Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Batal lamaran


__ADS_3

Bu Aminah dan Norin sibuk memasak bermacam macam menu makanan di dapur. Sesekali Norin melirik ibunya yang sedang mencincang daging dengan penuh semangat dan terus mengembangkan senyum di bibirnya. Norin ikut tersenyum melihatnya, karena bagi Norin kebahagiaan ibunya adalah hal yang utama.


"Rin, kira kira kita mau masak apalagi ya?" tanya sang ibu sembari menata menu makanan membuat meja makan tersebut penuh dengan bermacam macam olahan hasil karya mereka.


"aku rasa ini udah banyak banget Bu!" jawab Norin yang sedang ikut menata.


"tapi kan kita ngga tau calon besan sukanya makan apa? oleh karena itu kita banyakin menu makanannya biar mereka bisa memilih makanan apa yang mereka mau makan nanti."


Norin geleng geleng kepala mendengar ucapan ibunya yang begitu antusias untuk menyambut kedatangan calon besannya.


"terserah ibu aja mau masak apa lagi, aku udah ngga punya ide lagi mau masak apa. sepuluh menu ini aja udah kualahan Bu."


Bu Aminah melirik pada anak gadisnya lalu tersenyum tipis.


"aku mau mandi dulu ya Bu, belum sholat ashar." Norin beringsut dari meja makan tersebut, sementara Bu Aminah masih saja menata makanan padahal sudah tertata dengan rapih.


Hampir seharian memasak membuat tubuh Norin terasa lengket oleh keringat. memasak bermacam macam menu dalam jumlah yang banyak atas keinginan ibunya padahal belum tahu berapa banyak orang yang akan datang ke rumahnya nanti.


Suara adzan berkumandang menandakan waktu sudah memasuki sholat magrib. Mereka bersiap siap untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah dan Rizal sebagai imam nya.


"Rin, apa pak Rio ada bilang jam berapa akan datang?" tanya Bu Aminah di sela sela setelah mereka selesai mengerjakan sholat.


Norin menggeleng kan kepala."pak Rio cuma bilang besok malam akan kemari bersama keluarganya tanpa memberi tau jam berapa akan datang Bu!"


"yaudah biar nanti ibu telpon beliau aja."


Norin mengangguk lalu berdiri dan memasuki kamarnya.


Tak selang lama, Diva dan suaminya muncul dari balik pintu setelah mengucapkan salam.


"kok kamu baru datang Div, padahal ibu kan nyuruh kamu datangnya pagi biar bisa bantuin kami masak," protes Bu Aminah pada anak sulungnya.


"aku punya suami dan anak yang harus aku urus di rumah Bu!" jawab diva dengan wajah di tekuk. Ia kesal baru datang sudah di protes oleh ibunya.


"ini acara adik kandungmu lho div, lagi pula anak anak kan bisa di bawa kesini. bukannya Bagas selalu pulang sore ya? kamu bisa siang datangnya."


"yang punya acara si Norin tapi semua orang yang direpotin," jawab diva dengan ketus.


"eh ada kak diva dan mas Bagas, lho anak anak mana kak?" Norin yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka buru buru keluar dari kamar. Ia takut ibu dan kakaknya itu berdebat lagi seperti tempo hari.


"anak anak lagi di titipin sama neneknya Rin," jawab Bagas.


"oh gitu, padahal aku kangen banget lho sama mereka."


"ya mungkin besok atau besok lusa akan dibawa kemari."

__ADS_1


Sementara Diva diam saja dan memasang wajah masam.


Setelah itu, Rizal dan Bagas mulai berbenah mengangkut sofa yang ada di ruang keluarga lalu menggelar karpet tebal sebagai alasnya.


"kenapa ngga di ruang tamu aja sih Bu, ribet ribet amat harus angkat angkat sofa segala." Diva protes.


Bu Aminah melirik pada Puteri sulungnya yang yang protes.


"sofa di ruang tamu kecil div, gimana kalau calon mantu bawa rombongan banyak? ngga akan cukup di ruang tamu mah. Udah ngga usah banyak protes tolong cemilan di dapur ambil semua dan tata di meja tamu sama di tengah karpet. Ibu mau nemuin adikmu dulu." Bu Aminah beranjak dari hadapan Diva yang tengah cemberut.


Tok tok tok


"Norin, apa ibu boleh masuk?"


"masuk aja Bu, ngga di kunci." terdengar sahutan dari dalam.


Bu Aminah memasuki kamar anaknya dan nampak Norin tengah duduk di atas ranjang kecil dan masih memakai kimono.


"lho, anak gadis ibu yang sebentar lagi ngga gadis lagi kok belum ganti baju dan dandan sih?" tanya sang ibu yang merasa heran anaknya belum memakai pakaian ganti padahal jam sudah menunjukan pukul delapan.


"apa mas Rio nya udah datang Bu? kenapa perasaan aku jadi ngga enak ya Bu!" Norin tidak menjawab pertanyaan ibunya, melainkan malah balik bertanya.


Bu Aminah menghembuskan nafasnya perlahan lalu ikut duduk di ranjang kecil milik Norin.


"berdoa dan berfikir positif aja Rin, ibu tadi udah nelpon belum di angkat juga tapi ibu rasa pak Rio sama keluarganya lagi dalam perjalanan. kan tau sendiri keluarga pak Rio itu tinggal di kabupaten dan jarak kabupaten kesini itu tiga jam. Udah ngga usah mikir yang macem macem, cepat ganti baju dan dandan yang cantik ya? siapa tau bentar lagi mereka datang."


Bu Aminah keluar dari kamar Norin dan Norin mulai membenahi dirinya. Memakai gamis dan memoles sedikit wajahnya. Meskipun penampilannya sederhana tetap saja terlihat anggun.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. akan tetapi, rombongan yang mereka tunggu belum juga datang. Mereka semua mulai cemas termasuk Bu Aminah. Bu Aminah nampak sibuk ngutak Atik ponselnya menghubungi nomer pak Rio tapi tetap saja tidak di angkat angkat.


"gimana Bu, apa calon mba Norin bisa di hubungi?" tanya Rizal pada wanita paruh baya yang tengah berdiri dan sibuk dengan ponselnya.


Bu Aminah melirik ke arah Rizal yang tengah duduk di sofa lalu menggelengkan kepalanya.


"masih belum diangkat zal!" jawab Bu Aminah dengan pandangan tak lepas dari ponselnya.


"apa mungkin mereka terjebak macet kali Bu!" Bagas menimpali.


Sementara Diva, cuek saja melihat ibunya di landa kecemasan dan memilih untuk memainkan ponselnya saja.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan Rio serta rombongannya belum juga menampakan batang hidungnya. Sudah puluhan kali Bu Aminah menghubunginya tetap saja tidak di angkat dan pada akhirnya ponsel yang terus menerus Bu Aminah hubungi tidak aktif.


Bu Aminah menurunkan ponsel dari telinganya dengan lesu. Rizal mendekati ibunya yang tengah mematung lalu memeluknya.


"tenang ya Bu!"

__ADS_1


"ada apa dengan pak Rio ya zal? ibu yakin pak Rio orang baik dia tidak mungkin tega menyakiti kakakmu."


"iya Bu iya, mungkin beliau memiliki alasan kenapa membatalkan lamarannya malam ini. Ibu jangan mikirin ya, kalau memang mba Norin dan pria itu berjodoh pasti akan menemukan jalannya." Rizal, anak Bungsu Bu Aminah yang memiliki sikap dewasa menenangkan ibunya yang mulai terisak.


"ini tuh jadi ngga sih lamarannya kok lakinya ngga datang datang? udah jam setengah sebelas lho kasian anak anakku di rumah. Apa iya lamarannya mau tengah malam? kayak dedemit aja. Makannya kenali dulu bibit bebet bobotnya jangan langsung percaya aja sama mulut manis pria itu. proses pacaran juga penting untuk mengenal satu sama lain lho. ini baru kenal satu minggu langsung percaya aja. ya udah lah ya Rin, ngga usah ditangisi. terima aja nasibmu sebagai perawan tua yang entah kapan akan berganti status. toh itu juga akibat dari ulah mu sendiri yang sering nolakin laki laki. mungkin itu karma.........,"


"diem mba!" Rizal membentak kakak sulungnya yang tengah berceloteh panjang seperti kereta. Ia merasa geram sekali terhadap kakak sulungnya itu. Bagai mana tidak, di tengah tengah situasi yang memprihatinkan, kakaknya itu malah memperburuk keadaan. Ucapannya menyakiti dua wanita sekaligus, ibu serta kakaknya yang tengah berdiri mematung.


Norin yang sudah mendengar celotehan kakaknya berlari kecil masuk ke dalam kamarnya. Bu Aminah yang melihat Puteri ke tiganya berlari ke kamar langsung melepaskan diri dari pelukan si bungsu Rizal, lalu mengikuti Norin ke dalam kamar.


Norin menangis pilu sembari memegang dadanya yang terasa sesak. Bu Aminah langsung memeluk anak gadisnya yang tengah menangis sesenggukan.


"maafin ibu ya Rin, maafin ibu! kalau bukan gara gara ibu yang menaruh penuh harapan pada pak Rio mungkin kamu ngga akan sesakit hati kayak gini." Bu Aminah ikut menangis. Ia terus saja memeluk anak gadisnya yang masih saja menangis tanpa berhenti.


"yuk lah mas, kita pulang aja. ngapain disini kalau cuma mau nonton orang nangis." Diva menarik paksa lengan suaminya.


"Div, nanti dulu kasian ibu sama Norin!"


"halah, lebih kasian mana sama anak anak kita yang di tinggalin gitu aja demi mau menyaksikan acara yang memalukan ini. untung aja ngga ngundang orang, bisa ikut malu aku. udah hayuk, biarkan aja mereka nangis sampe pagi itu kan ulah mereka sendiri." Diva masih saja menarik tangan suaminya agar beranjak dari duduknya.


Rizal mengepalkan kedua tangannya ia merasa geram sekali atas sikap kakak sulungnya.


"pulang kalian semua, pulang!" teriakan Rizal membuat Diva berang.


"heh, kamu berani sekali bentak dan ngusir kami!"


"kenapa harus ngga berani sama kakak yang ngga tau diri macam kak Diva."


"oh udah merasa hebat kamu sekarang sampe kakak sendiri kamu lawan. apa kamu lupa kalau aku ini seorang kakak yang.....,"


"kakak yang apa? seorang kakak yang telah mengurus aku sejak masih bayi seperti yang sering kakak bilang sebelum sebelumnya? cih, apa kakak pikir aku lupa dan ngga tau kalau omongan kakak itu bulshit. aku tau kakak bicara bohong tapi aku pura pura ngga tau aja. kak diva mana pernah ngurusin aku yang ngurus dan peduli sama aku itu cuma ka Norin hingga sekarang."


Bagas yang menyaksikan perdebatan antara istri dan adik iparnya langsung menarik tangan diva keluar rumah. sementara mata nyalang Diva masih saja mengarah pada adik bungsunya Rizal.


Rizal menutup pintu dengan keras setelah dua pasutri itu keluar dari rumah ibunya dan membuat dua pasangan tersebut terperanjat kaget atas ulah Rizal.


"brengsek kamu zal!" ucap Diva kesal.


"udah udah, ayok pulang," ajak Bagas.


Bu Aminah menatap sedih pada hasil jerih payahnya yang tertata dengan rapih di meja makan. Rizal mendekati ibunya yang sedang diam sambil menatap bermacam macam menu di atas meja itu.


"mau kita apakan makanan sebanyak ini Bu?"


Bu Aminah melirik pada anak Bungsunya.

__ADS_1


"tolong kamu bagikan pada tetangga dekat ya zal ! semoga mereka belum tidur agar bisa langsung di makan karena kalau besok sudah pasti basi."


__ADS_2