
"Aneh." Ini bukanlah kata Almaira, tapi ini adalah kata pertama yang keluar dari mulut Sasa, gadis yang menghentikan bacaannya hanya untuk mendengarkan Tiara berbicara.
"Benarkan-" Tiara sangat senang Sasa juga memberikan reaksi yang bagus tapi belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, Sasa sudah memotong atau lebih tepatnya dia menyambung kembali kata-kata yang belum sempat dia selesai.
"Kamu yang aneh, Tiara." Kata Sasa membuat Tiara membeku dan Almaira kebingungan.
"Kenapa aku yang aneh?" Tiara tidak berharap Sasa akan mengatakan ini.
Sasa menghela nafas panjang, dia menggeser duduknya jadi miring sehingga mereka bertiga bisa berhadapan.
"Malam itu aku juga berbicara dengan dokter mengenai kondisi Aishi Humaira dan aku juga melihat sendiri bagaimana keadaan dia di dalam sana. Pergelangan tangan kirinya," Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya ke depan mereka berdua sebagai demonstrasi.
"Ditusuk jarum infus tapi wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia benar-benar pingsan, aku tidak berbohong. Bahkan aku juga diceritakan secara singkat oleh dokter mengenai rekam medisnya beberapa tahun ini sebelum datang ke sini. Dan percaya atau tidak di pergelangan tangan kirinya ada banyak bekas jarum infus yang sudah mulai memudar. Katakan apa artinya ini? Apa kamu pikir dia berpura-pura pingsan hanya untuk menarik perhatian Ustad Vano? Ayolah Tiara, tidak semua orang mempunyai pikiran dangkal sepertimu." Sasa menjelaskan secara gamblang, membuat wajah Tiara mengalami perubahan warna dalam waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
Ketika Sasa sudah berbicara apa yang keluar dari mulutnya sejujurnya cukup bias, membuat Tiara si lawan bicara untuk sejenak harus mengatur emosinya sebelum melanjutkan pembicaraan.
Untuk Sasa, dia harus cukup hati-hati karena Sasa tidak semudah Almaira.
Tiara tersenyum tipis,"Jadi menurut mu apa yang aku katakan tadi itu bohong?"
"Benar Sa, bagaimana mungkin kamu mengatakan jika dia berbohong padahal malam itu jelas-jelas dia melihat Aishi hanya berpura-pura saja." Almaira juga tidak habis pikir dengan pikiran Sasa bila sampai mengatakan bahwa Tiara berbohong.
Tiara adalah santri yang baik. Mereka sudah berteman sejak tahun pertama tinggal di pondok pesantren dan pernah mengalami suka serta duka bersama-sama.
"Oh, jadi kamu ingin mengatakan jika apa yang Tiara katakan itu benar dan apa yang aku katakan itu bohong?" Sasa melemparkan pertanyaan yang lebih sulit, dia membalik pertanyaan kepada mereka berdua.
"Tidak, itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu mempertanyakan diriku sendiri disaat yang sama kamu tidak mau dipertanyakan? Almaira, berpikirlah jernih." Ujar Sasa dengan senyuman yang sulit dikatakan sebagai senyuman.
"Aku.." Almaira agak malu dirinya disindir dengan halus.
"Aku berbicara seperti ini sebagai ketua petugas kedisiplinan asrama putri. Tolong, jangan lagi menyebarkan rumor yang tidak benar ataupun mempersulit seseorang yang tidak bersalah sama sekali di sini. Jika kamu tidak mau mendengarkan ku maka masalah ini hanya bisa aku serahkan kepada Umi selaku pengurus asrama putri, kita akan lihat langkah apa yang akan beliau ambil untuk masalah ini. Dan Almaira, kamu adalah gadis yang cerdas dan bukan anak kecil lagi. Jadilah dewasa dan jangan hanya karena mendengarkan cerita seseorang membuatmu langsung mengecap hidup seseorang itu bermasalah. Cinta memang membutakan karena itulah kita dilarang menjalin kasih dan menempatkan perasaan itu di tempat yang benar, jika perasaan itu tidak ditempatkan dengan benar maka inilah yang terjadi. Kalian melupakan adab kalian sebagai seorang santri, melupakan ilmu-ilmu yang telah kalian tuntut di sini. Tolong, jangan terlalu melewati batas. Ustad Vano yang kalian ributkan nyatanya tidak menyukai tipe gadis seperti ini. Apalagi jika dia tahu kalian telah berani-beraninya mempersulit kehidupan seorang santri di sini, yakinlah dia tidak akan pernah mau berbicara lagi dengan kalian." Sasa berbicara secara terus terang tanpa melihat posisi Tiara adalah teman dan Almaira adalah putri Pak Kyai.
Dia hanya mengatakan apa yang seharusnya dia katakan. Membersihkan apa yang harus dibersihkan dan menerangi apa yang seharusnya diterangi. Karena cinta terkadang seseorang bisa melupakan mana langkah yang benar dan salah sekalipun mereka hidup di dalam pondok pesantren. Hei, setan tidak akan memilih tempat untuk menjalani tugas mereka menyesatkan manusia. Entah itu di dalam masjid, pondok pesantren, atau di rumah jika manusia sudah lalai maka itu adalah peluang besar untuk setan menyesatkan.
Maka dari itu tetaplah berdiri di jalan Allah. Jangan berpaling kemanapun karena tidak ada tempat bersandar paling kokoh kecuali kepada-Nya, tidak ada tempat ternyaman untuk mengadu kecuali kepada-Nya, dan tidak ada yang lebih romantis lagi kecuali kepada-Nya. Maka dari itu buatlah Allah jatuh cinta kepada diri sendiri, buat Allah merangkul dan mengingat diri karena bila Allah sudah jatuh cinta Dia tidak akan pernah membiarkan kekasih-Nya tersesat di dunia maupun di akhirat.
Mashaa Allah, betapa Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya. Tiada seorangpun di dunia ini yang mempunyai cinta setulus dan selembut milik Allah SWT,
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
__ADS_1
Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi
"Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung."