Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Kepergian Norin


__ADS_3

Dengan mata berkaca kaca, Norin menatap bangunan pabrik tempat dirinya mencari nafkah selama lebih dari sepuluh tahun. Akhirnya pada hari ini, ia harus meninggalkannya demi menghindari sosok laki laki yang ia benci. Norin menyeka air matanya yang mulai berjatuhan. Kemudian, ia menyalakan motornya lalu melaju pelan keluar gerbang meninggalkan pabrik tersebut.


Sepanjang jalan air matanya mengalir tanpa henti. Norin harus pergi sejauh mungkin meninggalkan kota yang sudah memberinya kehidupan manis serta kehidupan pahit. Tiba di sebuah dealer motor, Norin menjual motor kesayangannya. Ia harus melakukannya karena uangnya akan di gunakan untuk tambahan uang kuliah Rizal adiknya.


Sebuah taksi telah menunggunya di depan rumah. Taksi yang sudah di pesan Norin sebelumnya. Norin segera memasuk kan dua koper miliknya ke dalam bagasi taksi.


"mba Norin....mba Norin mau kemana?" Bu Yayuk tergopoh gopoh menghampirinya. wanita itu heran tak biasanya Norin memesan taksi lalu membawa dua koper besar seperti akan pindahan saja.


Norin menyunggingkan senyum pada wanita yang sedang berjalan ke arahnya."saya mau pergi dulu Bu."


"tapi mau pergi kemana mba Norin?"


"Yang pasti masih di indonesia Bu. Oiya saya titip rumah serta kuncinya ya Bu. kalau bisa Bu Yayuk kontrakin aja rumah saya ini, saya percaya sama Bu Yayuk.


"tapi mba Norin ini mau kemana? kenapa mendadak sekali?" Bu Yayuk masih mencecar pertanyaan pada Norin karena Norin belum saja mau menjawabnya.


"Saya harus pergi Bu. Saya tidak memiliki waktu lagi untuk menjelaskannya. Inshaallah di lain waktu semoga kita berumur panjang dan bisa berjumpa kembali.


Sebenarnya Norin enggan sekali meninggalkan rumah yang sudah di tempatnya selama tujuh tahun serta tetangga baiknya ini. Namun, ia harus pergi. Norin segera memeluk Bu Yayuk dengan erat. terdengar isakan tangis Bu Yayuk di pelukannya.


Cukup lama Norin memeluknya kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, ia masuk ke dalam taksi dan meninggalkan rumah serta tetangga baiknya yang masih menangis tersedu sedu sambil menatap kepergiannya. Setetes air mata jatuh ke pipi mulusnya lalu ia segera menghapusnya.


Plaak


Sebuah amplop putih di lempar ke atas meja kerja Shin oleh direktur Lee yang tiba tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal itu membuat Shin terkejut atas sikap pamannya yang tiba tiba bersikap dingin padanya.


Shin mengambil amplop di hadapannya." Apa ini paman?"


"Buka saja oleh mu." Ucap Lee sambil berkacak pinggang.


Dengan rasa tidak sabar serta penasaran Shin membuka amplop tersebut. Seketika ia terperangah menatap isi amplop di tangannya. Sebuah surat pengunduran diri atas nama Norin Inayah.


"Aku yakin pengunduran dirinya yang mendadak ini ada kaitannya dengan mu Hoon." Dengan entengnya Lee menuduh Shin.


"Kenapa uncle menuduhku?" Tanya Hoon sedikit tidak terima namun kenyataannya memang demikian. Ia pun sebenarnya memiliki dugaan yang sama dengan pamannya bahwa pengunduran diri Norin di sebabkan oleh dirinya. Namun, rasa gengsinya tinggi untuk mengakuinya.


"Karena aku tau apa yang sudah kau lakukan padanya Hoon." Lee berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Apa maksud uncle?"


"Jangan pura pura lupa ingatan Hoon. Apa kau pikir aku tidak pernah tau apa yang kau lakukan di mansion selama ini hah? meskipun aku tidak tinggal di sana tapi mataku banyak. Jadi apa pun yang kau lakukan aku tau Hoon termasuk apa yang sudah kau lakukan pada Norin."


"Uncle...!"


"Kau sudah memperkosa nya kan? kau sudah merusak anak orang." sentak Lee. Ia geram sekali atas perlakuan menjijikan keponakannya itu.


Shin terdiam tubuhnya tiba tiba terasa kaku.


"Dari mana uncle Lee tau apa yang sudah aku lakukan pada Norin?" Shin bermonolog.


"Kenapa aku memiliki keponakan yang tidak memiliki moral dan bejat seperti anak ini." Lee berucap lirih sambil mengusap wajah nya dengan telapak tangannya.


"Uncle aku ...!"


"Kau itu sakit Hoon. Ada yang salah di otakmu. Lebih baik kau datangi psikiater untuk membenarkan otakmu yang sakit itu."


Braakk


Pintu di tutup dengan kasar. Lee beranjak pergi membawa amarah dan kekecewaan pada keponakan arogannya.


"Kenapa kau lakukan ini Norin? sebenci itu kah kau padaku?"Tidak ingin membuang waktu lagi Shin bergegas beranjak dari ruangannya untuk menemui Norin.


"Cepat Tono, kau lamban sekali bawa mobilnya?" bentak Shin. Ia sangat kesal sekali sudah satu jam di perjalanan belum sampai saja di rumah Norin.


"Maaf tuan, jalannya macet. saya harus bagaimana? kalau saya punya sayap sudah saya terbangkan mobil ini tuan." Tono kesal sekali dari tadi. sang tuan menggerutu terus terusan dan memarahinya.


"Aku tidak butuh candaan mu Tono."


"Saya tidak becanda tuan."


Akhirnya setelah satu setengah jam di perjalanan ia sampai juga di rumah Norin yang terlihat sepi. Shin segera turun dari mobilnya lalu berjalan ke arah pintu pagar. terlihat pintu pagar terkunci rapat.


"Norin...Norin...tolong buka pintunya. Aku ingin bicara denganmu Norin." Teriakan Shin di sore hari mengundang para warga komplek tersebut termasuk Bu Yayuk. Bu Yayuk segera berjalan cepat menghampiri pria yang sedang berteriak berulang kali.


"Tuan Shin...!"

__ADS_1


Shin menoleh pada wanita yang menghampirinya." Apa ibu tau Norin ada di dalam?"


"ma maaf tuan Shin. Tapi, mba Norin sudah pergi dari tadi pagi."


"pergi dari pagi?"


"iya tuan."


"kemana, kemana dia pergi?"


"saya benar benar tidak tau tuan."


"bagaimana ibu tidak tau kemana Norin pergi?bukan kah ibu itu akrab dengan Norin?"


"tapi saya berani sumpah tidak tau mba Norin pergi kemana. Tadi pagi ia hanya menitipkan kunci agar rumahnya di kontrakan."


"kunci? mana kuncinya?"Shin menadahkan tangannya.


Bu Yayuk segera memberikan kunci rumah Norin pada Shin. Shin segera membuka pintu pagar sebatas di bawah dadanya. Lalu, ia berjalan mendekati pintu rumah bercat putih. Rumah mungil itu tampak kosong. Shin menyalakan lampu agar terlihat terang. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamarnya melihat isi lemari kecil sudah tidak ada pakaian di sana.


"Kamu...kamu benar benar pergi meninggalkan aku Rin?"


Shin segera menghubungi Rizal adiknya. Dulu ia sempat meminta nomer ponsel adiknya untuk berjaga jaga. Benar saja, nomer itu sangat di butuhkan untuk saat ini. Shin menanyakan apa Norin pulang kampung? Namun, Rizal memberi tahunya bahwa Norin tidak ada di kampungnya melainkan ia hanya mengirim uang tadi pagi untuk adik serta ibunya.


"Kamu pergi kemana sayang? apakah apa yang telah aku lakukan padamu benar benar menyakiti perasaanmu?"


Shin duduk di ranjang tidur tempat dimana Norin mengistirahatkan tubuhnya. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut.


"Aku rindu kamu, sangat rindu.Tolong kembalilah padaku."


Tak sengaja pandangannya tertuju pada meja rias yang memiliki tiga laci. Shin menegak kan kembali tubuhnya lalu berjalan mendekati meja rias yang telah mencuri perhatiannya itu. Satu persatu laci laci tersebut di buka olehnya hingga laci paling bawah. Nampak sebuah buku kecil berwarna merah muda tergeletak di dalam laci tersebut. Seperti barang pribadi milik Norin yang tertinggal. Shin penasaran apa isi buku warna merah muda itu. Lalu, ia membukanya lembar demi lembar hingga sampai pada lembar yang paling akhir, Shin mendapati tulis tangan yang sangat rapih dan cantik serta panjang. Tulisan itu menyita perhatiannya lalu ia membacanya secara detail.


"Si perawan tua yang sekarang sudah tidak lagi perawan. Apakah orang orang yang telah membenciku masih akan menyebutku sebagai perawan tua setelah mereka tau bahwa orang yang mereka olok selama ini tidak lagi perawan? Miris memang, mahkota yang ku jaga selama tiga puluh tahun harus terenggut begitu saja oleh pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Pria yang kucintai sekaligus ku benci..sangat benci.


Di sakiti oleh cinta pertama membuatku trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang pria mana pun. Aku menutup rapat hati ini dari laki laki yang mencoba mendekatiku hingga usiaku mencapai tiga puluh tahun. Ya, tiga puluh tahun usiaku saat ini. Usia yang seharusnya sudah cukup matang untuk membina sebuah rumah tangga. Di usiaku yang ke tiga puluh tahun ini lah aku baru menyadari bahwa aku tidak boleh terus menerus terjebak pada masa laluku. Aku tidak boleh menyianyiakan sisa hidupku ini hanya berkutat di masa lalu. Aku harus bangkit, harus menatap pada masa depanku. Aku mulai menata hati ini, mencoba membuka hati untuk pria yang selama ini terus menerus mengejar cintaku serta meyakinkanku bahwa ia benar benar tulus mencintaiku. Ucapan manisnya membuatku merasakan cinta itu tumbuh kembali di hati ini setelah sekian lama mati rasa. Aku mulai jatuh cinta padanya dan menaruh harapan penuh padanya bahwa ia lah laki laki yang telah Tuhan kirimkan untukku untuk menemani sisa usiaku. Ternyata aku salah. Laki laki yang aku pikir akan menjadi suamiku kelak ternyata sama sekali tidak pernah menginginkan untuk menikahi ku. Entah mengapa? mungkin aku ini wanita yang tidak pantas untuk menemani hidupnya atau apa aku tidak tahu. Dan pada akhirnya aku harus terpuruk kembali. Pria yang aku anggap tulus mencintaiku ternyata tak ubahnya seperti pria brengsek masa laluku. Apa salah jika aku menginginkan sebuah pernikahan dan membina rumah tangga? memiliki suami serta beberapa anak sebagai penerus generasiku? Tapi sayangnya, mungkin Tuhan sudah mentakdirkan hidupku untuk terus hidup sendiri di sepanjang usiaku hingga ajal menjemput ku. Aku ikhlas jika memang Tuhan sudah menggariskan jalan hidupku seperti ini. Menjadi perawan tua yang sudah tidak lagi perawan.


Sepasang mata sipit itu mulai berkaca kaca. Dada bidangnya terasa sesak sekali. Tangannya bergetar memegang selembar kertas berisi tulisan tangan wanita yang di cintai sekaligus di sakiti nya.

__ADS_1


"maaf kan aku....maafkan aku yang bodoh dan brengsek ini." Tubuh besar itu luluh. Shin menangis...menangisi kebodohannya selama ini.


__ADS_2