Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 8.5)


__ADS_3

Ada yang aneh. Perut bagian bawahku tiba-tiba terasa perih, padahal seharusnya ini bukan jadwalku datang bulan bila dilihat dari jadwal yang dokter tetapkan. Biasanya aku akan datang bulan setiap dua bulan sekali tapi kenapa tiba-tiba malam ini perutku perih?


"Ai, ada apa?" Aku merasakan Asri memutar badannya agar lebih dekat lagi denganku.


Aku menyingkir tanganku dari perutku dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Aku harus makan meskipun aku sudah tidak punya ***** makan sedikit pun karena rasa perih diperut ku.


"Tidak apa-apa." Kataku tidak berani melihat wajahnya secara langsung.


"Jika kamu sakit atau tidak nyaman katakan saja agar kita bisa memberitahu Ustazah nanti." Kata Mega di samping, berbisik.


Aku lantas menggelengkan kepalaku. Kedua tanganku memang berkeringat dingin tapi aku masih bisa menahan semuanya.


"Aku tidak apa-apa." Kataku sambil berharap Allah mau mengangkat rasa sakit di perutku.


Aku tidak ingin membebani siapapun dan aku bahkan tidak ingin merepotkan siapapun. Aku harus menanggungnya sendiri untuk sekarang karena toh, di asrama aku sudah punya banyak vitamin untuk menambah energi ku.


"Waktu makan 5 menit lagi." Pengeras suara di atas tenda makan kami dengan murah hati mengingatkan.


Ya Allah, makananku akan terbuang sia-sia karena tidak yang bisa masuk ke dalam mulutku. Setiap kali ada makanan yang masuk aku pasti tidak bisa menelannya dam ***** makan ku pun menghilang.


Inilah alasan mengapa Bunda selalu mewanti-wanti ku di rumah jika datang bulan datang aku harus menghubunginya. Tapi aku tidak tahu jika datang bulan ku lebih cepat 1 bulan dari jadwal dan aku juga tidak punya persiapan sama sekali.


"Kamu sepertinya tidak sehat. Nasi di piring mu saja tidak mengalami perubahan banyak." Kata Mega sambil menarik piringku.


"Aku sedang tidak *****. Jika lapar nanti aku bisa makan roti di kamar." Sejujurnya aku ingin tidur saat ini.

__ADS_1


"Tetap saja, sayang sekali membuang makanan. Asri, habiskan makanan Ai sebelum ada Ustazah pengawas yang melihat." Mega mendorong piringku ke depan Asri.


"Lho kok aku sih?" Katanya protes.


Aku tidak nyaman memberikannya makanan sisa ku.


"Enggak mau, nih?" Tanya Mega.


"Ya Allah, mau dong. Lha wong aku kan masih lapar hehe.." Katanya sambil mengamankan makanan itu.


Aku dan Mega kemudian menghabiskan waktu 5 kami menonton Asri menghabiskan makanannya dengan lahap. Di samping itu aku juga berusaha mengatur nafasku agar tidak terdengar buru-buru dan santai seperti biasanya.


Setelah keluar dari stan makan kami segera pergi ke masjid untuk menjalankan hukuman kami. Sesampai di sana kami bertiga melihat ada banyak sekali orang yang berkumpul di depan masjid, tidak terkecuali Ustad Vano dan rekan-rekannya yang lain. Tapi Ustad yang berada di samping Ustad Vano, aku cukup mengenalnya karena sudah beberapa kali bertemu mereka selalu bersama.


"Assalamualaikum?" Mega memberi salam tanpa semangat, sepertinya.


Dia adalah salah satu petugas kedisiplinan jadi tidak mengherankan dia berada di sini. Hanya saja..aku merasa tidak nyaman di tatap seperti ini banyak pasang mata.


Apa Kak Frida pernah mengatakan sesuatu kepada mereka mengenai diriku?


"Kalian sudah di sini." Aku menundukkan kepalaku tidak mau menatapnya, yah..dia adalah Ustad Vano. Laki-laki yang ingin ku hindari.


"Apa kalian sudah tahu hukuman apa yang akan kalian jalani?" Tanya Ustad Vano kepada kami.


Ugh, perutku sangat sakit.

__ADS_1


Aku menggigit bibirku menahan sakitnya."Kami tahu, Ustad."


Ya Allah, mengapa Engkau datangkan kelebihan ini di waktu yang tidak tepat?


Ini sakit ya Allah, perut dan punggung ku sakit.


"Bagus jika kalian sudah tahu. Di dalam kalian hanya perlu menyapu lantai dua saja dan sisanya bisa kalian kerjakan besok di hari minggu." Untungnya kami tidak akan lama.


Ya Allah, tolong kuatkan aku.


Ini hanya sebentar saja sampai kami selesai menyapu dan bersih-bersih.


"Baik, Ustad."


"Sekarang kalian bisa pergi." Katanya memerintahkan.


Aku meremat kedua tanganku untuk menguatkan diri. Ketika aku membawa kakiku melangkah lutut ku tiba-tiba lemas tidak bisa menahan beban tubuhku. Aku terjatuh ke lantai dan langsung dibantu bangun oleh Mega dan Asri.


"Apa kamu baik-baik saja, Ai?" Tanya Asri khawatir.


Aku tersenyum, tetap menjaga tubuhku agar tidak lemas seperti tadi lagi.


"Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja." Kataku kepada mereka.


Aku pasti baik-baik saja.

__ADS_1


Sejujurnya ini memalukan aku terjatuh di depan banyak orang. Apalagi di sini ada Ustad Vano dan rekan-rekannya. Aku tidak tahu apa yang mereka semua pikirkan ketika melihatku terjatuh tadi.


__ADS_2