
Hari semakin malam, kami pun sangat bahagia hari ini. Bermain dan ngobrol bersama. Lalu Ayah dan Ibu masuk ke kamar duluan. Mang Ujang juga mengecek mobil dulu.
Sementara aku , Satrio, Nathan dan Adik-adik bermain tutup mata.
Kami pun hompimpa bersama.
"Hompimpa alaihum gambreng..."ucap kami
"Yah masih belum, sekali lagi."ucap ku
"Hompimpa alaihum gambreng."ucap kami
"Nah , Mbak Nadia yang jaga."ucap Dina
"Yah."ucapku
Lalu mata ku ditutup oleh Dini.
"Sekarang Mbak Nadia jaga dan cari kita, nanti kalau udah megang kita, harus nebak nama kita siapa."ucap Dina menjelaskan
Lalu aku mulai berputar sambil ditutup mataku.
"Satu ,dua , tiga , ayo cari kita Mbak."ucap Dini
Lalu aku melangkah mengikuti kata hatiku, tiba-tiba aku memegang tangan seorang laki-laki, lalu aku menebaknya.
"Ini pasti Pak Nathan yaa?."ucapku
Lalu aku membuka mata dan ternyata itu Satrio.
"Waduh salah sebut lagi."batinku
"Yah Mbak Nadia salah, masa sama pacar sendiri gak tau sih Mbak, payah."ucap Dini
"Ma.... maaf yaa Mas."ucapku
__ADS_1
"Nggak apa-apa, santai aja, gak usah panik gitu."ucap Satrio santai
Akhirnya aku jaga lagi, ditutup matanya oleh Dina.
"Mbak hitung lagi yaa, satu dua tiga..."ucapku
Lalu aku mulai mencari mereka, tiba-tiba kakiku tersandung dan jatuh, namun ada seseorang yang berhasil menangkap ku. Saat ku buka mata ternyata Pak Nathan.
"Kamu gak apa-apa Nad?."tanyanya
"Nggak Pak, makasih yaa Pak."ucapku malu
"Ehem udah dulu yaa mainnya Adik-adik, Mas Satrio ngantuk, mau tidur dulu."ucap Satrio lalu pergi meninggalkan kami begitu saja
"Yah Mbak, Mas Satrio cemburu tuh, Mbak sih deket-deket Ka Nathan, udah tahu Ka Nathan jodohku."ucap Dini
"Iya Mbak gak asyik ah, Mas Satrio padahal baik banget, eh dibikin sakit hati."ucap Dina
"Ih kalian apaan sih, orang Mbak nggak sengaja, nanti juga Mbak minta maaf."ucapku
Lalu aku melepaskan pelukannya Pak Nathan.
"Maaf Pak."ucap ku malu
Ya Tuhan aku nggak sadar masih dipelukan Nathan, pantas Satrio marah, mungkin dia kesal tapi sadar kalau kita cuma sandiwara. Ah bodoh aku.
"Iyaa nggak apa-apa Nad."ucap Nathan
"Yaudah kami tidur dulu Mbak."ucap Dini marah
"Aku juga Mbak."ucap Dina
Lalu mereka meninggalkan ku.
Satrio pun keluar lagi dan menemui kami.
__ADS_1
"Maaf Nad, Nathan sebenarnya sudah tahu kalau kita cuma pacaran bohongan, tadi aku sudah memberitahunya, waktu aku mencari kamar bersama nya, jadi di depan Nathan kita nggak perlu pura-pura lagi, begitu pun masalah Melisa sudah aku ceritakan padanya ."ucap Satrio sambil memandang langit dengan resah
"Oh jadi Pak Nathan sudah tahu?."tanyaku
"Iyaa Nad, aku sudah tahu semua dari Satrio, bahkan Satrio sudah membuka cerita tentang siapa Melisa sebenarnya, maka tadi Melisa sudah aku putuskan hubungan kami lewat WhatsApp."ucap Nathan
"Hah ? koq bisa Pak? nanti dia marah dan bales dendam?."tanyaku heran
"Nggak koq dia biasa aja, dia malah senang kayaknya, jadi kalian nggak perlu sandiwara lagi, Satrio sudah berhasil membuka siapa sebenarnya Meli, dulu aku memang curiga bahwa Satrio dan Meli ada hubungan, ternyata benar dugaan ku, mereka sudah kenal sejak kecil dan Meli memang tergila-gila sama Satrio."ucapnya
"I...iyaa Pak maafin saya sudah bohongin Bapak juga, maaf saya nggak bermaksud apa-apa, saya hanya membantu Satrio mengungkapkan kebenaran."ucapku
"Satu hal yang harus kamu tahu Nad, pelaku pembunuhan Bi Nini sudah terungkap, barusan aku mendapat telepon dari Om Heru , kamu tahu dia siapa? dia Melisa ! orang yang menaruh ular dikamar tamu kala itu adalah orang suruhan Meli, dia ingin membunuh mu, makanya dia menaruh ular dikamar tamu, tadi Om Heru mengabariku tentang kasus ini, hanya Meli kabur dan belum ditemukan."ucap Satrio
"Oh begitu, ya Tuhan aku nggak nyangka dia makin kejam, terus koq bisa ketahuan itu orang suruhan Meli?."tanyaku
"Iyaa sebenarnya ada CCTV di seluruh penjuru rumah, hanya saja waktu itu sulit mencari wajah pelaku, karena Om Heru menyuruh banyak orang untuk mencari, akhirnya tertangkap lah pelaku tadi sore, pelaku awalnya tidak mengakui siapa yang menyuruh nya, namun karena dipukul dan diancam akan dibunuh, maka dia mengaku itu adalah perbuatan Melisa. Tapi sayangnya Melisa sudah tahu hal ini, makanya dia buru-buru kabur, polisi sedang mencari."ucap Satrio gelisah
"Ya Tuhan, gue gak nyangka, orang yang gue cinta selama ini sekejam dan sejahat itu, pokoknya besok pagi kita harus balik ke Bandung untuk cari Melisa, gue gak mau sampai dia kabur, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang busuk itu, nggak nyangka wajahnya cantik tapi perilakunya keji, untungnya lu cerita sama gue hari ini bro, kalau nggak gue bakalan terus percaya sama dia."ucap Nathan lemas dan akhirnya duduk merenung
"Aduh Sat, aku nggak tenang nih, kalau Melisa belum ditemukan, takutnya dia akan berbuat jahat lagi, jangan-jangan orang yang nusuk kamu waktu itu juga orang suruhannya, benar-benar psikopat tuh perempuan, harus cepat dibasmi."ucapku takut
"Yaudah kamu jangan khawatir Nad, ada aku dan Nathan yang melindungi kamu, yasudah sekarang kamu tidur, biar aku, Mang Ujang dan Nathan yang berjaga-jaga diluar, jangan lupa kunci pintu dan jendela, nanti aku akan cek kamar Bapak dan Ibumu, besok pagi kita harus ke Bandung, biar Bapak dan Ibu diantar Mang Ujang."ucap Satrio
"Iya Nadia, maafin aku sudah membawa mu dalam masalahku, kamu cepat masuk kamar dan jaga Adik-adikmu."ucap Nathan
"Iyaa baik aku ke kamar, jaga diri kalian baik-baik."ucapku
Lalu aku masuk ke kamar dan melihat keadaan didalam kamar, karena aku kebelet buang air kecil lalu aku ke kamar mandi dekat dapur, tiba-tiba ada 2 pria memakai topeng dan mengangkat senjata tajam.
"To... long."teriakku
"Diam kau gadis bodoh, jika masih teriak ku habisi nyawa mu."ucap penjahat itu
Lalu dia membawa sapu tangan untuk membekapku. Lalu aku dimasukkan ke sebuah mobil yang ada dibelakang villa, mereka masuk dari dapur villa.
__ADS_1
Terlihat Nathan dan Satrio mengejar mobil yang membawa ku, namun karena mereka jalan kaki mereka tak bisa mengejar mobil ini. Habislah sudah aku hari ini, semoga aku baik-baik saja dan tidak mati. Aku takut sekali, mana dileher ku ada pisau tajam. Ngeri banget, rasa nya seperti mau pingsan.