Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 25.8


__ADS_3

Ayah lega, kini mereka telah sampai di depan pintu perpustakaan. Masih tertutup rapat dan tampak sunyi.


"Nak, ini pesan ku yang terakhir untukmu. Putraku telah melewati banyak rintangan agar bisa bersanding denganmu maka aku mohon, tolong jangan ragukan perasaaan nya dan tolong percayalah kepadanya. Jujur, dalam hidup ini aku tidak pernah melihat ada seseorang yang lebih keras kepala dari Ali. Dia berjalan selangkah demi selangkah memenuhi harapan mu, membuat kamu tidak punya alasan untuk menolak kedatangannya. Jadi, Ayah mohon hiduplah bahagia dengannya. Jangan buat dia bersedih bahkan kecewa kepadamu. Apa kamu bersedia memenuhi permohonan Ayah ini?" Tanya Ayah dengan ekspresi yang serius.


Safira menghapus air mata di sudut matanya dengan cepat. Menganggukkan kepalanya berulangkali meyakinkan Ayah bahwa dia akan memenuhi semuanya.


Tidak, tanpa Ayah minta Safira sebenarnya sudah bertekad untuk membahagiakan Ali. Membalas semua penantian panjang dan perjuangan Ali untuk mendapatkannya, setelah semua Safira tidak akan membiarkan Ali menahan kerinduan itu sendirian.


"Ayah, bagaimana mungkin aku tidak mau melakukannya? Tentu saja, aku ingin memenuhi semuanya lebih dari apapun."

__ADS_1


"Maka sekarang pergilah, temui suamimu untuk mendapatkan ridho Allah."


Safira malu,"Ayah, terimakasih."


Ayah tersenyum ringan. Dia lalu melepaskan tangan Safira dan pergi membawa Ai masuk ke dalam kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan ruang perpustakaan.


Safira sekarang sendirian di depan pintu perpustakaan. Diam, dia berusaha menenangkan suara degup jantungnya yang masih memompa keras.


Clak

__ADS_1


Pintu tidak terkunci. Dalam hati Safira sangat bersyukur Ali tidak menguncinya.


Perlahan dia masuk ke dalam dan menutup pintu dengan satu gerakan. Dia melihat sekeliling, tidak ada siapapun. Jadi dia memberanikan diri masuk lebih jauh lagi sampai akhirnya Safira melihat sosok kesepian laki-laki yang dia cintai kini tertunduk dalam di atas meja kerja.


Kedua mata Ali terpejam dibalik lipatan kedua tangannya. Nafasnya ringan bergerak teratur seolah sedang tertidur lelap. Padahal faktanya Safira tahu bila suaminya itu tidak tertidur, dia sedang memikirkan pertengkaran singkat mereka tadi.


"Ada begitu banyak wanita diluar sana yang mencintai Mas Ali. Satu demi satu dari mereka memaksakan diri masuk ke dalam rumah tangga kita." Suara lembut dan halus Safira membuat Ali tertegun.


Kedua matanya terbuka, perlahan dia mengangkat kepalanya menatap wanita cantik yang selalu memenuhi pikirannya kini sedang berdiri menatapnya. Penampilan wanita itu lebih baik dari pertemuan terakhir mereka. Sepertinya wanita itu menggunakan sedikit riasan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang indah. Jujur, Ali langsung terpesona melihatnya.

__ADS_1


"Mereka jauh lebih cantik dari wajahku, lebih muda dari usia ku, dan lebih mampu dari diriku. Jujur, setiap kali mereka datang dengan kelebihan masing-masing maka disaat itu pula aku meragukan diriku sendiri. Di dalam hati aku bertanya-tanya apa aku ini pantas untukmu? Karena aku bukanlah gadis pemalu yang manis melainkan wanita dewasa yang judes. Aku juga bertanya-tanya apa aku ini 'cukup' untuk Mas Ali? Di saat banyak wanita yang lebih cantik dan mampu datang menawarkan diri untuk menjadi yang kedua. Selama ini..aku terus saja bertanya-tanya dan tanpa sadar menyepelekan diriku sendiri. Aku mulai meragukan ketulusan Mas Ali dan menjadi mudah cemburu. Mempermasalahkan masalah yang sangat sepele untuk membenarkan egoku sendiri bila dugaan ku selama ini benar. Padahal aku sangat mengetahui bahwa jauh di dalam hati ini aku tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi." Suaranya terdengar bergetar.


__ADS_2