Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.2)


__ADS_3

"Itu tidak mungkin," Tiara langsung menolak.


"Kenapa tidak mungkin, bukankah Kak Tiara adalah petugas kedisiplinan asrama putri di sini?" Sari jelas tidak mengerti.


Tiara menggelengkan kepalanya gatal ingin mencubit pipi berlemak Sari. Anak ini sangat bodoh, pikirnya.


"Sekalipun aku adalah petugas kedisiplinan asrama putri tapi jika tidak punya bukti Umi tidak akan mau mempercayai kita. Daripada mempercayai kita, Umi mungkin akan menghukum kita karena sudah memfitnah gadis itu. Tidak, aku tidak mau mendapatkan akhir yang seperti ini. Pikirkanlah cara lain agar gadis itu tidak membuat masalah lagi."


Tiara menyentuh keningnya berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan agar Ai tidak bisa lagi tinggal di pondok pesantren ini. Menuduh Ai melakukan pencurian?


Tidak, dia tidak bisa melakukan itu karena ia pernah mendengar bila Ai adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya di kota. Mana mungkin seorang anak kaya raya mengambil uang yang seharusnya tidak terlalu berharga untuknya?


Ini adalah ide yang sangat buruk.


"Lalu, apa?" Gumamnya masih mencari cara.


Atau...menaruh sedikit racun ke dalam makanan untuk santri besok saat Ai menjalani hukumannya?


"Ini gila, aku tidak bisa mengambil resiko sebesar itu. Bagaimana bila ada yang mati?" Dia lagi-lagi mengusir pemikiran gila itu.


Dia tidak bisa mengorbankan nyawa orang lain hanya untuk menyingkirkan saingan cintanya. Mungkin hasilnya bagus jika Ai langsung hanya sekedar diusir saja. Tapi bagaimana jika keluarga Ai melibatkan polisi?


Bagaimana jika semua kebohongannya terungkap?


Tiara tidak mau mengambil resiko!

__ADS_1


"Siapa yang akan mati?" Sari mendengar gumaman Tiara tadi.


Tiara segera memperbaiki ekspresinya. Dia melambaikan tangannya panik,"Tidak, ini bukan-ah, aku tahu apa yang harus kita lakukan!"


Tiba-tiba dia ingat menyimpan kartu as ditangannya. Lalu, tanpa menunggu otak Sari bekerja, ia menarik Sari ikut bersamanya masuk ke dalam kamar. Mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaian dan memberikannya kepada Sari.


"Dia pasti sangat malu jika semua orang mengetahui rahasianya ini dan dengan begitu ia akan angkat kaki dari pondok pesantren." Katanya menemukan ide brilian.


Bodohnya, mengapa dia baru mengingat kartu as nya hari ini. Kenapa dia tidak menggunakannya dari waktu-waktu sebelumnya saja agar Ai tidak lagi punya keinginan tinggal di sini apalagi sampai bertemu dengan Ustad Vano, percayalah, dia pasti tidak punya wajah lagi untuk sekedar menunjukkan batang hidungnya.


"Ini apa, Kak?" Sari menerima map biru yang Tiara berikan.


Dari penampilannya map biru ini tidak punya keistimewaan apapun. Ini biasa saja dan terlihat tidak menarik.


"Bukalah." Suruh Tiara gatal ingin memutar bola matanya.


"Tidak, ini tidak penting." Tiara mengambil map biru itu dari tangan Sari dan kembali memasukkannya ke dalam lemari pakaian.


Sari memang bodoh tapi bukan berarti dia tidak bisa membaca! Hampir saja aku menghancurkan rencana yang aku buat sendiri. Batin Tiara mengelus dada.


Sari tidak mengerti apa yang Tiara inginkan. Dia masih terbengong melihat map biru yang tidak sempat ia buka kini telah ditaruh kembali ke dalam lemari pakaian.


"Kak Tiara?"


Tiara mengunci pintu lemari pakaiannya sebelum berbalik.

__ADS_1


"Eh, aku salah paham. Aku pikir kamu sudah masuk tahun kedua sehingga aku awalnya ingin memberikan mu catatan nilai ku selama di tahun kedua. Tapi aku tiba-tiba teringat jika kamu masih tahun pertama." Tiara membuat alasan yang terkesan dibuat asal-asalan.


"Oh jadi seperti itu. Lalu bagaimana dengan masalah Ai?"


Bodohnya lagi Sari tidak bisa melihat ada yang salah dengan ekspresi Tiara. Mungkin itu karena dia sudah terbakar ambisi ingin segera mengenyahkan Ai dari pondok pesantren.


"Oh, soal itu ada yang ingin aku bicarakan kepadamu tapi kamu harus berjanji tidak memberitahu siapa pun bahwa akulah yang memberitahumu rahasia ini." Tiara memberikan syarat sebelum mengatakannya.


Ini adalah masalah yang sangat penting dan Tiara yakin, Ai akan sangat malu. Dia pasti tidak punya wajah lagi untuk bertemu Ustad Vano maupun anak-anak pondok yang lain.


Sari tidak masalah dengan syarat yang Tiara berikan karena dia sangat ingin melihat Ai segera keluar dari pondok pesantren ini. Dia kesal melihat wajah sok polos Ai yang terkesan dibuat-buat.


"Kakak tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapapun jika Kak Tiara yang memberitahuku mengenai masalah ini." Sari meyakinkan.


Tiara sebenarnya tidak bisa mempercayai Sari karena dia tahu anak ini bukanlah orang yang suka memegang ucapannya. Tapi mau bagaimana lagi. Dia harus melakukannya karena dia sudah tidak tahan melihat Ustad Vano dan Ai dekat lagi.


Hah, soal hati memang sangat rumit. Bila menyangkut soal manisnya cinta, beberapa orang akan menutup mata dan telinga dari kebenaran sekalipun kebenaran ada di depan mata. Inilah mengapa manusia diminta untuk mengolah fitrah cinta sesuai dengan aturan yang Allah inginkan.


Bila cinta, cukup langitkan. Jangan melakukan apa-apa dan biarkan Allah yang memutuskan apakah cinta ini pantas atau tidak. Bila 'tidak' maka cinta itu akan Allah hilangkan dan digantikan dengan perasaan cinta yang lain, tapi bila 'iya' maka akan ada hari dimana cinta itu disatukan.


Kuncinya hanya pada Allah. Jika jatuh cinta, berbicaralah dengan Allah dan rayu Dia agar bisa dipersatukan. Buat Allah jatuh cinta agar Dia ridho dengan setiap langkah yang diambil.


"Bagus." Dia menarik Sari duduk lebih dekat lagi dengannya.


Dengan suara rendah ia mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dikatakan.

__ADS_1


"Aku punya rahasia tentang Aishi. Sebenarnya dia adalah..."


__ADS_2