Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 2.2)


__ADS_3

Lagipula dia memang curiga Ai dan gadis ini saling mengenal saat gadis ini membela Ai dari cecaran Frida. Namun apakah itu hubungan baik atau buruk Tiara tidak bisa menebaknya karena mereka berdua tidak pernah berbicara.


Gadis itu memalingkan wajahnya pura-pura melipat kain mukenanya.


"Mashaa Allah, jadi kamu sama Ai teh temenan? Jadi kalian berdua datang dari kota besar?" Asri tiba-tiba menjejalkan dirinya ke dalam obrolan.


Dia langsung tertarik ketika mendengar Tiara bertanya kepada gadis itu apakah mereka dulunya berteman.


Gadis itu terpaksa menjawab,"Ya, kami dari kota yang sama tapi kami tidak berteman." Karena faktanya mereka hanya bertemu di taman kanak-kanak saja.


"Alhamdulillah, ini sangat bagus, dek. Nanti kalau ada apa-apa kalian bisa saling membantu apalagi kalian berdua tinggal di kamar yang sama. Tapi jika Kakak boleh tahu nama kamu siapa?"


Gadis itu menunduk,"Namaku Mega." Jawabnya singkat.


"Mega..nama yang bagus."


Dia Mega, gadis yang pernah berseteru dengan Ai 11 tahun yang lalu di sekolah taman kanak-kanak. Setelah kejadian hari itu keluarganya mengalami perubahan besar. Pertama, Papanya mulai rendah hati dan selalu menghargai sekecil apapun pekerjaan yang dia dapat di kantor. Lalu Mamanya mulai menutup aurat dan berperilaku baik. Dia menerima dan menghargai gaji suaminya tidak sebesar dulu. Ini memang berjalan baik meskipun ada kesulitan yang menghampiri keluarga mereka. Dengan ketekunan hati mereka melalui semuanya hingga hari ini datang, Mega memutuskan untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Ai, anak kurus yang dulu pernah dia buli di sekolah.


Ternyata dunia benar-benar sempit dan tidak seluas yang dia pikirkan.


Dia memeluk mukena dan sajadahnya, melirik Asri yang masih berbicara dengan Tiara.


"Bangunkan dia sekarang untuk-" Dia melihat Ai tidak membawa apapun otomatis dia tidak akan punya mukena.


Dia mengatupkan mulutnya, membuka lemari pakaian yang sudah tersusun rapi dan mengeluarkan mukenanya yang lain.


"Berikan kepadanya jika dia tidak berhalangan." Setelah mengatakan ini dia pergi mengikuti santri yang lain ke masjid.


"Tebakan ku benar sebelumnya jika mereka saling mengenal. Tapi kenapa Ai mengatakan dia tidak mengenal Mega? Apa dia tidak sengaja melupakannya?" Gumamnya mulai menebak-nebak.

__ADS_1


🍁🍁🍁


"Ai, bangun~" Tidur Ai terganggu.


Ada kekuatan ringan yang mengguncang tubuhnya. Memaksa dirinya keluar dari dunia tidur tanpa mimpi.


"Iya, Bunda?" Katanya seraya mengusap-usap kedua matanya menahan kantuk.


"Astagfirullah Ai, aku ini Asri bukan Bunda mu. Ayo bangunlah, kita harus segera pergi ke masjid untuk sholat berjamaah." Suara cempreng Asri menarik Ai dari rasa kantuknya.


Dia menatap jejeran ranjang lengkap dengan lemari masing-masing di sampingnya. Di beberapa ranjang tergeletak di atas lantai koper maupun tas yang masih belum sempat mereka selesai bereskan.


Dia menyadari bahwa saat ini dia sudah ada di pondok pesantren.


Ah, bagaimana bisa melupakan ini?


"Kita akan sholat?"


Kamar ini tidak benar-benar kosong karena masih ada beberapa anak yang masih melanjutkan acara beres-beres mereka.


"Tapi aku tidak punya mukena dan sajadah." Barang-barangnya ads di dalam tas. Di samping itu koper yang Ayah dan Bunda titipkan di staf pondok pesantren masih belum sampai ke kamarnya.


"Gunakan mukena ini, Mega membiarkan mu meminjam miliknya. Bukankah dia teman yang baik?" Dia memberikan Ai mukena lavender yang sudah terlipat rapi. Ini sangat wangi.


"Mega?" Nama ini cukup familiar untuknya.


"Ayolah, kita harus pergi sekarang!" Asri sudah tidak sabar.


Ai buru-buru menggunakan sandalnya kembali. Dia tidak perduli dengan penampilannya sekarang karena yang terpenting adalah segera pergi ke masjid. Sambil memeluk mukena itu, dia dan Asri berjalan cepat menuju masjid yang tidak terlalu jauh dari asrama mereka. Di jalan mereka tidak bertemu dengan satu orang pun santriwati! Di asrama maupun di jalan, mereka tidak menemukan mereka.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka sampai di depan masjid Abu Hurairah. Masjid itu di dominasi warna hijau tua dan putih yang sangat mencolok. Di halamannya banyak sekali tanaman bunga yang subur. Mereka lebih banyak berwarna hijau daripada mempunyai warna yang mencolok seperti merah atau kuning.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang!" Asri panik ketika melihat lautan anak laki-laki yang berbondong-bondong naik ke atas masjid. Mereka tidak menemukan satupun perempuan kecuali mereka sudah ada di lantai dua!


"Aku..aku tidak tahu. Kita sepertinya tidak punya cara selain menerobos masuk." Kata Ai gugup.


Asri setuju dengannya,"Jadi, apa kamu mau menerobos masuk?"


Bukankah ini sangat mendebarkan.


Ai segera menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Aku tidak berani! Jika kita memaksa masuk maka kita akan bersentuhan dengan laki-laki dan wudhu kita pasti batal." Di samping itu dia tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun apalagi sampai terjebak di dalam lautan laki-laki.


Dia tidak berani memikirkannya!


Asri juga takut.


"Tapi kita tidak punya cara lain!" Jika tidak, mereka tidak akan bisa sholat berjamaah dan jikapun memaksa masuk wudhu mereka akan batal!


Di samping itu... bukankah ini sangat memalukan ditatap oleh ribuan pasang mata dari lawan jenis?


"Apa sebaiknya kita kembali ke asrama saja?" Ai ingin kembali ke asrama saja rasanya.


Ai dan Asri tidak tahu aturan pondok pesantren ini jadi mereka tidak tahu telah melanggar salah satu aturan.


"Seharusnya.. seharusnya begitu. Ini lebih baik daripada harus menerobos masuk?" Asri juga tidak bisa melakukan apa-apa.


"Maka kita..kita lebih baik- astagfirullah! Kak-ah, maaf Ustad!" Ketika Ai membalik badannya dia benar-benar terkejut melihat Ustad Vano yang sudah berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


Bersambung..


Lanjut?


__ADS_2