
"Rin, kamu masih punya hutang penjelasan lho, kok kamu ngga pernah cerita kalau ada hubungan special sama tuan Shin, tau tau kalian udah tunangan aja. gimana ceritanya?" Norin yang tidak pernah cerita tentangnya pada sahabatnya itu di cecar pertanyaan yang menurut dirinya bingung untuk menjelaskannya. Ia sendiri saja bingung sebenarnya statusnya itu apa dengan Shin.
"aku...aku bingung Nis, gimana harus memulai ceritanya. Lebih baik ngga usah di bahas aja ya?" jawab Norin dan tanpa sengaja Ia melihat jempol tangan sahabatnya itu terbalut dengan perban.
"terus itu jempol mu kenapa di perban?" tanya Norin seolah olah mengalihkan pembicaraan.
"oh, ini tadi ada insiden sedikit," jawab Anisa cuek seolah olah itu bukan hal yang penting untuk di bahas.
"insiden gimana maksudmu?" tanya Norin lagi, ia masih saja penasaran.
"tadi ngga sengaja jatuhin gelas sama teko gara gara ketemu sama pria menyeramkan."
"pria menyeramkan, maksudmu siapa ?"
"mana aku tau namanya siapa? kenal juga engga. tuh yang ngisi kamar di depan kamar ini!"
"oh, maksudmu tuan Youn?"
"ya kali !"
"tapi menurutku mukanya ngga serem kok, kenapa kamu bilang serem?"
"ya, mukanya sih ganteng tapi badannya itu lho serem banyak tatonya. tadi aku tuh ngga sengaja ketemu dia eh dia malah nuduh aku mau nyuri kan kesel Rin."
"ooo, terus ini siapa yang merban?"
"ya..ya dia, kan dia harus tanggung jawab karena ini lukanya juga gara gara dia."
"yaudah yuk tidur, udah ngantuk banget ini mata," ucap Norin sambil merebahkan tubuhnya di tepi ranjang. Anisa pun melakukan hal yang sama.
"udah tiga tahun lamanya.....aku baru ngerasain tidur bareng kamu lagi Rin!" ucap Anisa tiba tiba.
Norin menoleh kesamping melihat pada sahabatnya yang tengah berbicara sambil pandangannya menatap ke langit langit.
"andai saja aku tahu dari awal jika pernikahan itu menyakitkan seperti ini....mungkin lebih baik aku memilih untuk hidup sepertimu aja Rin!" ucap Anisa lalu menoleh pada sahabatnya yang tengah menyimak curahan hatinya.
Norin tersenyum tipis."setiap manusia itu memiliki jalan hidupnya masing masing Nis...aku yang dengan jalan hidupku seperti ini, belum di beri jodoh hingga usia ku sudah 30 tahun sekarang. Dan kamu dengan jalan hidupmu seperti itu, di mudahkan jodohnya, di beri Rizki seorang anak meskipun pada akhirnya harus mengalami ujian pernikahan yang berat. tidak perlu di sesali apa yang udah Allah kasih Nis, syukuri dan nikmati aja prosesnya, karena Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia di luar batas kemampuannya. dan aku yakin kamu bisa melewati ujian hidupmu ini."
Anisa tersenyum."ya...ya...aku harus bersyukur apapun takdir yang Allah berikan padaku. Mungkin memang harus begini jalan hidupku dan aku harus ikhlas menjalankannya."
"itu baru Anisa Ramadhani namanya.....!" ucap Norin lalu tersenyum lebar.
"nanti kalau aku udah jadi single parent mungkin akan sering sering main ke rumah mu Rin, sama Al, terus nginep...boleh ya?"
"boleh banget dong!"
Malam menjelang pagi, Anisa dan Norin sudah rapi.
"ngga apa apa kan aku pake bajumu Rin?" tanya Anisa sambil memutar mutar tubuhnya di cermin besar yang terpampang. Baju itu terlihat kebesaran di tubuhnya karena tubuh Anisa lebih pendek dari Norin sementara baju itu seukuran tubuh si pemiliknya.
"buat kamu aja kalau kamu mau, itu baju nya masih baru belum pernah aku pakai." baju yang di pakai Anisa memang masih baru, baju yang pernah di belikan oleh Shin.
"serius Rin? makasih lho. baju kamu mah bagus bagus lho Rin, ngga kayak aku baju nya itu lagi itu lagi yang di pakai. bisa beli baju baru cuma waktu lebaran doang pas dapat THR," Jujur Anisa lalu tertawa lebar.
Norin tersenyum tipis." andai aja kamu tau kalau baju baju bagus ku itu Shin yang beliin Nis! entah apa respon mu!" Norin bermonolog.
__ADS_1
tok tok tok
Pintu di ketok dari luar. Norin segera membuka pintu itu.
" bi Surti....."
"iya non, bibi cuma mau ngasih tau kalau untuk sarapan sudah tersedia di meja makan non."
"iya non, bibi permisi dulu ya non!"
"Oia bi, apa tuan Shin udah turun ke bawah?"
"belum non, ini baru mau bibi panggil."
"yaudah, makasih ya Bu!"
"sama sama non." kemudian sang bibi beranjak pergi.
Norin menoleh ke dalam kamar."Nis, sarapan dulu yuk?"
Anisa berjalan menghampirinya." yuk!"
Bersamaan dengan itu, Youn keluar dari kamarnya lalu menoleh pada dua wanita cantik yang sedang berdiri di depan pintu kamar di hadapannya.
"kenapa ada nyonya muda di kamar pekerja baru ini?" tanya youn pada Norin.
"nama saya Norin tuan, bukan nyonya muda."
"tapi bukankah nyonya muda ini kekasihnya Hoon?"
"ba baik lah kalau begitu. lantas apa hubungan nona norin dengan wanita garang ini?"
Seketika Anisa membulatkan matanya menatap pada pria tersebut. Ia kesal di sebut wanita garang. Sementara Youn tersentak melihat mata besar mengarah padanya.
"ih, wanita ini menakutkan sekali matanya." gumam Youn dalam hati.
"oh, dia teman saya tuan, namanya Anisa bukan wanita garang."
"begitu! saya kira dia pekerja baru di rumah ini," ucap youn sambil menggaruk tengkuknya.
"oh, bukan tuan Youn, kami di sini cuma menumpang sebentar lagi kami juga akan pergi dari sini."
"kenapa cepat sekali nona? padahal saya baru kenal dan baru bertemu dengan anda?"
"karena ini bukan rumah saya tuan, makannya saya harus pergi. Oia tuan Youn apa mau sarapan?"
"oh ya, kita bisa sarapan bersama....bukankah begitu nona garang?"
"hah?"
"oh maaf, maksud saya nona Norin!"
Norin dan Anisa saling pandang lalu Norin mengangguk.
Mereka jalan bersama dan di ekori oleh Youn di belakang.
__ADS_1
Sampai di meja makan Shin sudah terlihat duduk dan sarapan sendirian. Norin dengan ragu berjalan ke meja makan melihat wajah Shin yang datar saja.
"good morning bos besar?" tanya youn pada pria yang sedang makan.
Shin melirik sekilas ke arah mereka lalu menundukkan wajahnya lagi dan fokus pada makanannya.
"mari nona nona cantik, silahkan duduk." Youn mempersilahkan Norin dan Anisa untuk duduk.
Norin merasa canggung sekali makan satu meja dengan pria berwajah dingin persis seperti dulu baru pertama kali mengenalnya.
"hm, tuan Youn! apa boleh saya minta tolong pada tuan?" tanya Norin.
"minta tolong apa nona?" jawab Youn dengan mulut penuh makanan.
"tolong antar kami pulang ke rumah kami!"
Youn tersengal, menahan makanannya yang hendak keluar. Norin buru buru mengambilkan air minumnya lalu Youn meneguk air pemberian Norin hingga tandas.
Perlakuan Norin di lirik oleh Shin sekilas. Namun, ia mengabaikannya kembali.
"makannya tuan, kalau makan itu baca bismillah dulu, biar ngga di ganggu sama setan." celetuk Anisa.
"baca bismillah?"
"ya!"
"oke oke.....bismilah!" ucap Youn lalu menyuapkan kembali makanan ke mulutnya.
Norin dan Anisa terperangah, mereka tidak menyangka pria atheis yang satu ini menuruti ucapan mereka meskipun kalimatnya tidak lengkap.
"benar juga, rasanya lebih nikmat setelah baca bis..bismilah." celetuk Youn sambil mengunyah.
Anisa dan Norin tersenyum melihat pria yang terlihat lucu itu. Sementara Shin masih memasang wajah datar saja tanpa ekspresi.
"Oia bagaimana tuan Youn, apa tuan mau antar kami pulang?" tanya Norin lagi.
Youn melirik pada pria di sampingnya yang diam saja dari tadi.
"apa kau membolehkan aku mengantarkan dua bidadari cantik ini pulang Hoon? apa kau tak takut jika kekasihmu berpaling darimu dan menyukaiku?"tanya youn dengan percaya diri.
Shin melirik tajam pada pria yang sedang nyerocos bicara padanya. kemudian, ia meletakan sendok nya dengan kasar di atas piring lalu beranjak pergi.
Tiga orang di meja makan menatap punggung pria itu dengan heran. Norin tau penyebab pria itu bersikap dingin pada mereka dan Norin tidak peduli lagi padanya.
"dasar pria aneh, maaf ya memang Hoon seperti itu dari dulu. Tapi sebenarnya dia baik orangnya," ucap Youn.
"hm, bagaimana tuan, apa tuan mau mengantarkan kami pulang?"
"boleh boleh saja saya mengantarkan kalian pulang, tapi ada syaratnya ?"
"syarat?"
"iya, temani saya bermain golf dulu pagi ini, bagaimana?"
Norin dan Anisa saling pandang.
__ADS_1