya diperlakukan salah meskipun orang yang membuat masalah adalah putri Pak Kyai.
Hah, memangnya kenapa bila dia adalah putri Pak Kyai?
__ADS_1
Toh, mereka ujung-ujungnya adalah manusia meskipun kasta mereka berubah.
Hana tersenyum, tampak manis.
"Tidak hanya satu angkatan, aku juga satu kamar dengan mereka sejak tahun pertama tinggal di pondok pesantren."
Asri kian tertarik dan memanfaatkan situasi ini untuk mengorek informasi.
"Maka Kak Hana seharusnya tahu mengenai perjodohan Kak Almaira dan Ustad Vano?"
Hana mengerti apa yang Asri inginkan jadi dia mengikuti alur tanpa masalah.
"Itu hanyalah rumor, apakah kalian percaya?"
Rumor?
Ai meremat kedua tangannya gugup bercampur gelisah. Dia ingin bertanya apakah yang dikatakan Hana benar atau tidak tapi dia takut kecewa.
"Apakah aku boleh mengatakan yang sejujurnya, Kak?" Asri berpura-pura ragu.
Hana tidak mengecewakan sandiwaranya,"Katakan saja kamu tidak perlu sungkan."
"Jujur, aku tidak mempercayainya."
Hana bertanya,"Oh ya, kenapa?"
"Ini..aku tidak tahu pastinya tapi aku yakin orang seperti Ustad Vano tidak akan mau terikat perjodohan."
Hana tersenyum,"Kamu benar, dia adalah tipe orang yang seperti itu jika belum menyukai seseorang di dalam hatinya. Akan tetapi nyatanya dia telah menyukai seseorang di dalam hatinya, dan rasa suka itu telah ada sejak bertahun-tahun yang lalu." Ucapan Hana mengindikasikan sesuatu.
Asri benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan informasi ini.
Bertahun-tahun?
Asri ingat Ustad Vano pernah mengatakan kata-kata yang sama di malam Ai di rawat di ruang medis. Maka..
__ADS_1
Asri beralih menatap wajah Ai yang kini tampak memerah di sampingnya. Tanpa mengatakan apa-apa pun Asri tahu isi kepala Ai.
"Apa itu Kak Almaira? Aku dengar dia sudah berjodoh dengan Ustad Vano sejak 2 tahun yang lalu." Asri juga ikut cemas memikirkan jawaban Hana.
Hana menggelengkan kepalanya dengan mantap,"Jelas bukan dia orangnya. Gadis beruntung itu..aku tahu dia mendengar apa yang aku katakan saat ini,"
Deg
Jantung Ai berdegup kencang, memompa darahnya dengan panik ke seluruh tubuh dengan panik.
"Dengarlah baik-baik, itu hanyalah sebuah rumor yang tidak benar dan aku harap untuk tidak mempercayainya. Jika tidak percaya maka bertanyalah kepada Ustad Vano agar tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian."
Asri dan Mega sangat bersemangat. Mereka menarik tangan Ai, menggenggamnya kuat untuk berbagi kegembiraan.
"Bagaimana.. bagaimana Kak Almaira tahu jika itu adalah rumor dan tentang gadis beruntung itu sebenarnya adalah.." Aishi Humaira.
Tapi dia tidak bisa mengatakannya jika itu adalah Ai, setidaknya untuk saat ini.
Hana tersenyum lembut,"Percaya atau tidak satu-satunya orang yang paling mengetahui mengenai kebenaran rumor ini adalah aku," Lalu dia beralih melihat langsung wajah merah Ai yang diapit oleh Asri dan Mega.
"Dan satu-satunya orang yang bisa kalian tanyai di tempat ini adalah aku."
Mega tidak bisa menahan rasa penasarannya,"Apa hubungan Kak Hana dengan Ustad Vano?"
Dia takut Hana menyukai Ustad Vano karena hey, Ustad Vano adalah idola di pondok pesantren ini!
Hana tersenyum,"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tidak mungkin menyukai Ustad Vano. Adapun hubungan ku dengannya..suatu hari kalian juga akan tahu."
Bersambung..
Yum๐
Oh ya, Novel yang di K*M sudah ganti judul ya. Bagi yang mau baca silakan cari My Boss, My (Ex) Boyfriend
Awas ya, jangan plagiat. Hati-hati, Allah Maha Melihat, lho.
__ADS_1
ุฃููุงู ููุนูููุฉู ุงููููู ุนูููู ุงูุธููุงููู ูููู
โIngatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalimโ (QS. Hud: 18).