Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 5.12)


__ADS_3

"Asri, aku juga akan pergi. Aku akan memetik timun di sana." Aku menunjuk sudut baris keempat yang berbatasan langsung dengan bayam.


"Jadi kita benar-benar berpencar?" Ekspresi Asri terlihat lucu.


Aku tersenyum tipis,"Ya, ini kita lakukan agar segera selesai dan bisa kembali ke asrama."


"Baiklah, kalau begitu aku akan memetik bayam karena Mega sudah mulai menggali tanah mencari kentang."


Aku langsung melihat ke area kentang dan menemukan Mega sudah duduk berjongkok di tanah mulai menggali tanah.


Lalu aku dan Asri berpisah. Aku berjalan menyusu barisan yang paling ujung dari wilayah timun. Di sini selain menenangkan diri aku juga ternyata menemukan buah timun yang lebih besar dan lebih siap untuk dipetik daripada di tempat pertama.


"Alhamdulillah, tempat ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya." Pilihan ku tidak salah.


Aku lalu menaruh keranjang sayur ku di atas tanah dan tepat di sampingku agar memudahkan ku mengumpulkan timun. Setelah itu aku melihat-lihat timun yang paling besar di antara pohon yang ada di depanku.


"Buahnya besar-besar, mashaa Allah." Aku menjadi lebih bersemangat dan tanpa sadar melupakan kegelisahan ku.


Ternyata apa yang Bunda katakan memang benar. Hati akan menjadi tenang dengan sendirinya bila berhubungan dengan alam atau sesuatu yang berwarna hijau.


Ino adalah obat hati yang paling praktis.


"Astagfirullah!" Tanganku ditusuk duri lagi.


Ini bukan luka berdarah tapi tetap saja terasa sakit.


"Tidak apa-apa, ini akan baik-baik saja jika aku terbiasa."


Aku menghela nafas panjang. Mencoba memetik kembali timun yang lain. Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana cara memetik timun karena di rumah Bunda belum pernah menanam timun. Bunda lebih suka menanam bunga dan buah strawberry karena keempat adikku menyukai buah strawberry.


Berbicara tentang adikku, aku bertanya-tanya bagaimana kabar mereka sekarang di pondok pesantren Ar-Rahman?


Itu adalah pondok pesantren Paman Gio dan Bibi Annisa, lebih jauh dari pondok pesantren ku ini.


Ini bukan pondok pesantren tempat Ayah dulu mondok tapi ini adalah pondok pesantren yang menurut Ayah sangat bagus. Dulu, Ayah awalnya akan mondok di sini tapi karena ada beberapa alasan Ayah malah mondok di pondok pesantren Ar-Rahman dan Qadarullah bisa bertemu dengan Bunda.


Mashaa Allah.


"Astagfirullah, Ai! Apa yang sedang kamu lakukan?!"

__ADS_1


"Ah.." Tanganku tiba-tiba ditarik oleh..Ustad Vano?


Sejak..sejak kapan Ustad Vano ada di sini?


Tidak, tidak..ini bukan fokus utama. Tadi dia memanggilku..Ai?


Ai?


Dia memanggilku Ai, ya Allah!


Dia memanggilku Ai!


Kemarin dia hanya memanggil ku dengan panggilan Aishi Humaira dan sekarang..dia memanggilku Ai.


"Kenapa kamu diam saja membiarkan tanganmu terluka!" Dia menatapku marah dan juga.. khawatir?


Jantungku berdegup sangat kencang saat ini.


"Ini..tidak apa-apa, Ustad. Ini tidak berdarah." Kataku menahan gejolak bahagia di dalam hati.


Dia memegang tanganku, ah lebih tepatnya dia hanya memegang pergelangan tanganku yang terbungkus kain lengan panjang dari gamis ku.


Apakah dia mengkhawatirkan ku?


"Ini sungguh tidak sakit." Aku berbohong.


"Benarkah?" Dia menaikkan salah satu alisnya, Ustad Vano terlihat sangat tampan!


"Benar, Ustad. Ini tidak sakit." Kataku meyakinkannya.


"Lalu bagaimana dengan," Dia mengambil kain jilbab panjang ku dan menaruhnya di atas telapak tanganku. Apa yang sedang Ustad Vano lakukan?


".. sekarang?" Lalu, dia meremat telapak tanganku. Menekan duri-duri yang ada di telapak tanganku dan rasanya sungguh sangat sakit.


Dia tidak menekannya kuat tapi rasanya masih saja menyakitkan.


"Astagfirullah, ini sakit Kak Vano.." Kataku tanpa sadar membuat gerakan tangannya berhenti.


Beberapa detik kemudian aku tersadar dengan apa yang baru saja aku katakan. Ya Allah, ini sangat buruk!

__ADS_1


Ustad Vano pasti sangat marah kepadaku seperti kemarin-eh?


Kenapa Ustad Vano menatapku seperti itu?


Dia terlihat tidak marah. Wajahnya malah menunjukkan ekspresi lembut yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia.. apakah dia benar-benar mengingatku?


"Jangan lakukan ini lagi, Aishi." Dia menundukkan kepalanya, menyingkirkan kain jilbab dari telapak tanganku dan menatapnya dengan hati-hati.


Kali ini aku sulit melihat ekspresi wajahnya tapi ekspresi lembut tadi benar-benar sulit untukku lupakan.


"Apakah ini sakit?" Tanyanya masih dengan wajah tertunduk.


Aku benar-benar tidak bisa menahan senyumku. Mungkin ini terlihat konyol tapi aku sungguh tidak bisa menahannya.


"Ini sakit, Ustad." Kali ini aku tidak mau berbohong.


"Jika sakit maka kamu harus mengatakannya dari awal dan jangan berbohong lagi." Suaranya penuh tekanan.


"Aku minta maaf, Ustad. Aku benar-benar tidak bermaksud membohongi, Ustad." Kataku malu.


Aku benar-benar malu.


Tanganku.. tangan yang sedang disentuh Ustad Vano rasanya sangat dingin dan mulai bergetar ringan.


Aku tidak bisa mengendalikannya!


"Baiklah, itu akan masuk hitungan hukuman lain jadi kamu harus bersiap dari hari ini."


Aku,"...." Hukuman lagi?


Bersambung..


Alhamdulillah, bisa update juga ternyata. Makasih banget buat Kak @SitiZaida untuk hadiah pulsanya. Insha Allah besok saya akan up 4 atau 5 chapter untuk Kakak.


Sekali lagi saya ucapkan terimakasih 🍁


Oke, ini nulisnya dadakan banget. Mungkin banyak yang gak suka sama karakter Ai yang lemah, gak kuat, lebih suka diam dan semacamnya. Yah..bisa dibilang Ai itu karakter cengeng.


But, kalian harus tahu bahwa Ai tumbuh seperti itu karena dia mengerti perbedaannya dengan yang lainnya. Dia juga pernah mengalami siksaan psikologis sehingga mau tidak mau dia menjadi seseorang yang mudah tertindas. Tapi ini hanya karakter di atas kertas dan saya masih belum mengungkapkan sepenuhnya sisi Ai.

__ADS_1


Jika kalian gak suka gak apa-apa skip aja, saya juga gak maksa kalian baca kok🤭


__ADS_2