Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.11)


__ADS_3

"Ini bohong, ini pasti bohong!" Teriaknya marah, ia sulit mempercayai semua yang ia dengar tadi.


"Bagaimana mungkin itu dia! Bagaimana mungkin gadis cacat itu lebih baik dariku! Jelas-jelas akulah yang terbaik dari mereka semua bahkan dari gadis cacat ini sekalipun! Aku mempunyai semua yang tidak gadis cacat itu miliki! Tapi kenapa... kenapa Ustad Vano lebih memilih dia daripada denganku?"


Ustad Vano tidak langsung menjawab pertanyaan Almaira. Tatapan dingin dengan ekspresi datar di wajahnya menunjukkan bahwa ia saat ini sangat marah. Dia marah karena gadis-nya direndahkan, padahal siapapun yang merasa lebih baik dari siapapun sejatinya lebih buruk dari siapapun.


"Jika aku mengatakan dengan jujur Ai jauh lebih sempurna dari dirimu. Mulai dari hati, tingkah laku, dan cara bicaranya menunjukkan bahwa ia adalah seorang gadis terpelajar. Ia tidak pernah berani merendahkan orang lain hanya karena ia cerdas atau berasal dari keluarga kaya. Tapi kamu berbeda, kamu merendahkan orang lain hanya karena ia lahir berbeda. Memangnya kenapa jika dia lahir berbeda? Bukankah yang menciptakannya adalah Allah? Hanya Allah SWT lah yang menciptakan kita semua dengan bentuk yang sebaik-baiknya, lalu kenapa kamu begitu berani mengecap Ai cacat hanya karena Allah mengirimnya ke dunia ini dengan sedikit perbedaan? Tidakkah Allah menciptakan segala sesuatu dengan bentuk yang sebaik-baiknya tapi mengapa kamu masih berani mengecap apa yang Allah ciptakan adalah sesuatu yang 'cacat'?" Tanya Ustad Vano dengan nada tajam dan penuh perhitungan.


Ia ingin tahu apa jawaban orang yang selalu merasa 'sempurna' ini ketika dihadapkan dengan nama Allah.


Almaira gemetaran. Ia meremat pakaiannya takut karena telah berani mencela ciptaan Allah. Sudah jelas di dalam Al-Qur'an bahwa,

__ADS_1


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ 


Laqod kholaqnal-ingsaana fiii ahsani taqwiim


"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," (QS. At-Tin 95: Ayat 4)


Namun, hatinya masih menolak untuk menyerah. Dia masih tidak bisa menerima jika gadis itu adalah Ai, gadis cacat yang akan membawa kesia-siaan di dalam hidup Ustad Vano ke depannya.


"Almaira, tidakkah kamu pernah mendengar bila segala sesuatu ada di tangan Allah?" Potong Ustad Vano tidak sabar.

__ADS_1


Almaira tidak mengerti,"Aku pernah." Jawabnya bingung.


"Lalu kenapa kamu masih berani menghakimi kehidupan Ai sebelum ketetapan Allah datang? Jika Allah berkehendak, semua teori-teori yang kamu baca dan dengar tidak akan berguna sama sekali. Jika Allah berkehendak, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Dan jika Allah berkehendak, seberapa pun mustahil masalah itu tidak akan berarti apa-apa untuk-Nya." Ia lalu beralih menatap Ai yang kini masih tertunduk dalam menyembunyikan wajahnya, entah apa yang sedang kekasihnya pikirkan sekarang, Ustad Vano tidak bisa menebaknya.


Namun satu hal yang pasti, dia sangat berharap Allah menjaga hati Ai untuknya, meneguhkan hati Ai agar jangan lagi meragukan dirinya sendiri.


"Dan tentang perasaan ku ini adalah fitrah yang Allah berikan kepadaku. Dia memberikan ku rasa ini adalah bukti bahwa aku adalah salah satu laki-laki yang paling beruntung di dunia ini bisa bersanding dengan ciptaan 'spesial-Nya'. Ia kukuhkan hatiku untuk Ai, ia kuatkan hatiku untuk Ai sampai batas dimana aku tidak menginginkan perempuan manapun kecuali dirinya. Demi Allah, kecuali Aishi Humaira, aku tidak menginginkan yang lain. Dan sumpah ku ini pernah aku ucapkan di depan Pak Kyai dan Umi di hari aku menolak perjodohan kita. Selain Aishi Humaira, aku tidak menginginkan yang lain."


Tidak ada yang bisa mengelak bahwa setiap kata-kata Ustad Vano telah menyentuh hati mereka, setiap kata-kata dari sumpah Ustad Vano telah meluluhkan hati mereka, membuat mereka tenggelam dalam rasa kekaguman menyaksikan betapa tulus dan lembutnya sebuah perasaan cinta bila dilandaskan rasa iman kepada Allah SWT.


"Om Ali," Ustad Vano kini membalik tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Ali, laki-laki hebat yang pernah membuat perjanjian dengannya 9 tahun yang lalu.

__ADS_1


"Aku sudah menunaikan janji ku, tinggal di sini selama bertahun-tahun untuk menuntut ilmu sembari memupuk diriku menjadi seorang pemimpin yang pantas memimpin Ai kelak. Dan sekarang, apa aku bisa meminta Om Ali menunaikan janji yang pernah Om janjikan kepadaku?"


Bersambung..


__ADS_2