Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 26.8


__ADS_3

"Enaknya yah jadi muda," Dia tidak sempat merasakan bagaimana manisnya jatuh cinta dengan seorang yang begitu dekat.


Dia pernah mengalami jatuh cinta namun itu dengan seseorang yang jauh, jadi untuk rasa itu dia harus menunggu dalam diam.


Entah itu Aldo atau Ali, Safira menyukainya dengan diam-diam dan terus menunggu meskipun jarak memisahkan.


Dan Qadarullah, dari keduanya Allah berikan yang terbaik dari yang terbaik. Yang mampu mengimbangi keraguan dan sifatnya yang keras kepala.


Ali berhasil melakukan semua itu.


"Enggak juga kok, Kak. Sifa malah cemburu sama Kak Safira karena Mas Ali sangat memuliakan Kakak. Sifa melihat semua keseriusan Mas Ali untuk Kak Safira sejak bertahun-tahun yang lalu jadi Sifa pikir perempuan manapun pasti akan cemburu melihat Kak Safira dipertemukan dengan Mas Ali. Terkadang Sifa bertanya-tanya apakah ada Mas Ali kedua di dunia ini? Mas Ali yang mau menerima semua kekurangan Kak Safira, mengagumi kelebihan Kak Safira, memperjuangkan Kak Safira dengan diam-diam, membuat hati Kak Safira luluh dengan tutur katanya yang lembut, ilmunya yang melimpah dan tidak pelit berbagi, pemimpin yang baik untuk semua orang dan selalu berpegang teguh pada agama. Ya Allah, adakah Mas Ali kedua di dunia ini? Jika ada Sifa ingin sekali dipertemukan dengannya." Ucap Sifa mencurahkan isi hatinya.


Bila Ali bukanlah saudara kandungnya mungkin nasib Sifa akan sama seperti para perempuan yang mencintai Ali dengan keras kepala. Mereka akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan Ali bahkan tidak malu menjadi orang kedua di dalam rumah tangga Ali dan Safira.


Cinta ini bermuka dua, terkadang cinta manis untuk jiwa namun juga kadang menjadi racun untuk jiwa. Ketika sudah merasakan racunnya, orang yang terkena akan sulit melepaskan diri.


"Dek, mereka tidak akan menjadi Mas Ali karena Mas Ali hanya ada satu di dunia ini. Namun mereka bisa melebihi Mas Ali dengan cara dan sifat mereka masing-masing. Allah itu adil kok, dek. Dia tidak mungkin menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sebuah kekurangan, yakin deh."


Sifa mengulum senyumnya mengerti. Semakin dia berbicara dengan Safira maka semakin pula dia menyukainya. Dia pasti akan mendapatkan ilmu baru bila berbicara dengan Safira, entah itu tentang pasangan, pekerjaan, masalah sekolah atau apapun itu. Safira selalu menjadi tutor terbaik untuknya.


"Udah selesai," Safira mengumpul semua lembar tissue kotor di tangannya. Menaruhnya di dalam kantong plastik kosong di dekat tissue dan mengikatnya untuk mencegah anak-anak menyentuhnya.


"Ai mau gak ikut Bunda ketemu sama seseorang?"


Ai yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan Safira dan Sifa akhirnya punya ruang untuk bersuara.


"Kemana, Bunda?" Dia terlihat senang.


Safira tersenyum,"Ke ruang tamu. Di sana ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan Ai. Dia bilang rindu ingin melihat Ai." Jawab Safira dengan suara yang dibuat-buat.


Ai semakin bersemangat dan mulai gugup.


"Apa dia mengenal Ai?" Apa itu teman-teman kelasnya?

__ADS_1


Safira menganggukkan kepalanya semangat."Dia-ah, tidak. Mereka sangat mengenal Ai dengan baik. Bahkan mereka punya lho foto-foto Ai waktu seumuran si kembar. Bunda sudah melihatnya dan Ai terlihat sangat imut!"


"Eh seriusan? Sifa juga mau lihat dong, Kak." Sifa penasaran ingin melihat wajah cantik Ai ketika masih kecil.


Pasalnya, sekarang saja wajah anak ini terlihat sangat cantik dan mempunyai aura yang manis. Orang-orang akan sulit menyadari bila dia punya suatu kelebihan.


Sifa saja sejujurnya agak cemburu karena Ai terlihat sangat cantik! Matanya yang polos adalah daya tarik terbesarnya. Ai mempunyai mata persik yang jernih dan bulu mata yang panjang. Dia... ah, Sifa tidak bisa berkata apa-apa!


"Sifa nanti ikut Kakak ke ruang tamu. Anak-anak biar-"


"Sayang?" Panggilku lembut Ali memotong ucapan selanjutnya.


Dia pikir lebih baik membawa semua anak-anak ke ruang tamu agar hatinya lebih tenang.


"Ide yang bagus!"


...🍚🍚🍚...


Ketika mereka masuk, kedua mata tua Pak Daman dan Bu Santi tidak bisa lepas dari wajah anak-anak rupawan yang ada di dalam pelukan tuan rumah. Bahkan mata tua itu kian terpaku ketika melihat wajah lembut Ai yang kini sedang memandang mereka dengan ingin tahu.


"Non..Ai?" Pak Daman segera berdiri.


Dia canggung di tempat. Dia ingin segera mendatangi Ai tapi dia ragu ketika melihat reaksi Ai yang tampak ketakutan dan tidak nyaman.


"Biar Bunda yang bawa Rumaisha." Bunda berdiri dari duduknya dan mengambil Rumaisha dari pelukan Safira.


"Terimakasih, Bunda." Katanya sembari memberikan Rumaisha ke Bunda.


Setelah itu dia bisa fokus mengurus Ai. Karena ini adalah pertemuan pertama setelah sekian lama terpisah, Safira pikir Ai akan sedikit sulit menjadi akrab dengan Pak Daman dan Bu Santi.


"Ai, jangan takut. Mereka adalah Kakek dan Nenek yang mengurus Ai ketika masih kecil dulu. Mereka orang yang sangat baik, mereka juga mencintai Ai sama seperti Bunda, Ayah, dan yang lainnya."


Ai tertegun, mata persik nya yang jernih sekali lagi menatap Pak Daman dengan hati-hati. Dia pandangi wajah tua itu, meskipun sudah paruh baya tapi kerutan yang terbentuk di wajahnya lebih banyak karena pengalaman hidup yang sulit dan bukan karena pertambahan usia.

__ADS_1


Sejenak, dia merasa akrab dengan tatapan itu. Seolah-olah dia pernah mengalami hari-hari dimana perasaan hangat mudah di dapatkan, melimpah ruah di dalam hidupnya.


Tapi kapan?


Dia tidak mengingatnya.


"Ai mau salam gak sama Kakek dan Nenek?" Safira melihat bila Ai sepertinya tidak menolak.


Diam, semua orang menunggu reaksi Ai dengan gugup. Mereka pikir Ai akan menolak tapi tidak disangka Ai akhirnya menganggukkan kepalanya bersedia.


"Alhamdulillah.." Semua bernafas lega.


Ai meremat kuat tangan Safira. Berjalan ringan mendekati Pak Daman dan Bu Santi yang kini sedang memberikannya sebuah tatapan penuh kehangatan.


"Non Ai.." Pak Daman duduk berlutut di lantai. Mengulurkan tangan tuanya untuk bersalaman.


"Ayo, Nak, salam sama Kakek." Bujuk Safira dengan suara yang lembut khas seorang Ibu.


Ai melepaskan tangannya dari Safira. Lalu dengan ragu mengulurkan tangannya menyentuh tangan tua Pak Daman.


Ini kasar tapi ada jejak kehangatan di dalamnya. Ai seakan-akan ditarik dalam sebuah ingatan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Suara tawa renyah seseorang..


"Ai kita sudah besar.." Suara hangat seseorang.


"Rein, mata Ai adalah milikmu.." Itu suara laki-laki yang sangat lembut tapi agak berat.


"Tapi hidung dan bibirnya adalah milik Mas Davin.." Ini adalah suara yang sangat lembut..suara yang selalu mengiringnya masuk ke dalam dunia mimpi.


Suara-suara ini meskipun samar mengingatkan Ai pada dua sosok yang dulu selalu dia rindukan di malam-malam yang dingin.


Dia sangat merindukannya sampai batas dimana dia mulai menyimpan rapat wajah-wajah mereka ke dalam memori terdalam, mencegah siapapun untuk mengambil ingatan ini darinya.


"Ai...." Perlahan sebuah cairan hangat satu demi satu keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2