
"Sudah lebih tenang?" Tanya Ali begitu Safira mau melonggarkan pegangannya.
Safira menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ali. Dia yakin saat ini penampilannya pasti kacau balau karena terlalu lama menangis. Riasan yang Bunda berikan kepadanya tersapu air mata sehingga Safira menjadi malu menunjukkan wajahnya.
Padahal dia merias diri karena ingin tampil cantik di depan suaminya. Tapi karena terlalu banyak menangis dia menjadi kurang percaya diri dengan penampilannya sekarang.
"Malu, hem?" Bisik Ali dengan suara rendahnya.
Memang malu, dia menganggukkan kepalanya ringan.
"Kenapa harus malu? Aku sudah melihat semua yang ada pada dirimu. Mulai dari ujung kaki sampai kepala, aku sudah melihat semuanya." Ucapan ini semakin membuat Safira malu.
Dia tahu ini kekanak-kanakan tapi mau bagaimana lagi, dia tetap ingin tampil cantik di depan suaminya.
"Riasan Safira berantakan, Mas, karena tersapu air mata." Adu Safira dengan suara yang amat sangat kecil namun bisa didengar oleh Ali.
__ADS_1
Mendengar ini Ali tertawa rendah, tangan kanannya meraih kepala Safira dan menariknya untuk berhadapan dengannya. Tidak, Safira salah. Meskipun wajahnya basah dan memerah tapi kecantikan itu tidak akan pernah luntur.
Malah di setiap situasi Safira akan memiliki kecantikan tersendiri, jujur Ali tidak pernah bosan memandangnya.
"Mas Ali?" Panggil Safira menarik Ali dari lamunannya.
Ali tersenyum, dia menundukkan kepalanya mengecup singkat bibir merah dan ranum milik Safira.
"Apa yang harus aku lakukan Safira? Semakin aku melihat mu maka semakin pula aku merindukan mu. Mendekap mu seperti ini rasanya sangat tidak cukup, aku ingin lebih agar kamu tidak bisa melarikan diri dariku." Bisik Ali posesif.
Ali sejenak terdiam mendengar kata-kata itu. Dia menatap dalam wajah merah istrinya yang sudah ingin berpaling karena tidak kuat dipandang seintens ini olehnya.
"Maka kamu adalah surga untuk anak-anak ku. Ridho mu adalah ridho Allah maka aku berdoa setiap perbuatan dan sikap mereka dapat menyenangi hatimu sehingga surga tidak akan berpaling dari anak-anakku." Bisik Ali kini membuat Safira terpana.
Ali merasa terhibur dengan ekspresi malu bercampur terpesona istrinya. Dia tidak bisa menahan senyum lebar di wajahnya, rasa lega yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya kini membanjiri hatinya.
__ADS_1
Akhirnya tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka dan Ali yakin, setelah ini Safira tidak lagi merendahkan kualitasnya sendiri.
"Apa..aku boleh mencium mu?" Tanya Ali ikut malu.
Safira tersadar, kedua tangannya meremat kuat pakaian Ali menahan gejolak manis.
"Mengapa Mas Ali perlu meminta izinku? Kita adalah suami-istri dan..ini adalah hal yang biasa di dalam rumah tangga." Semakin dia berbicara semakin kecil pula suaranya.
"Lalu.." Ali sekali lagi mengangkat kepala istrinya. Menundukkan kepalanya, perlahan Ali mendekati wajah merah Safira. Menatap takjub kedua mata istrinya yang kini beralih terpejam karena gugup, tampak sangat menawan. Kemudian matanya beralih menatap bibir merah nan ranum Safira yang terbuka sedikit. Gugup bercampur tidak sabar, Ali dengan gerakan ringan menyatukan bibir mereka. Menciumnya lembut tanpa ada campur tangan hasrat. Ini memang tidak sepanas di malam-malam ibadah mereka namun ketulusan hati tersirat hangat dari ciuman lembut yang mereka lakukan.
Seolah-olah mereka telah berpisah bertahun-tahun lamanya untuk menahan rindu, ini.. sangat candu.
"Aku sangat mencintaimu, Safira. Aku sungguh sangat mencintaimu." Bisik Ali setelah melepaskan penyatuan mereka.
Dengan nafas memburu, Safira berjinjit mengecup bibir Ali singkat seraya memberikan sebuah senyuman yang manis.
__ADS_1
"Safira juga, Mas. Safira sangat mencintai Mas Ali. Sungguh, Safira sangat mencintaimu wahai Muhammad Ali Althalib, Ayah dari anak-anakku."