
Di samping merasa sedih, Asri dan Mega sangat senang mendengar suara lembut Ustad Vano memanggil Ai dengan intim. Tidak ada yang lebih membahagiakan di hari ini kecuali setelah mendengar sapaan hangat nan intim Ustad Vano kepada Ai, sahabat yang sudah mereka anggap sebagai saudara sendiri.
"Ai sangat beruntung, perasaannya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan." Asri bersyukur sekaligus merasa cemburu karena Ai akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Hem, aku senang mendengarnya." Gumam Mega juga bersyukur.
Di sisi lain teman-teman kamar mereka segera mundur beberapa langkah ke belakang untuk berbagi informasi penting. Mereka sungguh tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di mata mereka saat tahu bila Ustad Vano memanggil Ai sayang, ah!
Tiba-tiba mereka secara kompak patah hati!
"Ai, apa kamu mendengar ku?" Ustad Vano masih berusaha membangunkan Ai.
Namun Ai seolah tertidur sangat damai. Ia terlihat tertidur sangat lelap, membuat ilusi jika dia tidak sedang pingsan. Akan tetapi wajahnya yang pucat segera membantah semua ilusi itu.
Tidak, itu tidak benar. Ai-nya sedang tidak baik-baik saja!
"Aku akan membawa Ai ke ruang medis." Kata Ustad Vano kepada mereka.
Dia mengangkat Ai dalam sekali gerakan, mendekapnya erat dan sarat akan kelembutan untuk berbagi kehangatan.
"Beberapa dari kalian ikut aku ke ruang medis. Aku harus tahu apa yang terjadi kepadanya sebelum jatuh pingsan." Perintah Ustad Vano dingin
Tanpa perlu menunggu respon dari mereka, ia langsung membawa Ai keluar bersamanya. Meskipun sedang membopong Ai, langkah Ustad Vano masih saja cepat dan membuat beberapa orang yang mengikuti di belakang hampir beberapa kali jatuh tersandung.
Ustad Vano sungguh tidak perduli. Baginya saat ini yang terpenting adalah keadaan Ai.
Tubuh Ai sangat ringan di dalam pelukannya. Padahal dia telah berpesan kepada Ai agar menjaga makan dan asupannya selama ia tinggal di luar kota. Tapi sepertinya Ai tidak mendengarkan karena buktinya saat ini ia sangat ringan untuk Ustad Vano.
"Dokter, tolong Ai, dok. Dia pingsan dan masih belum bangun padahal semua langkah pertolongan pertama telah dilakukan." Ustad Vano langsung masuk tanpa mengucapkan salam.
Membaringkan Ai di atas ranjang untuk segera diperiksa oleh dokter yang bertugas di pondok pesantren ini.
Dokter itu mengenal Ustad Vano sehingga dia tidak tersinggung. Daripada tersinggung dia malah mengkhawatirkan kesehatan Ai. Segera ia mulai memeriksa Ai. Mengecek tekanan darahnya, detak jantung, dan bola matanya.
Dokter itu melakukan prosedur kesehatan yang paling dasar kepada Ai.
"Tunggu sebentar." Dokter masuk ke dalam ruang obat-obatan.
Mengambil air infus berwarna kuning lengkap dengan selang serta jarum suntik.
__ADS_1
"Ada apa dengan Ai, kenapa dia masih belum bangun? Apakah ini karena penyakit serius?" Ustad Vano mencecar dokter dengan berbagai macam pertanyaan.
Dokter itu menghela nafas panjang.
"Tenanglah, kita akan membicarakannya nanti setelah aku memberikannya infus."
Melihat wajah tenang dokter, Ustad Vano segera menenangkan dirinya. Dia mendudukkan dirinya di kursi, kedua tangannya yang bergetar dengan kasar mengusap wajah tampannya.
Dia amat sangat ketakutan. Dia takut terjadi apa-apa kepada kekasihnya karena bila itu terjadi Ustad Vano mungkin tidak akan pernah memaafkan dirinya karena telah lalai menjaga Ai di sini.
Dia lalai melindungi satu-satunya gadis yang menduduki hatinya.
"Ai." Perlahan Ustad Vano menurunkan tangannya, menyentuh telapak tangan Ai yang lembut dan halus sebagai penawar ketakutannya.
"Kamu pasti baik-baik saja. Ini tidak akan serius jadi jangan takut, okay?" Kata-kata ini diarahkan untuk Ai tapi hanya Allah yang tahu jika kata-kata ini ditujukan untuk dirinya sendiri.
Dia sangat takut.
"Jangan khawatir, ini adalah respon tubuh Ai untuk membangun perlindungan diri dari serangan emosi yang sudah tidak bisa ditanggung lagi. Untuk menjaga mentalnya tetap stabil, tubuh Ai memutuskan untuk tidur dalam artian dia jatuh pingsan. Tapi yakinlah, nanti malam atau besok dia pasti pulih dan bisa bangun kembali." Dokter menenangkan kekhawatiran Ustad Vano.
"Apa dokter mengatakan yang sebenarnya?" Ustad Vano sangat bersyukur setelah mendengar penjelasan dokter.
Dia sudah mengenal dokter Ares sejak belum bekerja di sini, Papa dari Ustad Vano. Mereka adalah teman lama jadi karena itulah dia bisa bersikap akrab kepada Ustad Vano.
"Tidak, tentu saja tidak." Ustad Vano menurunkan matanya, menatap lembut kekasihnya yang masih tertidur lelap dengan selang infus di pergelangan tangan kirinya.
"Aku tahu Allah sangat mencintaimu." Bisiknya lembut.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum?" Itu adalah suara Asri.
Ah, saking paniknya memikirkan Ai, dia sampai lupa jika teman-teman Ai juga ikut datang ke sini.
"Waalaikumussalam." Ustad Vano bangun dari duduknya, berjalan beberapa langkah, ia kemudian membuka pintu untuk Asri dan teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Ustad..." Asri takut bercampur malu.
Ustad Vano mengangguk ringan, dia lalu menggeser tubuhnya agar mereka bisa masuk.
"Masuk." Katanya datar.
Asri dan Mega,"...." Dia kembali menjadi kulkas berjalan, ah!
Mereka dengan tertib masuk ke dalam ruang medis tanpa mengatakan apapun. Tidak lama setelah mereka semua masuk, Ustad Vano melihat rombongan Kevin dengan para Ustad yang lain. Ada juga beberapa petugas kedisiplinan asrama putri di belakang.
Mereka awalnya datang ke asrama putri tapi teman-teman kamar Ai bilang jika Ustad Vano sudah pergi ke ruang medis sehingga mereka memutar arah untuk menyusul Ustad Vano.
"Tolong jaga Ai sementara aku pergi. Jangan izinkan siapapun mengganggu waktu istirahatnya, apa kalian mengerti?"
Mereka semua tidak bisa menolak.
"Inshaa Allah, kami mengerti, Ustad."
"Hem," Dengan begitu Ustad Vano menutup pintu ruang medis.
"Ya Allah, apa Ustad Vano dan Ai benar-benar mempunyai hubungan?" Ratna langsung bertanya setelah mereka akhirnya bisa sendiri dan lebih tenang.
"Apa kami perlu menjelaskannya lagi? Bukankah semua sikap intim dan panggilan 'sayang' Ustad Vano kepada Ai adalah buktinya?" Kata Mega sambil mendekati ranjang Ai.
Sebelum duduk, ia menyapa dokter dengan sopan yang dibalas dengan sopan pula oleh dokter itu.
Di ruang medis terdapat beberapa ranjang dengan sekat-sekat gorden sebagai penghalang.
"Jadi...ya Allah, aku sungguh tidak menyangka!" Ratna masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya.
Mega memutar bola matanya malas,"Memangnya kenapa? Apa gadis spesial yang awalnya kamu pikir sebagai gadis 'transgender' tidak bisa bersama dengan laki-laki sesempurna Ustad Vano?" Ucap Mega sewot.
Dia masih tidak bisa melupakan perseteruannya dengan Ratna. Bukan karena ia membencinya, hanya saja rasa kecewa itu masih ada setiap kali ia mengingat wajah kesakitan Ai.
Rasanya sungguh sangat menjengkelkan.
"Tidak, aku sungguh tidak berpikir seperti itu. Aku sangat menyesal untuk masalah itu dan jujur, aku kagum karena Ai masih bisa bertahan melewati semua itu dan bahkan dia masih bisa tersenyum. Yah, dia gadis yang hebat." Ratna sungguh kagum melihat betapa tangguhnya Ai melewati semua ini.
Melihatnya menangis terisak tadi, Ratna ikut merasakan betapa sakitnya terlahir berbeda.
__ADS_1
"Aku sebenarnya bertanya-tanya, bila Ustad Vano dan Ai memiliki sebuah hubungan, lalu bagaimana dengan Kak Almaira? Bukankah mereka adalah tunangan?"