Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.10


__ADS_3

Safira dan Ali memutuskan untuk membawa Ai pulang bersama mereka ke rumah setelah kejadian ini. Mereka pikir bila Ai untuk sementara waktu tidak sekolah sampai para guru memberikan pemahaman kepada anak kelas mengenai kondisi istimewa Ai.


"Nyonya Safira," Panggil seorang wanita begitu Safira keluar dari ruang kepala sekolah.


"Eh Bu guru," Ketika menoleh dia melihat orang yang ternyata memanggilnya adalah salah guru di sekolah ini.


Safira kebetulan mengenalnya karena beberapa kali mereka sempat mengobrol ketika Safira mengantar atau menunggu Ai pulang sekolah.


"Apa kita bisa bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada Nyonya." Katanya sopan.


Memang semua orang di sekolah ini kecuali Dinda memanggil Safira dengan sebutan Nyonya. Panggilan ini tidak berlebihan mengingat Safira adalah istri dari presiden direktur perusahaan yang tepat berada di seberang sekolah.


Bahkan keluarga Ali adalah keluarga berada yang murah hati dan rendah hati. Mereka selalu memberikan kesan hangat dan ramah sehingga orang-orang yang mengenal mereka tidak canggung untuk sekedar menyapa.


Safira tidak langsung menjawab, dia terlebih dahulu menatap Ali untuk meminta pendapatnya.


"Pergilah, aku dan Ai akan menunggumu di depan." Kata Ali mengizinkan.

__ADS_1


Safira tersenyum, dia mengecup punggung tangan Ali sebelum mendatangi guru itu.


"Nyonya, terimakasih untuk waktu Anda dan silakan duduk." Guru itu membawa Safira ke dalam ruang guru.


Mempersilakan Safira duduk di depan mejanya. Safira tersenyum ringan, dia duduk tanpa canggung ataupun malu.


"Apa Bu guru ingin membicarakan sesuatu kepadaku? Aku pikir ini adalah masalah yang cukup penting." Kata Safira setelah mengamati ekspresi guru itu.


Membaca ekspresi wajah seseorang sudah menjadi kebiasaan untuk Safira. Ini juga karena pekerjaannya di bidang hukum selama bertahun-tahun sehingga dia tidak mudah menghilangkannya.


Guru itu tersenyum ringan, Safira sudah pernah menceritakan tentang pekerjaannya di lembaga hukum sebelum menikah dengan Ali. Jadi, dia tidak terkejut dengan tanggapan cepat Safira.


Safira tidak menyadari bila sorot matanya saat ini cukup tajam dan agak dingin.


"Ada apa dengan mereka? Apa Ibu bisa menceritakannya kepadaku?" Safira terdengar mendesak.


Jadi guru itu tidak membuang waktunya,"Kemarin Ai menemui Dinda di sini. Aku dengar dari percakapan mereka Ai ingin meminta bantuan kepada Dinda tentang suatu masalah di kelas. Tapi reaksi yang diberikan Dinda membuat ku sangat terkejut. Dia bilang jika aku tidak salah..monster! Dia mengatakan Ai adalah monster."

__ADS_1


Jantung Safira berdebar keras, kemarahannya kepada Dinda semakin tidak tertahankan. Dia ingin bertemu dan berhadapan langsung dengan Dinda karena hatinya sungguh tidak bisa menerima semua kekejaman yang anaknya terima tanpa tahu apa-apa.


Padahal Ai tidak pernah berbicara sembarangan atau bahkan sampai menyakiti seseorang. Tidak, putrinya bukanlah anak yang serendah itu.


"Apa hanya itu saja?"


"Tidak.. tidak," Guru itu melambaikan tangannya.


"Aku juga ingat dia membawa masalah tentang si kembar. Dia bilang bila setelah si kembar ada Nyonya pasti akan melupakan Ai. Kegunaan Ai di rumah itu sudah tidak ada lagi semenjak si kembar lahir." Guru itu menjelaskan dengan hati-hati.


Safira meremat kedua tangannya menahan marah, kedua matanya yang jernih mulai memerah ingin menangis.


Level kemarahan tertinggi itu bukanlah berteriak atau menghancurkan barang, namun itu adalah menangis. Ketika kamu menangis karena marah itu artinya melampiaskannya dengan kata-kata atau bertindak adalah hal yang sia-sia. Menangis adalah bukti bahwa kemarahan yang dirasakan sudah sampai tahap dimana ketidakberdayaan dan rasa sakit itu bercampur.


"Apa hanya itu saja?" Tanya Safira lagi.


Guru itu menganggukkan kepalanya dengan ragu.

__ADS_1


"Nyonya, aku mengatakan ini agar kalian lebih memperhatikan Ai lagi di rumah. Berikan dia perhatian agar dia tidak terlalu kesepian dan terbujuk kata-kata kejam seperti yang Dinda katakan. Ini akan berdampak buruk untuk pertumbuhan Ai di masa depan." Guru itu menasehati.


Safira tersenyum tipis,"Aku mengerti. Terimakasih untuk saran dan informasi Bu guru. Aku akan belajar dari kejadian ini untuk lebih memperhatikan Ai lagi." Katanya setelah berulangkali menenangkan pikirannya.


__ADS_2