Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.13)


__ADS_3

Asri melarikan diri bersama Bapak dan Paman-pamannya yang lain. Mereka secara bahu membahu membantu Asri kabur dari rumah saudagar Romlah.


Jika Asri tersandung salah satu Paman akan membantu untuk berdiri kembali atau menawarkan punggung untuk Asri.


Namun Asri masih kuat, ia masih bisa melarikan diri. Meskipun kakinya sakit karena berlari tanpa alas kaki dan meskipun lututnya perih karena tersandung beberapa kali, Asri masih kuat untuk melanjutkan pelarian ini.


Hanya saja satu-satunya hal yang membuat Asri khawatir adalah Bapaknya. Bapak sudah di ringkih dan tidak bisa berlari sekuat dulu lagi. Beberapa kali Bapak akan menghembuskan nafas berat karena sudah kelelahan tapi tetap memaksakan diri untuk berlari.


"Itu mereka!" Suara teriakan dari warga desa membuat Asri kian panik dan ketakutan.


"Jangan menoleh ke belakang, Nak! Teruslah berlari." Teriak Bapak tidak mengizinkan putrinya menoleh.


Karena jika ia menoleh ke belakang rasa takut akan menguasai putrinya sebab hampir semua laki-laki di desa ini turut mengejar mereka. Bahkan ada sekelompok Ibu-ibu yang tidak mau kalah dengan laki-laki. Mereka juga ingin mendapatkan uang dan beras tersebut untuk menyambung hidup.


"Bapak.." Asri terus berlari dengan wajah basah oleh air mata yang tidak berhenti mengalir.


"Teruslah berlari, Asri!" Paman-pamannya di belakang juga ikut berteriak agar Asri tidak mengendurkan langkahnya.


Asri mengusap wajahnya menangis. Dia sangat takut, dia sungguh amat sangat takut ketika mendengar teriakkan dari orang-orang desa memanggil namanya dan dia juga tidak kalah takutnya ketika mendengar suara-suara berat  langkah kaki mengejarnya dari belakang.


Muncul sebuah pertanyaan,


Ya Allah, apakah semua yang Bapak dan keluargaku perjuangkan hari ini akan sia-sia?


Kakiku sakit dan lutut ku terasa lemah, aku tidak bisa berlari lebih jauh lagi. Selain itu Bapak juga sudah terlalu tua untuk berlari seperti ini...dia sering terbatuk-batuk ya Allah, aku sungguh tidak tega melihat Bapak kelelahan menahan sakitnya.

__ADS_1


Allahurabbi, apakah aku harus berhenti saja-


"Argh!"


"Asri!"


Asri jatuh tersungkur ke tanah setelah salah satu kakinya salah mengambil pijakan. Tubuh kurusnya yang tidak berlemak langsung menyentuh permukaan tanah yang berkerikil, rasanya sangat tidak nyaman dan ia pun tidak bisa mengangkat tubuhnya lagi karena semuanya terasa lemas.


"Nak, apa kamu baik-baik saja?" Bapak mengusap wajah basah putrinya yang berantakan karena air mata dan debu di tanah.


Di tambah lagi make up tebal yang kini telah luntur di wajah putrinya kian memperburuk putrinya.


"Bapak hiks..." Ia pikir semuanya telah berakhir.


Dia tidak bisa melepaskan diri dari takdir. Dia tidak bisa melawan takdir yang telah Allah tetapkan kepadanya.


"Jangan menangis, Nak..." Bapak tidak berdaya melihat putrinya menderita seperti ini.


Ia sungguh sabda berdosa telah membawa putrinya masuk ke lubang penderitaan ini. Ayah macam apa dirinya ini?


Bapak menyesali semua yang telah ia lakukan kepada Asri sampai sebuah suara dingin menarik perhatian Bapak dan keluarga Asri yang lain.


"Apa yang sedang terjadi?" Laki-laki dingin bertubuh tinggi itu berjalan mendekati mereka.


Dari pakaian dan penampilannya, mereka jelas tahu jika laki-laki tampan ini tidak berasal dari desa ini.

__ADS_1


"Tolong putriku Tuan..." Bapak memohon kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu mendudukkan dirinya di samping Asri, memandangi wajah basah berantakan Asri dengan alis terangkat.


"Kak Kevin?" Panggil Asri spontan ketika melihat laki-laki itu.


Tidak!


Dia bukan Kevin, pikir Asri. Laki-laki ini bukan Kevin, sekilas memang terlihat seperti Kevin tapi itu hanya sekilas saja karena begitu Asri memperhatikan wajah laki-laki tampan itu ia langsung menyadari jika laki-laki ini jauh lebih dewasa dari Kevin.


Tidak hanya itu saja, hal yang paling mencolok dari laki-laki ini adalah kontur wajahnya yang seolah dipahat dengan sempurna dan memiliki obsidian dingin seperti almond.


"Bukan.." Bisik Asri setelah menyadari kesalahannya.


Laki-laki itu mengernyit tidak senang,"Aku adalah Arka, bukan Kevin!" Ia mengoreksi Asri dengan nada dingin.


"Tuan...tolong selamatkan putriku, bantu aku membawanya keluar dari desa. Jika tidak... hidupnya akan hancur di sini." Bapak memohon kepada Arka- laki-laki pemilik obsidian dingin yang kini sedang duduk berjongkok di samping Asri.


Arka memang bukan penduduk desa ini tapi ia bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi saat ini secara sekilas. Apalagi ketika melihat segerombolan orang-orang desa berlari menuju tempat mereka duduk sambil menyebut-nyebut nama seorang gadis-


"Jadi ini adalah sebuah praktik pernikahan paksa, Hem?" Suara beratnya mengalun dingin.


Asri sangat malu dan ia tidak berani menatap wajah tampan laki-laki itu terlalu lama. Ia segera memalingkan wajahnya menatap tanah di depannya dengan perasaan yang teramat 'putus asa'.


Ia tidak yakin laki-laki asing ini mau membantunya karena mereka tidak saling mengenal, di samping itu penampilannya saat ini terlalu kacau sehingga laki-laki ini mungkin tidak mau berurusan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2