
Shin melirik pada wanita yang tengah menertawakan mereka. Sungguh pemandangan yang sangat langka bagi Shin melihat wanitanya bisa tertawa lepas.
"ternyata ada manfaatnya juga kau tinggal di rumahku Youn, lihat saja wanitaku bisa tertawa seperti itu." Shin bermonolog.
Norin berhenti tertawa setelah menyadari jika dirinya sedang di perhatikan oleh Shin. Kemudian, Norin menundukkan wajahnya.
"aku senang jika aku bisa membuatmu tertawa seperti tadi sayang!" ucap Shin pelan.
Norin bergegas jalan tanpa menghiraukan ucapan pria di sampingnya. Shin tersenyum tipis melihat wanitanya berjalan lebih dulu. Lalu, ia mengekor dari belakang.
Tiba di teras mansion, sang sopir sudah berdiri di depan bersiap untuk mengantarkan mereka pergi.
"ayok sayang!"ajak Shin.
Norin menurut saja masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka secara otomatis.
"tuan, kita akan kemana?" tanya sang sopir.
"ke danau di bawah." jawab Shin.
Kemudian sang sopir melajukan mobilnya meninggalkan halaman mansion besar tersebut.
Anisa belum beranjak pergi. Ia masih betah menatap pada hamparan air danau. Merenungi nasibnya yang tak di sangka akan mengalami hal menyakitkan seperti ini. Suami yang selama ini ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya, suami yang selalu ia percayai setiap ucapan yang keluar dari bibirnya, suami yang selalu ia percayai kemana pun suaminya melangkahkan kakinya. Namun hari ini, Anisa merasa dirinya hanya seorang wanita yang benar benar bodoh, karena rasa cintanya pada suami, ia percaya begitu saja.
Lagi lagi Anisa menangis, menangisi hidupnya juga anaknya, Al.
"Anis...............!"
Anisa menoleh ke belakang dimana sumber suara itu berasal. Nampak wanita cantik yang ia rindukan tengah berdiri menatapnya.
Segera ia berdiri dan berjalan pelan." No....Norin...apa kamu benar benar Norin?" Rasanya Anisa seperti bermimpi bertemu dengan sahabatnya di tempat biasa dulu mereka saling bercerita sepanjang hari.
Norin mengangguk lalu tersenyum."iya, ini aku Norin!"
Anisa berlari menghambur ke pelukan sahabatnya itu. Ia menangis sejadi jadinya di pelukan Norin. Ia tidak mempedulikan tatapan pria bermata sipit yang mengarah ke padanya.
Norin membiarkan sahabatnya itu menumpahkan tangisannya di pelukannya. sampai bajunya basah terkena air mata Anisa. Meskipun sebenarnya ia sendiri penasaran dan tidak sabar ingin mengetahui atas apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Namun, ia membiarkan Anisa menumpahkan isi hatinya terlebih dahulu.
"tenangkan dirimu Nis, istighfar !" ucap Norin sambil mengelus punggungnya memberi ketenangan pada sahabatnya itu.
Lima menit sudah Anisa di pelukan Norin. tangisnya mulai mereda meskipun sesekali masih terisak.
"Ayok Nis, duduk dulu!" Norin menuntun sahabatnya untuk duduk di bangku panjang. Shin mendekati mereka dan berdiri di samping Norin, ia juga penasaran apa yang sedang terjadi pada sahabat kekasihnya itu.
"sekarang, kamu ceritain sama aku, kamu kenapa Nis? tanya Norin pada Anisa yang sudah terlihat tenang. Anisa sendiri sebenarnya malu pada pria yang berdiri di samping Norin telah menangis sesenggukan seperti tadi.
"kamu kenapa Nis? apa yang terjadi? Al, ibu, serta suamimu semuanya baik baik aja kan?" tanya Norin kembali karena Anisa masih belum mau menjawab.
"su....su....suamiku menikah lagi Rin!" ucap Anisa terbata bata, menahan tangisnya yang hendak keluar lagi.
"apa?" reflek Norin berdiri.
"Si Rendi nikah lagi Nis? kamu ngga becanda Nis? tanya Norin dengan ekspresi terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka jika suami Anisa yang terlihat sholeh tega menyakiti sahabatnya.
Anisa mengangguk lalu menangis sesenggukan lagi. Norin segera memeluknya kembali.
__ADS_1
"tenang Nis, tenang, istighfar!"
Anisa berhenti menangis lalu melepaskan pelukan dari Norin, ia menyeka air matanya dengan kasar.
"dari mana kamu bisa tau kalau suami mu nikah lagi Nis? tanya Norin setelah Anisa merasa tenang.
Anisa mengatur nafasnya."akhir akhir ini Rendi berubah sikap Rin, aku penasaran dan tadi siang aku mengikutinya ke sebuah rumah kontrakan dan aku memergokinya sedang menggauli seorang perempuan dan aku tau perempuan itu adalah bawahannya di pabrik. awalnya aku fikir mereka berzina, tapi kenyataannya Rendi mengakui kalau mereka sudah menikah secara siri dan perempuan itu sedang mengandung anaknya sekarang."
"astaghfirullah....ngga nyangka si Rendi bisa berbuat seperti itu sama kamu Nis, bukannya dulu dia yang ngejar ngejar kamu ya Nis, yang bucin banget ke kamu. Tapi, ya begitulah sifat manusia, bisa berubah kapan aja. yang baik jadi jahat yang jahat jadi baik."
"hatiku sakit sekali Rin, sakit rasanya suamiku tega mengkhianati aku. Aku ngga nyangka Rin, nasibku akan sama dengan ibuku, yang di tinggal suami saat aku masih sangat kecil dan sekarang suamiku sendiri akan berlaku sama terhadapku dan juga anak ku yang baru berusia dua tahun. Apa salah dan dosa ibuku sehingga aku harus mengalami nasib yang sama dengannya?"
"Dasar laki laki brengsek, tega sekali menyakiti wanita yang sudah melahirkan anaknya, kalau ada di hadapanku sudah aku bunuh dia," ucap Shin tiba tiba. Ia merasa geram sekali mendengar cerita dari teman kekasihnya.
Norin dan Anisa menoleh pada Shin, mendengar ia berbicara setelah dari tadi diam mematung.
Shin menggaruk tengkuknya, ia salah tingkah di tatap datar oleh dua wanita cantik di sampingnya.
"ehem, lanjutkan saja cerita kalian, aku tidak akan ikut berbicara lagi,"ucap Shin lagi.
Norin dan Anisa saling pandang lalu tersenyum. Mereka tidak menyangka pria dingin itu berpihak pada kaum ibu ibu padahal ia sendiri laki laki.
"Terus apa rencana kamu selanjutnya Nis?"
"aku...aku ngga mau di poligami Rin? aku ingin bercerai. Apa enaknya berbagi suami. Lebih baik aku jadi single mom aja Rin, aku yakin aku bisa membesarkan Al sendiri meskipun tanpa suami, seperti dulu ibuku yang bisa membesarkan aku tanpa suaminya hingga saat ini."
"sabar ya Nis, kamu harus kuat demi baby Al, demi ibu mu! life must go on. kamu masih muda dan cantik siapa tau di depan sana jodoh sebenarnya sedang menunggumu dan siapa pun itu aku berharap pria itu jauh lebih baik dari si Rendi."
Anisa tersenyum." mikirnya jauh amat Rin, aku ngga mikirin itu Rin! aku cuma mau fokus nyari uang yang banyak buat Al."
"terus, apa kamu udah minta cerai sama si Rendi?"
"itu masalah nya Rin, aku udah minta di ceraikan talak tiga sekalian tapi dia kekeh ngga mau cerai in aku. Aku harus gimana Rin?" jawab Anisa sambil me re mas buku buku jarinya.
"bawa saja ke jalur hukum," Shin tiba tiba bicara lagi.
Norin dan Anisa menoleh pada laki laki yang pandangannya menatap pada hamparan air danau. Padahal telinganya sedang terbuka lebar mendengarkan percakapan mereka.
"bawa ke jalur hukum butuh uang banyak tuan, saya ngga punya uang untuk bayar pengacara agar prosesnya lebih cepat, karena saya ingin secepatnya bercerai dari laki laki itu."
"jika kamu mau, saya akan membayar pengacara itu untuk memproses perceraian mu, ya anggap saja aku menolong sahabat kekasihku !"
"sahabat kekasih? ja jadi kamu benar benar udah jadian sama tuan Shin Rin?"
"bukan pertanyaan yang penting Nis!"
"kalau kamu tidak percaya lihat saja di jari manisnya."
Anisa langsung memegang tangan kiri Norin dan ia melihat sebuah cincin berlian melingkar di jari manisnya. Anisa menganga melihatnya.
"kamu udah tunangan sama tuan Shin Rin?" tanya Anisa yang masih menatap pada cincin berlian yang harganya fantastis.
Ya bisa di bilang seperti itu, jadi kamu jangan coba coba menjodohkan nya lagi dengan pria IT itu karena Norin sudah menjadi milikku?"
"kok dia bisa tau tentang Doni?
__ADS_1
Kalau Norin sudah tunangan sama tuan Shin, berarti ngga ada celah buat a Doni? kasian sekali a Doni," gumam Anisa dalam hati.
"tunangan? apa yang di katakan nya benar aku ini tunangannya atau hanya sekedar ngomong aja?" Norin bermonolog.
"hello......bagaimana? apa kamu mau aku membantu mu untuk menyewakan seorang pengacara?"
Anisa dan Norin terperangah." oh, ya ya....tuan saya mau ! terima kasih banyak," jawab Anisa tiba tiba.
Cukup lama mereka mengobrol di tepi danau dan tanpa terasa waktu sudah mulai gelap.
"kamu naik apa kesini nya Nis?"
"naik ojek Rin, hm aku boleh nginep di rumahmu dulu ngga Rin ? aku ngga mau ketemu Rendi dia pasti mencari ku ke rumah."
Norin menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya.
"mulai sekarang Norin tidak lagi tinggal di rumahnya melainkan di rumah saya. kalau kamu mau kamu bisa ikut dengan kami," ucap Shin tiba tiba.
"apa bener seperti itu Rin?"
Norin mengangguk kecil.
"kalau gitu aku ikut kalian ya?"
" bagaimana dengan mamah dan Al?" tanya Norin.
"aku nanti nelpon mamah buat jagain Al malam ini."
kemudian mereka pun beranjak pergi meninggalkan tepi danau menuju mansion Shin yang ada di atas bukit danau tersebut.
"kok aku baru tau kalau ada rumah mewah di atas bukit?" ucap Anisa sambil menatap kagum pada bangunan megah di hadapannya.
"karena kamu udah lama ngga pergi ke tepi danau lagi Nis makannya baru tau. yaudah yuk masuk dulu ke dalam."
Mereka jalan beriringan memasuki rumah besar tersebut.
"ini beneran rumah tuan Shin Rin?" tanya Anisa sambil matanya mengitari sekeliling rumah tersebut.
Norin mengangguk.
"bi....bibi....!" teriak Shin.
Sang bibi tergopoh gopoh menghampiri mereka." iya tuan, Hoon?"
"tolong antar kan teman nyonya muda ke kamar kosong."
Anisa dan Norin saling pandang."nyonya muda!" celetuk Anisa pada Norin. Namun, wanita itu diam saja.
"kamar kosong belah mana ya tuan ?"
"menurut bibi ?"
"ada satu satunya kamar yang sudah rapi di depan kamarnya tuan Youn, tuan!"
"ya sudah tidak apa apa, dekat dengan buaya darat itu pun tidak apa apa," jawab Shin.
__ADS_1