
Kami selesai makan malam hari ini.
Lalu Satrio mengajak ku ke mall.
"Ngapain Sat, kita kesini?."tanyaku males
"Mau beliin keluarga kamu hadiah, tapi kamu aja yang pilih yaa."ucapnya
"Nggak usah ah, nanti ngerepotin, lagian kan kita cuma nengok Bapakku."ucapku
"Justru itu, aku mau nyenengin keluarga kamu, ya anggaplah ini hadiah kecil dari calon suami dan calon mantu yang baik."ucapnya tertawa dan memaksa ku masuk
"Pokoknya nggak usah, aku bukan perempuan matre."ucapku manyun
"Mau nggak mau, kamu ikut aku ya cantik."ucapnya lalu menarik tangan ku masuk ke tempat pakaian
Akhirnya mau nggak mau aku memilih baju-baju untuk adik-adik dan Ibuku, masing-masing 1 stell aja, kebanyakan aku yang nggak enak, Satrio juga memilihkan kemeja, celana panjang dan kaos untuk Bapakku. Katanya biar sandiwara nya meyakinkan, apalagi dia sudah tahu sendiri sosok Ibu ku seperti apa, jadi dia ingin Ibuku senang tahu anaknya punya pacar yang perhatian, yaa walaupun aslinya pura-pura aja. Selesai belanjanya , aku kaget banget masa baju cuma buat 4 orang harganya 2 jutaan. Aduh kalau beli di pasar malem dapet sekarung itu. Ini emang sultan harus diajarin belanja, nanti kalau udah di Bogor, harus ajak dia ke pasar pokoknya, biar dia tahu harganya jauh beda.
"Yu Nad pulang, udah aku bayar semuanya."ucapnya santai
"I.. iya makasih, aduh bajunya mahal banget sih, itu kayak gaji aku sebulan."bisikku padanya
"Udah santai aja, gak apa-apa koq, kamu udah baik sama aku, yaa sudah sepantasnya aku juga baik ke keluarga mu, eh nanti mampir ke toko kue, kita beli kue buat keluarga mu dan tetangga mu yang suka ghibah itu."ucapnya sambil menatap Holland bakery.
Aku hanya mengangguk tanda tak mengerti dengan jalan pikiran bocah ini. Asli dia beli kue sampai 20 dus. Pusing kepala aku. Segala mikirin tetangga aku. Duh, Satrio Satrio.
Akhirnya semua sudah dibeli.
Lalu kami pulang ke rumah Satrio.
Aku tidur di kamar tamu, tapi sebelum tidur aku mengingatkan Satrio bahwa besok kita akan ke Bogor, tepatnya kerumahku. Jadi agar tidak lupa.
__ADS_1
"Sat, besok jangan kesiangan yaa , aku ingin berangkat ke Bogor nya pagi-pagi, terus aku minta kamu tolong pura-pura jadi calon suamiku, pokoknya bersikap yang baik yaa, supaya orang tuaku percaya."ucapku padanya
"Iyaa tenang aja, besok pagi kita kesana, tapi mungkin aku ajak Mang Ujang, biar beliau yang nyetir, yaudah kamu tidur sana, jangan banyak pikiran, apalagi jangan kebanyakan mikirin aku, cukup aku aja yang mikirin kamu."ucapnya tertawa
"Ih mulai lagi deh, siapa yang mikirin kamu, PD sekali anda, yaudah makasih yaa tadi udah nemenin makan pecel lele nya , makasih juga udah dibelanjakan sebanyak ini, lain kali kalau aku udah gajian, aku yang traktir deh."ucapku senang
"Ok janji diterima, awas kalau lupa, belanjaan nya aku suruh Bi Nunung taruh di sofa yaa, jangan lupa, yaudah selamat malam, kunci jendela yang benar terus tutup pintu dan cek seluruh ruangan kamar, jangan sampai kejadian itu terulang lagi."ucapnya pelan
"Iyaa Sat, makasih perhatian nya, aku masuk kamar duluan yaa."ucapku padanya
Dia hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Lalu aku masuk kamar.
Aku meletakkan tas ku dan merebahkan badanku, aku nggak ngerti sama perasaan ku akhir-akhir ini, terlalu sering bersama Satrio membuat hatiku deg-degan, ah entahlah, mungkin hanya gugup aja. Tapi lihat senyuman nya bikin hati aku senang banget, kayak dapat rezeki nomplok.Sebenarnya aku bingung sih, kalau aku ajak Satrio pasti di sana orang-orang akan heboh dan nyuruh cepet-cepet nikah, tapi kalau aku nggak ajak, aku nanti ketahuan sama Ibu, kalau sebenarnya aku belum punya pacar, bisa gawat nasibku, pasti pulang-pulang langsung dinikahin sama mandor bangunan yang duda itu, kan Ibu bilang itu kandidat calon mantu terbaru. Hemmm... Sudahlah yang penting sekarang istirahat dan cek keadaan sampai aman.
Hari berganti pagi...
Sudah rapi dan siap berangkat, sekarang tinggal tunggu Satrio deh.
"Eh kamar ku ada yang ngetuk, siapa yaa? mungkin Mang Ujang."batinku
Lalu aku buka pintunya , ceklek...
"Selamat pagi Nyonya Nadia, ayo sarapan dulu sebelum berangkat."ucap Satrio
"Ih tumben banget nawarin sarapan, biasanya juga selalu lupa sarapan, eh tapi aku laper banget sih, makasih yaa."ucapku tersenyum
Lalu kami sarapan roti panggang dan susu, semua yang menyiapkan Satrio, jadi wajar lah rotinya agak gitu deh. Agak gosong.
"Kamu nggak suka yaa, jangan dimakan deh, nanti pahit, tadi aku yang nyiapin sesudah subuh."ucapnya merasa bersalah
"Hehe nggak apa-apa, ini cuma gosong dikit, sayang-sayang kalau nggak dimakan, diluar sana banyak yang kelaparan, jadi kita makan aja yaa, lagian ada susu juga kan, jadi enak kan, makasih Tuan Satrio udah repot-repot."ucapku lalu memakan roti nya
__ADS_1
"Iyaa aku sengaja buatin untuk kamu, soalnya Bi Nunung dan Bi Wati sedang mengurus perlengkapan sekolah anaknya, aku yang suruh, kasihan anak-anak nya."ucapnya
Ini orang yaa walaupun nyebelin, tapi segitu perhatian sama ART nya, Satrio , Satrio sebenarnya dia baik banget, bahkan kalian harus tahu dia itu rajin ibadah, aku sering lihat dia sholat di masjid diam-diam atau di kamarnya, kan aku sering mata-matai dia secara diam-diam, jadi walaupun tampang nya bad boy tapi kepribadian nya good boy.
"Yuk Nad kalau sudah makan kita berangkat, nanti kesiangan, Mang Ujang udah manasin mobil dari tadi."ucapnya
Lalu aku dan dia selesai sarapan.Kami pun naik mobil dan yang mengendarai Mang Ujang. Satrio duduk didepan, aku dibelakang sendiri. Enak kan bisa tiduran. Hadiah buat keluarga ku juga sudah disimpan di bagasi mobil.
Lalu aku bertanya pada Mang Ujang.
"Mang , udah sarapan belum?."
"Udah Neng, tadi kan Mamang dikasih uang buat beli bubur ayam sama Tuan muda."ucapnya
"Oh bagus deh, biar nyetir nya lancar yaa, kan kalau makan jadi nggak oleng, Mang nanti ikutan nginep yaa dirumah saya."ucapku
"Siap Neng, Mamang emang mau jaga kalian pokoknya mah, bahaya kalau sering jalan berdua terus, makanya cepetan nikah atuh."ucap Mang Ujang
"Huh si Mamang ngomongin nikah mulu, bayarin atuh gedung sama semuanya."ucap Satrio bercanda
"Eheh nggak sanggup lah kalau bayarin itu mah, Mamang sanggup nya doain kalian semoga cepet-cepet nikah dan dikasih anak."ucapnya tertawa
Lalu kami didalam mobil masih terus bercanda dan tertawa, karena Mang Ujang suka banget ngelawak. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam 50 menit.
Kamipun sampai.
Di rumah sepertinya ramai sekali, mungkin Ibu memberitahu tetangga tentang kepulangan ku. Memang Ibu selalu bikin heboh.
Lalu Satrio membukakan pintu untuk ku. Kami sempat terdiam bingung dan berfose seolah-olah pasangan nyata. Cukup meyakinkan kan ?
__ADS_1