Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Rumah tangga Anisa


__ADS_3

Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah rumah sederhana bercat biru. Seorang wanita menatap heran pada suaminya yang sedang tertidur. waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi tapi suaminya belum juga mau bangun walaupun hari ini adalah hari libur kerja. Tadi malam suaminya pulang jam tiga dini hari dengan alasan lembur kerja.


Hampir tiap malam suaminya lembur. Dalam satu bulan terakhir suaminya selalu pulang tengah malam kadang sampai subuh.


Anisa keluar dari kamarnya meninggalkan suaminya yang tengah tertidur lelap. Ia menatap sedih pada sepiring nasi goreng yang sudah ia siapkan dari pagi yang belum tersentuh sama sekali oleh suaminya.


"udah dingin pasti udah ngga enak lagi," gumam Anisa dalam hati. Namun, ia membiarkan saja nasi goreng itu tergeletak di atas meja.


Anisa berjalan ke teras rumah untuk menemui ibu serta anaknya yang tengah asik bermain mobil mobilan. Kemudian ia duduk di kursi samping ibunya sambil memperhatikan Al, anaknya yang sedang bermain.


"apa suamimu belum bangun Neng?" tanya sang ibu.


"belum mah!"


"apa semalam pulang subuh lagi?"


Anisa mengangguk."iya mah."


"kasian suamimu hampir satu bulan kerja lembur terus demi mencukupi kebutuhan anak istri. Kamu harus bersyukur Nis, memiliki suami seperti Rendi." ujar sang ibu.


Tanpa sang ibu ketahui, Anisa tersenyum kecut.


"andai ibu tau uang dari a Rendi tidak pernah mencukupi kebutuhan kita sehari hari selama ini, apa ibu masih mau memuji a Rendi? bahkan nafkah bulan lalu a Rendi hanya memberikannya separuh dengan alasan ibunya meminta uang lebih darinya." Anisa bermonolog.


Sikap suaminya yang selalu berbicara lembut dan tak pernah bersikap kasar selama menikah dengannya membuat Anisa selalu percaya dan berfikir positif apapun yang di lakukan oleh suaminya itu.


"neng..neng.....!" teriak sang suami dari arah kamar.


"mah, kayak nya a Rendi udah bangun. Anis titip Al dulu ya mah."


"yaudah sana, biar mamah yang jaga Al."


Anisa beranjak masuk ke dalam rumahnya untuk menemui sang suami. Nampak suaminya tengah duduk di meja makan dengan rambut yang masih acak acakan khas orang baru bangun tidur.


"aa udah bangun?" tanya Anisa sembari jalan mendekati suaminya itu.


"saya lapar neng, ini nasi gorengnya udah dingin, ngga enak di makan lagi neng!" ucap Rendi sambil mengaduk aduk nasi goreng tersebut.


Anisa tersenyum."gimana ngga dingin a, Anis buatnya jam delapan. Anis pikir aa mau bangunnya jam delapan," jawab Anisa.


"yaudah aa mandi dulu gih, sembari nunggu Anis buatkan yang baru."


"ya udah kalau gitu, tapi jangan lama lama udah laper banget ini."


"siap aa sayang!" kemudian ia bersiap siap membuatkan nasi goreng yang baru.


Begitulah Anisa, ia seorang istri yang taat dan patuh pada sang suami. Apa pun yang diperintahkan sang suami selalu ia lakukan. Di beri nafkah besar atau kecil ia selalu menerimanya dengan syukur tanpa protes. Ia juga rela bekerja demi membantu perekomian keluarga. Padahal Anisa sendiri memiliki anak yang masih membutuhkan ASI-nya. kebebasannya pun ia batasi, jika dulu ia sering bermain dan jalan jalan dengan sahabatnya Norin, tapi tidak untuk setelah menikah. Hidupnya hanya ia habiskan untuk mengurus suami, anak serta bekerja membantu keuangan keluarganya.


Anisa telah selesai membuat nasi goreng. Namun, sang suami masih di dalam kamar mandi. Sambil menunggu sang suami selesai mandi, ia berinisiatif untuk merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu.


Setelah Anisa selesai merapikan tempat tidurnya, ia mengambil keranjang yang berisi pakaian kotor untuk di masukan ke dalam mesin cuci. Namun, sebelum di masukan ke dalam mesin cuci, seperti biasa ia selalu memeriksa setiap kantong yang terdapat di pakaian kotor tersebut, berjaga jaga agar tidak ada uang atau benda penting yang ikut tercuci. Anisa merogoh kantong kemeja kerja suaminya, ia menemukan sebuah kertas yang sudah lecek. Anisa pun penasaran lalu membuka kertas tersebut. Nampak sebuah struk bukti transferan uang tiga juta ke pemilik rekening bernama Reni Anita.


Anisa memperhatikan kertas itu dengan detail, melihat tanggal transferannya dan di struk itu tertera tanggal dimana suaminya mendapat gaji dua minggu yang lalu.


Anisa mengingat ingat pemilik nama Reni Anita, dan ia sama sekali tidak pernah mengenal pemilik nama tersebut. bahkan keluarga atau sepupu sepupu suaminya tidak ada yang bernama Reni Anita.

__ADS_1


"siapa Reni Anita? bukannya dua minggu yang lalu a Rendi bilang ibunya minta jatah lebih, tapi apa hubungannya dengan pemilik nama Reni Anita ini?"gumam Anisa.


"neng....neng!" suami Anisa memanggilnya di dalam kamar. Anisa buru buru menyembunyikan struk tersebut. Lalu, ia berjalan menghampiri suaminya di dalam kamar.


"iya a Rendi!" Anisa masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya sudah rapih.


"apa makanannya udah selesai di buat?" tanya Rendi.


"udah a, yuk dimakan sekarang nanti keburu dingin lagi," ucap Anisa.


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju meja makan.


Rendi memakan nasi goreng itu dengan lahap, seperti tidak makan barang sehari. Anisa hanya memperhatikan suaminya makan saja karena ia sendiri sudah sarapan bersama ibunya tadi pagi.


"pelan pelan makannya a!" Anisa mengingatkan.


"abisnya aa laper banget neng!"jawab Rendi sambil mulutnya penuh makanan.


"emang tadi malam ngga makan di tempat kerja a?"


Rendi menggelengkan kepalanya." ngga sempet," jawabnya.


"a, apa boleh Anis nanya sesuatu?"


"mau nanya apa neng?"


"kata aa, ibu minta jatah bulanan lebih, emang aa ngasih berapa ke ibu?"


Rendi terbatuk kemudian ia segera minum air putih." kenapa di bahas lagi neng? kan udah aa kasih tau waktu itu?"


"maaf a, Anis cuma ingin tau aja?"


"oh, ngga a, bukan begitu maksud Anis, Anis ikhlas aa ngasih ibu. Justru Anis seneng aa masih perhatian sama ibu. yaudah a, ngga usah di bahas lagi ya? aa lanjutin makan aja."


Rendi meletakkan sendok makan di atas piring yang tinggal tersisa sedikit nasi goreng. Lalu, ia beranjak pergi ke kamar meninggalkan Anisa yang masih terbengong.


"kenapa sikapnya a Rendi ngga seperti biasanya?"gumam Anisa.


Anisa bangkit lalu menyusul sang suami yang tengah membaringkan tubuhnya di atas kasur kembali.


"maafin Anis a, bukan maksud Anis....!"


"udah lah, saya masih ngantuk Nis, tolong kamu keluar," ucap Rendi pada istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu tanpa menoleh padanya.


"kenapa sikap a Rendi semakin hari semakin berubah? seperti bukan a Rendi suamiku yang biasanya!" gumam Anisa dalam hati.


Anisa berjalan pelan ke arah teras, tanpa ia sadari sang ibu memperhatikan ke bengongan anaknya.


"neng, kenapa melamun?"


"Anisa menoleh pada ibunya."ngga apa apa mah, apa Al masih anteng main Bu?"


"iya, tuh liat, anaknya masih anteng."


"mah, Anis titip Al dulu ya? mau ke market dulu beli susu Al."

__ADS_1


"yaudah sana."


Anisa ke mini market yang ada di pasar menggunakan roda dua. Sampai di sana ia membeli kebutuhan anaknya. Setelah itu, ia keluar dari market tersebut. Namun, Anisa seperti melihat seorang anak kecil yang sangat ia kenali berusia dua belas tahun sedang menjajakan dagangan asongan.


Anisa berjalan cepat untuk menghampiri anak kecil tersebut.


"Bayu....!" teriak Anisa.


Anak kecil tersebut menoleh pada Anisa." teh Anis!" ucap anak kecil itu dengan mata


berkaca kaca.


Anisa memegang bahu anak kecil itu."kenapa kamu bisa ada di kota? terus ini kenapa kamu dagang seperti ini? bukannya mestinya kamu sekolah?"


Anak kecil itu menatap Anisa dengan mata berkaca kaca sesekali ia menyeka mata itu.


"ba..bayu udah ngga sekolah teh. bayu mau bantuin ibu cari uang aja."


"siapa yang nyuruh kamu nyari uang?"


"ngga ada yang nyuruh teh, mau Bayu sendiri. kasian ibu sekarang aja lagi sakit di kampung."


"ya Allah bayu, emang uang yang tiap bulan di kirim ke ibu oleh a Rendi apa ngga cukup untuk kebutuhan kalian ?"


"a Rendi ngga pernah kirim kami uang selama setahun ini teh, kami cari uang sendiri."


"apa ?" apa kamu serius yu?" Anisa 0terkejut sekali mendengar pernyataan adik iparnya itu.


"iya teh, Bayu ngga bohong. selama setahun ini ibu jadi buruh cuci, tapi sekarang ibu lagi sakit dan ngga bisa kerja. makannya bayu mutusin untuk berhenti sekolah biar bisa bantuin ibu cari uang."


Anisa langsung memeluk Bayu sambil menangis."kenapa kamu tega menelantarkan keluargamu dan membohongi aku a? apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari aku?"


Anisa melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.


"bayu udah makan?"


"belum teh!"


"yaudah ikut teteh yuk, kita cari makan."


Anisa mengajak Bayu ke sebuah warteg lalu memesan makanan untuk anak kecil itu. Bayu makan dengan lahap dan cepat, terlihat ia sangat lapar sekali.


"pelan pelan makannya yu!"


Bayu mengangguk.


"kenapa Bayu dan ibu ngga pernah cerita ke teteh kalau kalian ngga pernah di kirimin uang?"


"kata a Rendi teteh yang larang kirim uang ke kami, kalau kirim uang nanti teteh minta cerai ke a Rendi. makannya kami diam aja, ibu ngga mau gara gara kami teteh sama A rendi bercerai."


"tega sekali kamu fitnah aku kayak gitu a, padahal selama ini aku yang nyuruh kamu untuk tetap menafkahi keluargamu, sampai aku rela kerja cari uang untuk memenuhi kebutuhan yang tidak pernah kamu cukupi selama pernikahan kita. lantas kemana uang gaji mu ngalirnya selama ini a?" Anisa bermonolog.


Anisa mengambil uang tiga juta yang baru ia tarik di market tadi. Rencananya uang itu untuk kebutuhannya sehari hari, tapi mendengar mertuanya lagi susah serta sakit dan di tambah bayu yang putus sekolah ia mengikhlaskan uang itu untuk mereka.


"abis makan kamu pulang ya yu, dan ini pegang uang untuk kalian. maaf teteh ngga punya banyak uang cuma ada segini yu."

__ADS_1


Bayu mengambil uang yang telah di sodorkan oleh kakak iparnya."alhamdulilah, terima kasih banyak ya teh, smoga Rizki teteh semakin berlipat lipat, amin!"


Anisa mengantar Bayu ke terminal, mencari bus jurusan kampungnya yang berjarak dua jam.


__ADS_2