Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Norin dan Rio


__ADS_3

Norin memperhatikan penampilan pria berkarisma tengah duduk di sofa berhadapan dengannya. Rio yang tau tengah di perhatikan oleh wanita cantik di hadapannya merasa ada yang salah dari dirinya.


"kenapa dengan saya dek?" tanya Rio.


"oh, ngga....ngga apa pak!" jawab Norin lalu tersenyum nyengir membuat Rio merasa gemas melihatnya.


Rio tahu jika wanita itu memperhatikan penampilannya yang terlihat kasual tidak memakai seragam dinas.


"saya ganti baju dek, malu rasanya ngapel pake baju dinas," celetuk Rio.


Norin mengerutkan dahinya. "ngapel ?"


"iya, kan sekarang saya lagi berkunjung di rumahnya Bu Aminah." Rio menjawab kebingungan Norin maksud dari ngapel.


"oh, iya!" Norin tersenyum manis sekali membuat pria itu semakin kagum saja padanya.


"hmm dek Norin apa ada kesibukan siang gini ?" tanya Rio tiba tiba.


" ngga ada pak!"


"kalau saya ajak dek Norin jalan ke luar mau ngga?"


Norin diam sejenak, jujur saja dia merasa jenuh di rumah tidak ada kegiatan.


"saya bilang ibu dulu ya pak!"


"ngga usah, ibu udah ngijinin kok. kalau kalian mau main ya main aja sekarang nanti keburu sore." Bu Aminah yang sudah nguping pembicaraan mereka dari tadi tiba tiba nongol.


Rio tersenyum senang mendapat persetujuan langsung dari ibu wanita yang ia sukai.


"ibu ngijinin?" tanya Norin.


"iya, kalau sama pak Rio mah ibu percaya."


Rio tersenyum." terima kasih Bu, saya janji ngga akan bawa kabur Puteri ibu sebelum.....!"


"sebelum apa pak Rio ?" tanya Bu Aminah penasaran.


"sebelum...sebelum menjelang malam. ya Bu, saya akan membawa Norin kembali sebelum menjelang malam hari." Rio mengalihkan maksud ucapannya tadi.


"oh gitu pak!"


"yaudah Bu, kami permisi dulu ya Bu, mari dek Norin!"


Norin mengekor menuruti perintah Rio. Lalu, Rio membukakan pintu mobil untuknya


"silahkan masuk dek!"


"terima kasih pak!"


Bu Aminah menatap harap pada mobil yang keluar dari halaman rumahnya.


" semoga pak Rio jodohnya puteri ku, Norin. amin!" ucapnya.


Rio melajukan mobilnya dengan pelan, menyusuri jalanan naik turun serta berliku liku.


"kita mau kemana pak?" tanya Norin, memecahkan kebisuan.


"dek, kita lagi di luar dan berdua lagi. bisa ngga panggilan "pak" di ganti dengan panggilan "mas" ?" Rio protes karena wanita di sampingnya selalu memanggilnya dengan sebutan pak.


" oh, maaf mas!"


"nah, gitu dong. kita mau ke pantai, dek Norin suka ngga dengan pantai ? atau dek Norin bisa merekomendasikan tempat bagus yang lain mungkin ?"


"ngga pak, saya ngga tau tempat tempat menarik di daerah sini, tau nya cuma pantai aja."


"udah kelamaan tinggal di kota ya! jadi lupa sama daerah sendiri."

__ADS_1


Norin melirik pada pria yang tengah mengemudi, pria itu pun melirik pada Norin dengan ekor matanya.


Norin tersenyum manis sekali membuat pria itu merasa gemas dan ingin mencubit pipi mulusnya.


"kalau seandainya suatu hari nanti dek Norin harus meninggalkan kota karena harus ikut dengan seseorang apa dek Norin bersedia meninggalkan kota tersebut?"


"ya tergantung, kalau seseorang itu lebih penting ya mau tak mau harus meninggalkan kota."


Rio tersenyum senang. Kelak jika ia sudah menikahi wanita di sampingnya ini tentu ia ingin Norin meninggalkan kota dan ikut bersamanya.


Satu jam kemudian, mereka telah tiba di hamparan laut biru yang membentang luas. Norin turun dari mobil dan menatap takjub pada pemandangan yang menyegarkan mata.


Kemudian Norin berlari kecil mendekati ombak yang saling berkejaran. Senyuman terus menerus tersungging di bibir mungilnya.


Rio menyenderkan tubuhnya di depan mobil lalu melipat kedua tangannya di dada, ia memperhatikan tingkah laku wanita yang tengah bermain dengan ombak.


"manis sekali!" senyumnya mengembang.


Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya untuk menghampiri wanita itu.


"apa dek Norin senang dengan pantai ?"


Norin mengangguk."saya udah lama ngga liat pantai mas!"


"apa dek Norin mau menelusuri pantai ini?"


Norin mengangguk kecil lalu tersenyum.


"yuk!"


Kemudian mereka berjalan sejajar menelusuri sisi pantai yang terlihat sepi. Sesekali norin mengorek lubang kecil di atas pasir.


" yah, kok umang nya ngga mau ke luar sih?" Norin kecewa, lubang yang telah ia korek belum saja menampakkan binatang kecil di dalamnya.


Rio berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Norin.


"biar saya bantu ya!"


"yeeee dapat" teriak Norin senang.


Karena tubuh Rio lebih tinggi tentu saja berjongkok pun masih lebih tinggi dan ketika Norin mendongakkan wajahnya.


" cup"


keningnya menyatu dengan bibir tipis pria yang tengah berjongkok berhadapan dengannya.


Tanpa sadar Rio memejamkan matanya mengecup tanpa sengaja kening wanita yang mulai mengisi hatinya seminggu ini.


"hanya aku yang boleh melihat dan menyentuh bagian tubuhmu!"


Seketika Norin mengingat ucapan pria bermata sipit itu, lalu ia membelalak kan mata bulatnya dan melepaskan keningnya dari pria yang tengah menikmati momen tersebut.


"maaf dek, maaf saya ngga sengaja," ucap Rio merasa tak enak hati.


Norin salah tingkah ia merasa malu sekali pada pria di hadapannya.


"apa sebaiknya kita menyisi aja dek?"


Norin mengangguk. Kemudian mereka menyisi dari deburan ombak tersebut.


"dek Norin haus? apa kita mau minum air kelapa dulu?"


Norin mengangguk, dan ia hanya bisa mengangguk dan menuruti kemauan pria yang tengah bersamanya.


Rio memesan dua buah kelapa hijau pada seorang pedagang di pantai tersebut.


" pak, nanti kelapanya tolong bawakan ke gazebo yang ada di pojokan sana ya?"

__ADS_1


" siap pak!" jawab pedagang tersebut dengan semangat karena pria tampan ini merupakan pembeli pertama setelah menunggu setengah hari belum saja ada yang membelinya.


Rio kembali pada wanita yang tengah menunggunya di sebuah Gazebo sembari menatap pada hamparan air laut.


"ehem!"


Norin menoleh pada pria yang baru saja datang menyusulnya lalu tersenyum.


"sudah memesan mas?"


"sudah, apa saya boleh duduk di sini ?" tanya Rio.


Norin mengangguk."silahkan mas!"


Senyuman di bibir Rio mengembang."terima kasih ya?"


Jujur saja, Norin mengagumi sosok pria seperti Rio, selain ketampanan yang ia miliki, ia juga sosok pria dewasa, bertutur kata lembut dan bersikap sopan pada siapa saja termasuk dirinya. Jauh berbeda dengan Shin, yang memiliki watak berkebalikan dari Rio. kurang dewasa, sering bertutur kata kasar, bahkan sikapnya tidak pernah sopan pada dirinya dan suka memaksa sekehendaknya.


"andai saja sikap Shin seperti mas Rio aku......, kenapa kamu mikirin dia lagi Norin?lupakan....lupakan!" Norin mengusap wajahnya.


Tentu saja dua pria tampan itu berbeda.


Rio yang background nya dari keluarga sederhana, di didik oleh orang tua yang lebih mengutamakan nilai kesederhaan dan kesopanan tentu saja menghasilkan sosok seperti Rio. Selain itu, ia juga merupakan seorang pendidik.


Sementara Shin, jangan di tanya bagaimana latar belakang hidupnya dari masa kecil hingga dewasa yang selalu di manjakan dengan uang yang seakan tidak pernah habis. Dengan uang mereka fikir sudah cukup. uang bisa membayar orang lain untuk mendidiknya sedemikian rupa. Tanpa harus repot repot turun tangan. Bahkan Shin sendiri tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari orang tuanya yang selalu sibuk mengumpulkan uang.


Kedatangan pedagang kelapa memecahkan kebisuan di antara Norin dan Rio yang tengah terhanyut oleh pikirannya masing masing.


"ini pak kelapanya!" ucap pedagang tersebut sembari meletakan dua kelapa di tengah tengah mereka.


"terima kasih ya pak!" ucap Rio.


"ayok dek, di minum air kelapanya," ucap Rio pada Norin setelah kepergian tukang kelapa tersebut.


Norin mengangguk. lalu, ia mulai menyedot air kelapa itu dengan pelan.


Rio sering kali melirik ke arah wanita yang tengah terdiam.


"dek, boleh saya bertanya sesuatu ?"


"mau tanya apa mas?"


"apa dek Norin pernah memiliki seorang kekasih?"


Norin terdiam, matanya mulai berkaca kaca menatap pada hamparan air laut.


"maaf dek, saya....."


"apa itu merupakan pertanyaan yang penting untuk di jawab mas?" Norin memotong ucapan Rio dengan wajah datar.


"oh ngga, bukan maksud saya mau kepo sama masa lalu dek Norin. maaf, lupakan aja pertanyaan saya itu ya."


"ayok dek, di minum lagi air kelapanya. dek Norin tau ngga, setelah sekian tahun lamanya saya baru merasakan minum air kelapa lagi dan rasanya masih sama ternyata."


Norin melirik pada pria yang berceloteh yang menurutnya hambar itu.


"ngga lucu."


"ngga lucu ya dek!" ucap Rio sambil menggaruk tengkuknya.


"dek !"


"ya mas!" jawab norin dengan pandangan tetap mengarah ke hamparan laut.


" hm, se...se...seandainya ada pria yang mengajak dek Norin untuk menikah tanpa harus pacaran apa kira kira dek Norin mau?" Rio sudah tidak sabar untuk mengungkapkan isi hati dan niatnya pada wanita yang baru satu minggu ia kenal.


Norin tersenyum kecut tanpa menoleh pada pria yang tengah serius menatapnya.

__ADS_1


"emang siapa pria yang mau nikahin saya mas? saya rasa tidak ada," ucap Norin dengan pandangan hampa ke depan. Ia membayangkan pengkhianatan Revan, ia membayangkan Doni yang katanya mencintainya tapi tak pernah menunjukan sikap keseriusan padanya. Dan dia membayangkan Shin, pria yang sering memeluknya, menyentuh bibirnya tapi tak pernah memiliki ke inginkan untuk menikahinya.


"saya dek, saya yang ingin menikahi dek Norin!"


__ADS_2