
Aku pasti bisa melalui semuanya!
"Tidak apa-apa, Ai. Ini mungkin sakit. Mungkin akan sangat menyakitkan tapi ini adalah harga yang harus aku bayar untuk mencintainya. Ini adalah harga yang harus aku bayar karena terlalu berani jatuh cinta dan ini adalah harga yang harus aku bayar untuk mengharapkan laki-laki yang sudah memiliki gadis lain dihatinya. Yah, sakitnya hanya sementara saja." Di setiap langkah aku berusaha menguatkan hatiku bahwa aku bisa melewati semua ini meskipun rasanya sakit.
Aku mengatakan kepada hatiku bahwa ini adalah harga yang harus aku bayar untuk semua langkah yang Allah tidak ridhoi. Ini adalah hukuman untukku karena terlalu mengharapkan laki-laki yang sudah mencintai gadis lain.
Ini adalah akhirnya, Ai.
"Ai, akhirnya kamu selesai juga! Aku dan Mega tadi berencana ingin mendatangimu." Suara ceria Asri menarik ku dari pikiranku.
Aku tersenyum tipis,"Maaf, apa aku membuat kalian menunggu?"
"Tidak, aku dan Asri juga baru saja selesai." Duduk di atas tanah, wajah Mega tampak jauh lebih muram dari sebelumnya.
Sepertinya hari ini aku dan dia benar-benar tidak beruntung.
"Ayo kembali ke asrama, di sini terlalu panas dan badanku juga sudah lengket." Ajak Mega seraya berdiri.
Aku juga ingin segera pergi, untungnya Mega punya pikiran yang sama denganku.
"Ya, aku juga ingin segera membersihkan diri." Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Secepat itu?" Wajah Asri terlihat merah dan tidak rela.
"Apa tubuhmu tidak lengket berada dibawah sinar matahari?" Tanyaku heran.
Dia tersenyum malu,"Em..badanku sebenarnya tidak terlalu lengket...ah, sudahlah! Ayo kita kembali ke asrama dan mandi sampai bersih!"
Setelah itu kami bertiga membawa keranjang masing-masing menemui Kak Sasa dan yang lainnya. Saat menyerahkan keranjang sayur ku kepada mereka, aku lebih banyak menundukkan kepalaku atau memalingkan wajahku melihat hamparan sawah.
__ADS_1
Untungnya Kak Tiara dan Kak Frida tidak mengungkit masalah itu lagi sehingga hatiku tidak terserang rasa sakit lagi.
Di perjalanan saat kembali ke asrama kami bertiga lebih banyak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku merindukan Bunda dan Ayah." Gumam ku pada diriku sendiri.
Tapi ternyata Mega juga mendengar apa yang ku katakan.
"Aku juga merindukan Mama dan Papa." Katanya tampak sayu.
"Hem, aku ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu juga." Asri ikut menimpali.
Kami semua merindukan kedua orang tua kami. Jauh dari mereka rasanya sangat tidak berdaya dan tidak tertahankan sekalipun itu hanya sehari saja.
"Aku akan menelpon mereka hari ini." Aku ingin mendengar suara menenangkan Bunda.
Jika bisa, aku ingin berlari ke dalam pelukannya dan menangis sekuat yang aku bisa. Ya Allah, hati ini begitu rindu kepada Bunda.
"Tentu saja, kita bisa pergi bertiga setelah membersihkan diri di asrama nanti." Kataku tidak keberatan.
Dia tersenyum tipis,"Terimakasih."
Aku mengangguk ringan, kembali menatap hamparan langit yang luas dan tidak berujung.
Rasa sakit itu...
Aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
"Aku ingin di kamar mandi pribadi." Kata Ai kepada mereka berdua.
Mega tidak keberatan, dia juga berdiri di kamar mandi pribadi tepat di samping Ai.
"Aku lebih suka tempat tertutup dan sendiri daripada ramai-ramai."
Asri juga tidak punya keluhan. Dia membawa alat mandinya berdiri di depan pintu kamar mandi pribadi di samping Mega.
Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu masuk ke dalam, Ai menaruh peralatan mandinya terlebih dahulu di dekat bak mandi. Kepalanya yang beberapa saat lalu agak tenang kini mulai mengingat kembali setiap kata-kata yang Frida dan Tiara katakan.
Informasi yang datang begitu tiba-tiba dicampur dengan serbuan rasa sakit yang mengiris, perlahan cairan bening nan hangat itu satu demi keluar dari sudut mata Ai. Menumpahkan rasa sakit yang telah susah payah dia tanggung dalam diam tanpa mengeluh.
"Hiks..sakit.." Isaknya sambil menyentuh dada datarnya, memukul-mukul dadanya berharap rasa sakit itu agar segera menghilang.
Ini sakit, sangat menyakitkan. Bahkan bernafas pun rasanya sulit. Setiap kali dia mengambil nafas, rasa sesak itu akan menjepitnya. Menusuknya berkali-kali tanpa ampun, Ai bahkan sampai harus menahan nafas beberapa kali untuk beristirahat sebentar saja dari gelombang rasa sakit berikutnya.
"Hati Ai sakit.." Rasa sakitnya tidak bisa menghilang sekuat apapun Ai memukul dadanya.
Dia menyerah, memeluk dadanya sambil berharap agar dadanya kembali tenang. Tapi semuanya sia-sia. Sesak dan rasa sakit itu tidak bisa menghilang meskipun dia melakukan banyak usaha untuk menghilangkannya.
Dia menangis dalam isak, tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga perlahan merosot ke lantai. Terduduk di atas lantai untuk menenggelamkan rasa sakit di dadanya yang tidak kunjung menghilang.
"Bunda.. Ayah hiks...Ai rindu." Bisiknya dalam kesakitan.
Bersambung..
Assalamualaikum, semuanya. Maaf baru up hari ini. Kemarin mood saya benar-benar buruk seharian sehingga buat ngeluarin ide di kepala itu amat sangat sulit. Saya benar-benar gak bisa nulis kemarin.
__ADS_1
Oh ya, ini 3 bab dulu yah. Sesuai janji untuk Kak Siti Zaida saya akan up 4 atau 5 chapter, nah sisanya saya akan up nanti sore mungkin 1 atau 2 chapter.
Selanjutnya POV Asri 🍁