Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 9.10)


__ADS_3

10 bulan? Batinnya bertanya.


Tahun ini bulan puasa akan menghitung 2 atau 3 bula lagi, dalam artian pernikahan Ustad Vano dengan putri Pak Kyai sebentar lagi dilaksanakan.


Namun, 10 bulan pergi keluar kota untuk menyelesaikan tugas dari pondok pesantren bukankah itu artinya pernikahan mereka dibatalkan?


"Lalu.. bagaimana dengan Almaira?" Dia tanpa sadar bertanya.


Beberapa detik kemudian Ai sadar dengan apa yang baru saja dia tanyakan. Tidak seharusnya dia mengorek kehidupan pribadi Ustad Vano karena dia bukanlah siapa-siapa untuk Ustad Vano.


"Maafkan aku, Ustad. Aku tidak bermaksud menanyakan masalah pribadi Ustad." Sesungguhnya dia takut mendengar jawaban dari Ustad Vano.


Dia mengakui jauh dari dalam hatinya dia cemburu kepada gadis beruntung itu.


"Ada apa dengan Almaira? Memangnya apa yang harus aku lakukan dengan putri Pak Kyai tersebut?" Ustad Vano jelas tidak mengerti.


Dia tidak tahu bahwa rumor perjodohannya telah memengaruhi Ai dan bahkan dia tidak tahu bila rumor itu telah dipercayai oleh semua orang di pondok.


Ai bingung menjawab, respon Ustad Vano sungguh diluar dugaannya. Dia pikir Ustad Vano akan tersinggung atau menegurnya agar tidak membahas masalah pribadi. Tapi ternyata itu terjadi sama sekali. Bukannya marah Ustad Vano malah tampak bingung ketika masalah ini angkat.


"Ustad..kami dengar akan menikah dengan-"


Tok


Tok


Tok


Pintu masuk ruang medis di ketuk ringan. Ai segera menutup mulutnya dengan pengertian.


"Assalamualaikum, Ustad Vano?" Kepala Kelvin muncul dari balik pintu.


"Waalaikumussalam, silakan masuk." Kata Ustad Vano mempersilakan.


Kelvin segera masuk setelah mendapatkan izin dari Ustad Vano. Dia menutup pintu masuk sebelum berjalan mendekati Ustad Vano. Ketika masuk tadi dia sama sekali tidak melirik Ai, Mega, ataupun Asri yang kembali dilanda rasa gugup.


Dia bersikap seolah tidak ada siapapun di sini kecuali Ustad Vano.


"Ada apa?" Ustad Vano bertanya langsung.

__ADS_1


Kelvin, ketua petugas kedisiplinan asrama laki-laki ini tidak mungkin mencarinya tanpa ada sesuatu yang penting menyangkut pondok pesantren.


"Begini Ustad, Pak Daman bilang Ustad harus segera menyiapkan semua keperluan Ustad Vano selama diluar kota. Beliau juga bilang agar Ustad segera kembali untuk segera beristirahat karena setelah sholat subuh nanti Ustad akan berangkat bersama yang lain." Kelvin menyampaikan amanah yang diberikan oleh Pak Daman, ketua kelompok yang akan menjalankan tugas dari pondok pesantren selama berada diluar kota.


Tugas apa itu, Ustad Vano ataupun Kelvin tidak pernah mengatakannya. Ini mungkin bersifat rahasia atau mungkin juga tidak namun yang pasti ini sangat penting sehingga tidak bisa dilewati.


"Aku mengerti." Ustad Vano kemudian menoleh menatap Ai.


"Apa yang ingin kamu katakan tadi?" Sebelum pergi dia ingin menyelesaikan obrolannya dengan Ai.


Ai tersenyum kecil,"Bukan hal yang penting, Ustad. Lebih baik Ustad segera kembali dan beristirahat saja karena nanti subuh akan melakukan perjalanan jauh. Em.." Dia meremat tangannya malu.


Ustad Vano di samping menunggu dengan sabar ucapan Ai selanjutnya. Sebenarnya dia diam karena menunggu Ai mengatakan kata-kata perhatian yang dia harapkan.


"Tolong jaga diri baik-baik di sana dan kembalilah ke sini dalam keadaan baik-baik pula, Ustad." Kata-kata ini akhirnya keluar.


Meskipun terkesan kaku tapi Ustad Vano puas hanya setelah mendengar suaranya yang lembut mengingatkan.


Ustad Vano tersenyum lembut,"10 bulan akan terasa sangat panjang untuk kita tapi aku harap kamu bisa melewatinya seperti tahun-tahun sebelumnya. Ai, sampai jumpa 10 bulan kemudian."


Ustad Vano segera pergi bersama Kelvin tanpa menunggu respon dari Ai. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berjalan lurus tanpa ragu. Dia tidak bisa menoleh ke belakang karena dia sangat tahu bahwa langkahnya pasti akan tertahan di tempat bila dia menoleh.


Seperti tahun-tahun sebelumnya? Batin Ai dengan jantung yang mulai berdegup kencang.


Tidak hanya mengatakan kata-kata yang membuatnya salah paham namun Ustad Vano juga memanggilnya. Bukan lagi Aishi tapi Ai!


Ai!


Ustad Vano memanggilnya Ai!


"Kak Vano.." Bisiknya ingin menangis karena perasaan gembira yang terus meluap-luap di dalam hatinya.


Sekarang Ai benar-benar yakin jika Ustad Vano selama ini mengenalnya. Tidak hanya mengenalnya namun Ustad Vano juga masih mengingat tentang tahun-tahun perpisahan mereka.


Sungguh, tidak ada yang lebih melegakan selain ini. Dia sangat bersyukur Ustad Vano masih mengenali dan mengingatnya setelah 12 tahun tidak bertemu.


12 tahun berpisah dan tanpa saling mengabari, Ai sungguh tidak menyangka Ustad Vano masih mengingat tahun-tahun itu.


Sementara itu Mega dan Asri malah asik berbisik di samping tanpa memperhatikan wajah lembut Ai yang sedang dilanda perasaan manis.

__ADS_1


"Kita?" Bisik Mega berbicara dengan Asri.


Asri yang paling pandai bergosip diantara mereka segera merespon.


"Aku tahu ada yang aneh dengan mereka berdua!" Asri jelas bersemangat.


"Aku memang melihat ada sesuatu yang aneh juga tapi aku tidak menyangka jika Ustad Vano sangat terang-terangan!" Mega tidak jauh berbeda dengan Asri.


Mereka sama-sama antusias menggosipkan pembicaraan Ai dan Ustad Vano tadi. Hei, sejak Ustad Vano masuk mereka tidak berani berbicara dan konyolnya lagi Ustad Vano tidak pernah menyapa mereka berdua!


Dari awal sampai akhir hanya Ai lah yang berbicara dengannya!


"Eh, bukankah Ustad Azam juga tidak berbeda dengan Ustad Vano?" Tanya Asri segera membuat Mega tersedak.


Dia langsung melambaikan tangannya pura-pura tidak perduli padahal wajahnya sudah mulai memerah.


"Ai, bagaimana keadaan mu sekarang?" Mega mengalihkan pembicaraan.


Ai tersenyum malu.


"Ini baik-baik saja. Em.. sebentar lagi akan masuk sholat malam. Aku pikir kalian lebih baik tidur agar tubuh kalian tidak drop sepertiku." Karena Ustad Vano sudah mengingatkannya untuk menjaga kesehatan, Ai berjanji akan menjalaninya.


Dia juga berjanji akan memperhatikan kondisi tubuhnya sehingga kejadian ini tidak akan terulang kembali.


"Kamu benar, sejujurnya aku agak mengantuk jadi aku akan tidur di sini saja." Dia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Memunggungi mereka berdua agar tidak memperhatikan wajah merahnya.


Asri yang tidak melihat keanehannya juga mengantuk. Badannya pegal-pegal karena menjalani hukuman di sawah dan membersihkan lantai dua masjid.


"Kalau begitu aku juga akan tidur. Ai, selamat malam." Asri ikut menyusul Mega ke sofa.


Membaringkan dirinya ingin menyusul Mega ke dunia mimpi.


Ai tersenyum, dia tidak bisa tidur tapi tetap mengucapkan selamat malam kepada mereka berdua.


"Selamat malam."


Bersambung..


Chapter selanjutnya inshaa Allah besok Subuh 🍁

__ADS_1


__ADS_2