Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 3.7)


__ADS_3

Ai sangat bersyukur,"Terimakasih, aku akan menunggu kalian jika aku lebih dulu selesai."


"Hahahaha..yah, kamu bisa mandi di sana dan jangan terlalu sungkan. Aku tahu kamu malu karena punyamu lebih kecil daripada kami. Tidak apa-apa Ai, sebagai perempuan aku mengerti apa yang kamu rasakan." Kata Sari diiringi dengan tawa ringan.


Deg


Kata-kata ini tepat menyodok rasa sakit Ai.


Senyuman yang ada di wajahnya segera membeku, perlahan itu meredup seiring rasa sakit datang di dadanya.


Wajahnya langsung pucat pasi dan bahkan kedua tangannya bergetar panik, di dalam hati dia bertanya-tanya apakah Sari tahu?


Apakah Sari tahu jika dia lahir tidak sempurna?


Hatinya cemas sekaligus gugup. Dia takut mendapatkan cemoohan dan pembulian seperti yang terjadi di sekolahnya dulu. Karena sungguh rasanya begitu sakit, berbeda itu sangat menyakitkan.


"Hei, jangan membuang banyak waktu lagi. Kita harus segera mandi agar tidak telat datang ke masjid."


Mereka semua tertawa, menganggap lelucon Sari sangat menghibur dan membuat suasana lebih ringan. Padahal diam-diam Ai memendam sesak di sini, memaksakan sebuah senyum seolah tidak ada yang pernah terjadi.


"Baiklah, aku akan pergi mandi." Ai segera masuk ke dalam kamar mandi.


Melarikan diri dan menyembunyikan diri sepenuhnya di dalam. Dia ingin menangis tapi sekuat tenaga menahan semuanya.


"Tidak apa-apa, Ai. Kamu sekarang sudah dewasa dan bertindaklah dewasa seperti yang Bunda katakan. Ini bukan apa-apa, ini bukan masalah besar. Lagipula dia hanya bercanda saja, benar, dia hanya bercanda saja." Bisik Ai menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Menenangkan hatinya sebelum mulai melepaskan pakaiannya untuk membersihkan diri.


Sementara itu diluar sana, setelah Ai masuk ke dalam mereka berempat tidak merasakan ada sesuatu yang salah. Mereka masih tertawa sampai seorang gadis menabrak bahu Sari keras.


"Astagfirullah!" Sari tertangkap tidak siap dan jatuh ke belakang.


Membuat mereka bertiga dan orang-orang yang ada di sana melihatnya terkejut.


Gadis yang menabrak Sari menghentikan langkahnya. Bukannya membantu Sari untuk bangun atau meminta maaf kepadanya, orang itu malah memandang sinis Sari yang masih meringis kesakitan dan meratapi gamisnya yang kotor.


"Apa kamu seekor ular?" Tanyanya sinis membuat Sari dan mereka bertiga tercengang.


"Apa maksudmu?" Sari ingin marah.


"Kenapa lidah mu sangat fasih membicarakan kekurangan orang lain tapi tidak menyadari kekurangan diri sendiri?" Tanyanya dengan nada mengejek.


"Lain kali bercermin lah di kaca dan jangan di tembok, lihat baik-baik wajahmu yang berada dibawah rata-rata dan perhatikan bentuk tubuhmu yang kelebihan lemak. Hahahaha..bukankah itu sangat memalukan?" Katanya meniru cara bicara Sari tadi ketika menjadikan kekurangan Ai sebagai bahan bercandaannya.


Setelah puas, dia berhenti tertawa dan wajahnya kembali datar tanpa senyum. Dia memandang Sari dengan pandangan provokasi sebelum pergi kembali ke asrama.


"Kurang ajar! Berani-beraninya dia melakukan ini kepadaku!" Sari sangat marah. Dia ingin membalas gadis sombong itu tapi nyalinya tidak sebesar itu.


Dia merasa jika gadis itu tidak mudah untuk diprovokasi dan pasti akan melawan balik. Lihat saja tadi, dia kalah telak tidak bisa membalas kata-katanya. Dia malu, sangat malu sampai rasanya ingin menggali tanah untuk mengubur dirinya.


"Astagfirullah, dia sangat kasar. Tapi kenapa aku merasa gadis itu tidak asing, yah?" Herlina merasa pernah melihatnya.

__ADS_1


Asri yang baru terbangun dari lamunannya menatap kepergian gadis itu dengan horor.


"Apa kalian tidak tahu? Namanya Mega, dia adalah teman sekamar kita dan berasal dari kota yang sama dengan Ai!" Kata Asri membuat mereka bertiga dilanda kejutan.


Satu kamar?


Lalu Asri, Herlina, dan Sulastri menatap Sari dengan tatapan yang agak rumit.


"Oh, tidak heran. Dia berasal dari kota yang sama dengan Ai dan aku yakin dia juga orang kaya. Hah.. padahal itu adalah titipan Allah tapi kenapa mereka semua begitu sombong?" Kesal Sari masih tidak bisa menghilangkan kemarahannya.


Asri menepuk pundak Sari perihatin, dia sebenarnya kasihan dengan Sari karena dipermalukan di depan banyak orang. Bahkan gamisnya menjadi kotor dan peralatan mandinya juga jatuh ke lantai.


Pemandangan ini cukup menarik simpati mereka. Hanya saja, ketika mengingat kembali candaan Sari kepada Ai tadi dia juga merasa jika Sari sudah melewati batas.


Fisik seseorang adalah sesuatu yang sangat pribadi. Mereka tidak bisa berbicara sembarangan apalagi sampai membuatnya menjadi bahan bercanda. Bukannya terdengar lucu malah itu terdengar seperti sebuah ejekan.


Pantas saja Mega sangat marah bahkan sampai menciptakan masalah di sini.


"Baiklah, jangan marah lagi. Ayo kita masuk saja dan mandi agar nanti tidak terlambat datang ke masjid." Kata Asri tidak berniat menghibur.


Walaupun marah Sari tetap masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selama mandi dia lebih banyak diam memikirkan langkah apa yang akan dia gunakan untuk membalas Mega.


Gadis angkuh yang telah mempermalukannya!


Bersambung..

__ADS_1


Ikuti alur yah..wkwkwk


Lanjut?


__ADS_2