
Ustad Vano terdiam, beberapa detik kemudian sebuah senyuman lebar terbentuk sempurna di wajah tampan Ustad Vano. Kedua matanya yang biasa suka menatap tajam dengan suhu dingin kini melembut, menguraikannya menjadi laki-laki yang terlihat begitu lembut.
Ini sangat melegakan,
Melegakan rasanya begitu pengakuan ini Ai utarakan secara langsung kepadanya. Perasaan yang ia dapatkan sungguh sangat sulit ia gambarkan dengan kata-kata. Namun satu yang pasti, satu yang pasti bahwa ia sangat bahagia malam ini. Dia sangat bahagia dan ia mengakui dengan jujur bahwa ia semakin jatuh cinta kepada Ai, gadis lembut dan tulus yang telah menuntunnya di jalan Ai.
"Syukurlah..." Ustad Vano tidak bisa menahan rasa syukurnya.
"Aku lega mendengarnya." Katanya sambil menatap Ai dengan tatapan penuh cinta.
"Aku lega mendengarnya langsung darimu bahwa laki-laki itu adalah aku, laki-laki beruntung itu adalah aku. Aku sangat bersyukur wahai Aishi Humaira."
Ai kian bahagia,"Tidak, Ustad. Seharusnya aku yang paling beruntung di sini mendapatkan Ustad Vano. Aku pikir pada awalnya apa yang aku rasakan malam ini tidak nyata dan aku juga sering berpikir bila perasaan ku kepada Ustad Vano bertepuk sebelah tangan."
"Tapi faktanya ini semua nyata dan aku juga mencintaimu. Perasaan kita berdua ada untuk satu sama lain, kita tidak bertepuk sebelah tangan, Aishi. Allah tidak akan pernah membiarkan semua penantian kita berdua sia-sia."
"Ustad Vano... benar." Ai merendahkan kepalanya dengan senyuman yang masih terbentuk manis di wajah cantiknya. Rona merah terang di kedua pipinya bagaikan riasan tipis yang kian menambah pesona indahnya malam ini.
Diam membisu, mereka berdua terdiam dengan senyuman manis penuh rasa syukur di masing-masing wajah. Detak jantung mereka berdua yang sedang berpacu cepat tidak bisa membohongi bahwa hari ini mereka sungguh sangat bahagia. Mereka dilanda perasaan manis juga kebahagiaan yang telah bertahun-tahun mereka dambakan.
__ADS_1
"Aishi Humaira," Ustad Vano memberanikan diri meraih tangan lembut Ai yang kini terasa begitu dingin namun sangat hangat untuk Ustad Vano.
Nyatanya mereka berdua sama-sama gugup malam ini.
"Ya-ya, Ustad?" Ai membiarkan Ustad Vano mengambil tangannya, menggenggamnya erat dengan lembut dan hati-hati.
Gugup,"Maukah kamu me-"
"Argh...ada semut!" Teriakan seseorang tiba-tiba menginterupsi ucapan Ustad Vano.
Terkejut, sontak Ai segera menarik tangannya kembali dari Ustad Vano sambil melihat dengan was-was ke arah pohon besar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Semut...awas semut!" Dari pohon itu keluar berhamburan lebih dari satu orang.
Ustad Vano,"...."
Apa Ai sengaja membawa pasukan?
"Aku kan sudah bilang jangan terlalu dekat dengan pohon karena di sana ada sarang semut!" Hana merutuki nasib apes mereka saat ini.
__ADS_1
Dia padahal sudah sangat senang melihat adegan manis sepupunya yang biasa berwajah dingin bak kulkas berjalan. Dan ia juga sudah menunggu lama momen dimana Ustad Vano mengungkapkan rasanya kepada Ai, bahkan ia rela terus berjongkok dari balik pohon besar asrama agar bisa mendengar suara lembut Ustad Vano melamar Ai, akan tetapi sebelum ia bisa memenuhi obsesinya, Ratna tiba-tiba berteriak digigit oleh semut dan disusul oleh teman-teman kamar Ai yang lainnya. Mereka terlalu menempeli pohon dan secara tidak sengaja menyentuh rumah semut. Alhasil semut-semut yang ada di dalam sarangnya keluar untuk menyerang dan mengigit mereka.
"Maafkan aku, Kak. Gigitan semut nya terlalu sakit jadi aku tidak bisa tidak terkejut dan keceplosan berteriak." Ratna yang diomeli meminta maaf dengan sadar diri.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tanya Ustad Vano menarik perhatian mereka semua.
Tersadar karena telah ketahuan mereka semua termasuk Hana dengan kompak membariskan diri tidak berani menatap wajah Ustad Vano.
Mereka hari ini sangat berani mengganggu momen romantis Ustad Vano, si kulkas berjalan yang selalu berwajah datar.
Tidak ada yang mau menjawab atau lebih tepatnya tidak ada yang berani membuka mulut untuk menjawab.
"Tidak ada yang mau menjawab?" Ustad Vano menghilangkan citra lembut yang ia tampilkan kepada Ai.
Sekarang ia adalah Ustad Vano yang biasanya berwajah datar bila bertemu mereka.
"Baiklah, jika kalian tidak mau menjawab maka besok kalian dihukum berenang di dalam sawah berlumpur selam 1 jam di bawah sinar matahari siang hari." Ini adalah ancaman yang sangat mengerikan untuk kaum perempuan.
Semua orang,"...." Dia memang sangat ahli mematahkan hati perempuan!
__ADS_1
Bersambung...
Lagi?