Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Mengundurkan Diri


__ADS_3

"Al sini Salim sama Tante Alina dan om robbi." Anisa mengambil alih Al dari gendongan Youn.


"Tampan sekali kamu sayang," ucap Alina sambil mencubit gemas pipi gembul Al.


"Usia berapa tahun Nis?"


"Dua tahun tiga bulan. Anak mu udah berapa Alin?"


"Sama kayak kamu baru satu, cewek usia empat tahun sekarang. Tuh di dalam lagi sama teman temannya. Al mau main sama kakak Zara di dalam? yuk kita ke dalam." ajak Alin.


Kemudian mereka memasuki rumah Alin yang cukup ramai oleh anak anak.


"hello, anak manis. Ini kado dari Al, Selamat ulang tahun anak manis."ucap Youn sambil menyodorkan kado besar pada Zara.


"terima kasih om, terima kasih Tante Anisa, terima kasih Al," Zara mengambil kado dari tangan Youn.


"sama sama sayang."


"Zara, Al nya ajak main gabung sama teman temannya ya." titah Alina.


"Iya umi. Yuk Al main sama kakak." Zara menuntun Al menuju teman temannya.


Satu satu persatu para tamu pulang ke rumahnya masing masing setelah acara selesai. Tampak rumah mulai sepi.


"Apa hubunganmu dengan Anisa Youn?" tanya Robbi setelah mereka duduk santai berdua di sofa. Sementara Anisa dan Alina serta Al menemani Zara buka kado dari teman temannya.


"Tidak ada."


"Terus kenapa kamu datang kemari dengan istri orang?"


"Dia masih dalam proses bercerai."


"Bercerai?


Youn mengangguk."Suami nya menikah lagi tanpa sepengetahuannya."


"Apa kau menyukainya atau sekedar iba saja?"


Youn menghela nafas." tidak. Tapi, lebih tepatnya aku menyayanginya. Entah kenapa aku ingin sekali jadi pelindung mereka."


"Tapi, dia wanita muslim Youn."


"Aku tau, justru itu aku....aku ingin menikahi wanita muslim seperti dia."


"kau serius?" apa kau tau apa syaratnya menikahi wanita muslim?"


"aku tidak tau, justru itu aku ingin menanyakannya padamu apa syarat?"


"Yang pertama kau harus memeluk agama yang dia anut terlebih dahulu Youn, karena Islam melarang menikah dengan beda keyakinan nanti jatuhnya tidak sah di mata tuhan. Tapi, jangan sekedar Islam KTP saja Youn. kau juga harus melaksanakan syariat islam."


"tolong ajari aku Rob, bagaimana caranya aku bisa masuk agama sepertimu? dan bagaimana caranya melaksanakan syariat Islam?"

__ADS_1


"kamu serius Youn?"


"aku sangat serius."


"Tunggu sebentar."Robbi bangkit lalu beranjak memasuki sebuah kamar. Tak lama kemudian ia datang kembali lalu meletakkan tiga buah buku cukup tebal di atas meja.


"Buku apa ini?" tanya Youn sambil memegang buku tersebut.


"Itu buku buku tentang Islam. Kamu baca baca terlebih dahulu sebagai pengenalan Islam itu seperti apa. Setelah kamu mantap dan yakin kau datang lagi padaku aku akan membawa mu ke seseorang."


Youn tersenyum senang,"thanks bro."


"Apa setelah Anisa bercerai kau akan menikahinya?"


"Tentu saja, itu yang aku inginkan Menikahinya."


"Tapi, dalam Islam ada ketentuannya jika mau menikahi wanita yang sudah bercerai. kau harus menunggu masa Iddah."


"Masa Iddah apa itu?"


"penjelasannya panjang bro. aku beri tau intinya saja ya. Jadi masa Iddah itu ada empat macam dan ke empat macam ini masing masing memiliki penjelasan yang panjang. Tapi kalau melihat kasus perceraian Anisa kau harus menunggunya sampai tiga kali suci."


"Tiga kali suci apa maksudnya?"


"penjelasannya panjang bro. Tapi intinya kau harus menunggunya selama kurang lebih tiga bulan tergantung siklus menstruasi Anisa sendiri."


"Apa?" Youn spontan berdiri. Ia kaget sekali mendengar syaratnya.


Youn menoleh ke arah Anisa dan Alina yang sedang menatapnya heran. kemudian, ia duduk kembali.


"kenapa syaratnya lama sekali. Aku harus menunggunya selama tiga bulan bro,"protes Youn sambil mengacak rambutnya.


"ya memang begitu ketentuannya."


"kenapa suamimu ngga ikut Nis?" tanya Alin yang sebenarnya ingin bertanya dari tadi hanya tidak sempat saking sibuknya.


Anisa terdiam sejenak." Aku sedang proses bercerai Lin."


"Kamu serius Nis?" tanya Alina dengan wajah serius.


"benar Lin, suamiku sudah menikah lagi. aku di poligami Lin."


"Astaghfiruallah hal adzim. kok tega sekali Nis."


"Oleh karena itu aku nuntut cerai dan sekarang sedang di proses. Hanya wanita bodoh yang mau di poligami. Aku lebih baik hidup menjanda dari pada berbagi suami. Apa enaknya yang ada tiap hari harus merasakan sakit hati."


"ya Allah Anisa, maaf ya aku tidak pernah tau penderitaan mu selama ini." Alina memeluk Anisa dengan erat.


"Terus pria itu dia bisa kenal denganmu bagaimana ceritanya Nis?"


"Dia temannya bos aku Lin, dia juga yang menolongku selama ini."

__ADS_1


"Oh, ku doakan smoga hidupmu mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami ujian yang berat ini Nis."


"amin."


Shin menatap lekat pada sprey putih bernoda darah. Sesekali ia mengelus elus sprey tersebut. kamar ini, ranjang ini menjadi saksi Shin telah merenggut kehormatan wanita yang yang ia cintai secara paksa. Perbuatannya kembali terngiang. Jeritan serta tangisan yang mengiba membuatnya merasa bersalah namun tidak ingin di salahkan.


"Aku pikir setelah ku renggut kehormatan mu kau akan bertekuk lutut padaku dan akan lengket padaku Rin. Tapi, kenapa justru sebaliknya."


Malam menjelang pagi. Sudah dua hari Norin mengurung diri di rumah dan pagi ini ia sudah memantapkan diri dan mengambil keputusan. Seperti biasa Norin melajukan motornya dengan pelan menuju tempat kerjanya. Tiba di sana sudah terlihat beberapa karyawan di area pabrik. Setelah itu, ia memarkirkan motornya. Norin berjalan pelan ke arah kantor dan memasuki kantor itu menuju lantai dua. Sudah ada beberapa staf yang datang.


"Mba, apa tuan Lee sudah datang?" tanya Norin pada sang sekertaris.


"Belum mba Norin. apa ada perlu?"


"Ya sudah mba, saya titip ini untuk beliau ya tolong sampaikan," Ucap Norin sambil menyodorkan sebuah amplop warna putih.


"Baik mba, akan saya berikan pada direktur Lee."


"Terima kasih ya mba." kemudian Norin bergegas pergi.


Di tengah jalan ia bertemu dengan Siska, wanita yang membencinya hingga sekarang.


"ehh ada perawan tua pagi pagi di kantor." cibir Siska namun tidak di hiraukan oleh Norin. Ia terus saja melangkahkan kakinya meninggalkan lantai dua.


"Andai kamu tau jika pemilik perusahaan ini telah memerawani ku, apa kamu masih akan menyebutku sebagai perawan tua Siska? pada kenyataannya aku sudah bukan perawan."


Norin tersenyum kecut kemudian bergegas pergi meninggalkan kantor menuju gudang. Tiba di gudang semua mata berbinar binar menatapnya. Dua hari tidak masuk kerja membuatnya di rindukan oleh para staf nya. Rekan rekan kerja yang sudah menemaninya bekerja selama bertahun tahun. Sedih memang, pada hari ini ia harus meninggalkan mereka.


Norin tersenyum pada mereka semua seolah olah tidak terjadi apa apa padanya. Senyuman terakhir yang ia berikan untuk para stafnya.


"Saya ingin berbicara dengan kalian semua. Untuk hari ini dan seterusnya saya tidak akan bekerja lagi disini."


Semua orang terperangah. terkejut dan heran kenapa tiba tiba atasannya bicara seperti itu.


"Hendi, saya sudah merekomendasikan pada tuan Lee agar kamu yang menggantikan posisi saya."


"tapi mba, kenapa mba berhenti kerja?"


"saya sudah lelah Hen, saya ingin istirahat," ucap Norin berbohong.


"saya minta maaf sama kalian semua kalau saya melakukan kesalahan selama kerja dengan kalian."


Kemudian semua stafnya memeluk Norin dan tangis pun menggema di ruangan tersebut.


"kalian tetap semangat ya meskipun tanpa saya, kalian harus tetap kerja yang solid."


Setelah itu, Norin mengambil sebuah amplop warna putih.


"Oiya intan, saya titip ini untuk mas Rio ya," ucap Norin sambil menyodorkan amplop tersebut pada intan.


"ya sudah kalian harus tetap kerja semangat ya? saya permisi dulu."

__ADS_1


Kemudian Norin bergegas meninggalkan ruangan yang sudah hampir sebelas tahun ia tempati.


__ADS_2