Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.5)


__ADS_3

l


"Asri," Panggil Ai merasakan hatinya menghangat.


"Aku minta maaf, caraku ini mungkin salah tapi aku sungguh tidak punya cara lain agar kalian berdua bisa berbahagia. Setidaknya, duo kulkas itu akan mengejar-ngejar kalian dengan cara apapun dan yah.. sayangnya itu agak ekstrim." Asri terus saja berbicara dengan sinar penuh pengharapan di dalam matanya.


"Melihat ekspresi kalian setiap kali bertemu dengan mereka-"


"Asri, kami tahu dan kami mengerti apa yang ingin kamu sampaikan." Ai memeluk Asri, memeluknya untuk berbagi kehangatan bersama.


"Benar, Asri. Kami tahu dan kami mengerti apa yang ingin kamu katakan." Mega bringsut mendekati mereka berdua, merentangkan tangannya yang panjang dan memeluk mereka dengan perasaan hangat yang tidak pernah terlukiskan.


"Kalian.." Cairan hangat mulai mengalir satu demi satu dari mata Asri.


".. sangat beruntung." Ucapnya seraya menghapus cairan hangat yang mengalir di pipinya.


"Bagaimana mungkin kami bisa beruntung?" Ai bertanya heran.


"Jelas kamu lah yang paling beruntung di sini." Karena diantara mereka bertiga hanya Asri yang tidak punya masalah tentang hati, setiap hari Asri selalu tertawa dan bertindak ceria dalam situasi apapun.


Tiada yang lebih membahagiakan selain posisi Asri.


"Kamu salah," Asri tersenyum kecil.


"Apa kalian ingat di malam Ai pingsan dan dirawat di ruang medis?"


Ai dan Mega tentu mengingatnya.


"Malam itu sulit dilupakan." Ujar Mega tidak bisa menahan senyum diwajahnya.


"Ya, kita pernah berjanji untuk saling memberitahu rahasia masing-masing suatu hari nanti. Dan malam ini..aku ingin memberitahu kalian rahasia hatiku."


Ai dan Mega tidak sengaja melupakan janji itu, jika tidak diingatkan Asri mereka mungkin akan terus melupakannya.


"Maafkan aku. Jika kamu tidak mengingatkan maka aku akan tetap melupakan janji itu." Ai berseru panik. Padahal dia sendiri yang memulai janji itu tapi dia sendiri yang melupakannya.


Ini bukanlah kebiasaan yang baik!


"Aku juga. Bila tidak diingatkan kami mungkin aku akan terus tidak mengingatnya." Mega tidak jauh berbeda dengan Ai.

__ADS_1


Asri tersenyum.


"Tidak masalah. Kita bisa membicarakannya malam ini." Asri tidak mempermasalahkannya.


"Jadi, rahasia apa yang ingin kamu beritahukan kepada kami?" Mega melepaskan pelukannya agar mereka bisa berbicara dengan nyaman.


Ai juga ikut melepaskan pelukannya.


Asri mengambil nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya.


"Aku..ingin memberitahu kalian bahwa aku sudah jatuh cinta kepada seseorang." Ini adalah kalimat pertama yang berhasil keluar dari mulutnya.


"Benarkah?" Mega jelas antusias.


Asri tersenyum malu."Benar, aku sudah menyukai sejak hari kedua kita masuk pondok pesantren. Dan selama ini pula aku telah diam-diam memperhatikannya dari jauh tanpa berani mendekat."


Dia memang mempunyai kepribadian yang ceria dan mudah berteman tapi ketika menyangkut hati dia tiba-tiba menjadi gadis pemalu atau lebih tepatnya pengecut.


"Allahuakbar, sudah selama ini?" Dan kenapa dia belum pernah menyadarinya?! Ai sungguh tertekan.


Asri terhibur dengan reaksi mereka berdua.


"Lalu..siapa.. laki-laki itu? Jangan bilang dia dari kalangan Ustad?" Mega tidak sabar.


Asri lagi-lagi tertawa dan buru-buru menutup mulutnya.


"Ini..aku sudah pernah mengatakan sebelumnya jika aku tidak suka laki-laki yang lebih tua dariku. Aku lebih suka dia lebih tua satu atau dua tahun dan tentu saja, itu bukan dari kalangan Ustad." Asri segera menepis.


"Lalu, siapa?" Ai lebih tidak sabar.


"Dia.. laki-laki itu adalah Kak Kevin, ketua petugas kedisiplinan asrama laki-"


Plak


Terdengar suara benda jatuh. Dari suaranya itu seperti buku yang jatuh secara tidak sengaja dan mengenai lantai.


"Apa kalian mendengarnya?" Bisik Mega mulai berkeringat dingin.


"Aku dengar."

__ADS_1


"Aku juga."


Jawab Ai dan Asri tidak kalah gugupnya dari Mega.


"Ada seseorang di sini." Kata Asri berbisik.


Suara jantungnya yang berdebar-debar kencang memenuhi kedua indera pendengarannya. Bahkan kedua tangannya mulai gemetar ketika memikirkan kemungkinan mereka akan ketahuan.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Mega mencari solusi.


Ai yang paling jujur diantara mereka memberikan sebuah solusi,"Haruskah kita keluar dan mengakui kesalahan?"


"Tidak!", Mega segera menolak.


"Tentu saja tidak!", Asri juga menolak.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Ai berbisik.


"Tunggu. Jika ada suara langkah kita tidak punya cara selain mencari tempat persembunyian." Asri memberikan solusi yang paling aman untuk saat ini.


"Benar, kita harus menunggu." Mega mendukung.


Setelah itu mereka bertiga benar-benar terdiam, tidak ada yang berani bersuara ataupun membuat gerakan yang bisa menimbulkan suara.


Sunyi, sangat sunyi di lantai dua masjid. Kecuali suara orang membaca Al-Qur'an di bawah, mereka tidak mendengar suara apapun lagi dari luar.


"Apa kita harus keluar untuk melihat situasi?" Ai sekali lagi bertanya.


Mega dan Asri saling pandang. Ini adalah keputusan yang sangat penting untuk ending yang akan dapatkan besok. Entah itu dihukum atau tidak, semuanya ada pada keputusan malam ini.


Mega mengangguk.


Asri memejamkan matanya dengan berat hati,"Baiklah, kita akan keluar untuk melihat situasi."


Bersambung...


Siapa hayooo


Kalau ada yang jawab benar saya kasih up lebih deh, inshaa Allah.

__ADS_1


__ADS_2