
Shin jalan mondar mandir di dalam kamarnya sambil menumpukan tangan kirinya di atas dada dan tangan kanan mengusap usap pelipisnya. Pagi ini ia gelisah sekali tentang keputusan apa yang akan ia dapatkan dari Abah. Apakah lamarannya di terima atau sebaliknya di tolak.
Ketiga temannya memandang heran pada pria tinggi atletis itu bahkan mereka saling pandang antara satu dengan yang lainnya seolah olah mencari jawaban kenapa teman asingnya itu seperti sedang di rundung ke kecemasan.
"Bolak balik terus kak, kayak setrikaan aja," ledek Akbar.
Shin melirik dengan ekor matanya namun tak ia hiraukan ucapan Akbar malah Shin mengacak acak rambutnya.
Abdul hanya tersenyum saja melihat Shin seperti sedang frustasi. Karena Abdul mengetahui apa penyebab teman dewasanya seperti itu.
"Tenangkan diri kakak dan beristighfar kak," saran Abdul tiba tiba.
Shin terdiam lalu menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan secara perlahan.
"Astaghfirullah hal adzim." Shin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bukannya hari ini kita mau sewa traktor untuk menggali tanah kak?" tanya Akbar.
"Oiya kamu benar Bar."
"Nanti dulu. Kita harus beri tahu Abah dulu tentang rencana kita," saran Abdul.
"Ya sudah kalau begitu kita ke rumah Abah sekarang," usul Akbar.
Kemudian mereka bergegas ke rumah Abah Ahmad. Tiba di sana dan dengan jarak sedikit jauh Shin serta ke tiga temannya melihat seorang santri cantik baru saja keluar dari rumah Abah. Shin terpana melihatnya karena wanita itu adalah wanita yang sedang ia pinang namun belum mendapatkan jawabannya. Shin segera menyembunyikan tubuhnya di balik pohon besar sebelum wanita itu melintasinya.
Inay keluar dari rumah Abah. Ekor matanya seperti melihat ada empat pria yang sedang berjalan ke arah rumah Abah. Namun ia perhatikan kembali mereka, hanya ada tiga pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Apa hanya perasaan aku aja." Inay melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Abah.
Abdul serta dua temannya tidak menyadari bahwa Shin sedang bersembunyi di balik pohon besar. Mereka berjalan lalu berpapasan dengan wanita yang baru saja keluar dari rumah Abah.
"Assalamualaikum kak Inay?" sapa Abdul sambil tersenyum.
Thoriq dan Akbar memandang heran ke arah Abdul. Kenapa Abdul bisa kenal dengan wanita cantik di hadapan mereka? pikir nya.
"Wa'alaikum salam. Bukan kah ini dek Abdul yang waktu itu pernah menolong saya di pasar?"
"Wah, kak Inay masih ingat sama saya. Seneng sekali rasanya masih di ingat hehe."
Inay hanya tersenyum tipis."Apa kalian mau ke rumah Abah?"
"Benar sekali."
"Oh, ya sudah kalau begitu silahkan di lanjutkan."
"Iya kak."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Inay bergegas pergi dari hadapan tiga belia. Berjalan melintasi pohon besar dimana Shin sedang bersembunyi.
Shin menatap nanar punggung wanita yang sangat ia rindukan sedang melintasinya.
"Aku rindu sekali padamu Rin, Rindu sekali...!" gumam Shin dalam hati.
Bukan Shin tidak ingin menampakan diri pada wanita itu tapi ia belum siap jika mendapat penolakan lalu Norin akan lebih menjauhinya. Biarlah seperti ini, memandanginya dari kejauhan daripada tidak sama sekali.
Abdul dan kedua temannya baru menyadari ketidak adaan Shin di tengah tengah mereka.
"Lho, kak Shin kemana? kok menghilang," tanya Akbar.
"Iya, pergi kemana dia?" Thoriq menimpali.
Sementara ekor mata Abdul menangkap separuh tubuh Shin yang sedang bersembunyi di balik pohon besar. Ia menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arahnya.
Shin yang sedang memperhatikan wanita cantik tengah berjalan hingga sampai di kejauhan di kejutkan oleh tepukan tangan di belakang punggungnya. Shin terperanjat lalu menoleh ke arah belakang.
"Kau Dul, membuat ku terkejut saja."
"Ha ha ha, lagi pula kenapa kak Shin bersembunyi disini."
"A..aku..!"
"Tidak mau bertemu dengan kak Inay?"
"Bu..bukan. Aku hanya belum siap. Aku takut dia semakin menjauhiku."
"Abdul, Kak Shin ngapain berdiri di situ? ayok ke rumah Abah,"panggil Akbar.
Shin dan Abdul saling pandang.
"Ya sudah kak, nanti saja lanjut ceritanya. Sekarang kita ke rumah Abah saja dulu."
Shin mengangguk.
Kemudian mereka menghampiri kedua temannya lalu berjalan beriringan menuju rumah Abah.
"Assalamualaikum?"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Pintu terbuka.
"Lho, ada apa ini rame rame datang kemari pagi pagi?" tanya Umi Husna.
"Kita mau bertemu dengan Abah, Umi."
"Oh, sebentar ya, Umi panggil kan dulu Abah nya."
Tak selang lama Abah datang menghampiri mereka yang masih berdiri di teras rumah setelah di panggil oleh Umi Husna.
"Assalamualaikum Abah."
"Wa'alaikum salam."
Abdul serta ketiga temannya menyalami Abah Ahmad terlebih dahulu satu persatu.
"Ayok duduk di sana," ajak Abah sambil menunjukan beberapa kursi yang ada di pojokan teras rumahnya. Dan mereka menuruti ajakannya.
"Kalian ada apa ini tumben tumbenan ke sini rame rame?"tanya Abah.
"Begini Abah, kami mohon ijin sama Abah untuk membuat kolam ikan. Rencananya kami ingin menernak ikan. Jadi hasilnya selain untuk di jual juga untuk tambahan pangan para santri di pondok ini Abah." Abdul menjelaskan pada Abah Ahmad tentang keinginan mereka untuk menernak ikan.
Abah menyimak lalu angkat bicara.
"Bukannya Abah tidak setuju dengan keinginan kalian. Tapi, Abah sendiri bingung karena belum ada dana masuk dari donatur. Sementara menernak ikan kan butuh modal yang tidak sedikit."
"Abah tidak perlu memikirkan dana untuk masalah ini. karena sudah ada donatur yang akan membiayainya," jawab Abdul.
"Oya...tapi dimana kalian akan membuat kolam ikan sementara sudah tidak ada lahan kosong di pesantren ini."
"Di kebun, Abah."
"Lho, bukan nya kemarin kalian sudah menanami kebun itu?"
"Iya Abah, tapi maksud Abdul kami akan membuatnya di lahan yang baru."
"Maksudnya Dul, abah tidak mengerti."
"Begini Abah. Jadi donatur ini selain akan membiayai pembuatan kolam serta bibit ikan. Beliau juga sudah membelikan lahan untuk pembuatan kolamnya."
"Apa kamu serius Dul? dimana itu?"
"Serius Abah, dia sudah membayar kebun milik pak Paijo yang berdampingan dengan kebun kita."
"Kebun pak Paijo yang luasnya hampir satu hektar itu?"
"Subhanallah.....si siapa donatur yang kamu maksud itu Dul? tanya Abah dengan wajah serius.
Abdul melirik pada Shin yang dari tadi hanya menunduk kan wajah tanpa bicara.
"Dia.....kak Shin Abah."
Abah membelalak kan matanya. Rasanya tak percaya karena selama ini Abah hanya mengetahui Shin adalah seorang atheis dan tak pernah tau siapa Shin sebenarnya. Pak Ali sendiri tidak pernah menceritakan siapa sebenarnya pria asing yang dibawanya ke pesantren. Shin sendiri tidak pernah menceritakan asal usulnya. Ia hanya bilang ingin belajar agama islam, hanya itu saja.
"Benar itu nak Shin?" tanya Abah dengan wajah serius.
Shin mendongak kan wajahnya.
"Be...benar Abah."
"Apa nak Shin tidak sayang sudah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk pesantren ini?"
"Tidak sama sekali. Saya ikhlas, Abah."
Abah tersenyum."Terima kasih banyak ya nak Shin, semoga apa yang sudah nak Shin sumbangkan untuk pesantren ini menjadi ladang pahala nak shin serta keluarga."
"Sama sama Abah."
Meskipun sebenarnya Abah penasaran dan ingin menanyakan siapa dirinya sebenarnya tapi Abah urungkan saja. Rasanya kurang etis saja jika menanyakan hal yang bersifat duniawi. Bagi Abah yang terpenting adalah Shin orang baik dan memiliki niat yang baik.
"Kalau begitu kapan kalian akan membuat kolam ikan?"
"Rencananya setelah pulang dari sini kita mau langsung menyewa traktor Abah," jawab Abdul.
"Oh, begitu." Abah manggut mangut.
Abah melirik Shin yang entah kenapa sepanjang bicara dengan Abah ia menundukkan kepalanya.
"Nak Shin, apa bisa kita bisa berbicara berdua? ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
Shin mendongak kan wajahnya lalu mengangguk.
"Kalau begitu kami duluan ke pondok ya kak?"
Shin mengangguk.
"Kalau gitu kami kembali ke pondok ya Abah. Assalamualaikum."
Abah mengangguk."Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Abdul beserta dua temannya bergegas pergi meninggalkan rumah Abah.
"Nak Shin, mari kita bicara di dalam saja," ajak Abah. Lalu beranjak dari kursinya. Shin mengekor di belakang Abah.
"Silahkan duduk Nak Shin," titah Abah setelah mereka berada di ruang tamu.
"Terima kasih Abah."
"Kita langsung saja pada intinya ya Nak Shin karena sebentar lagi saya harus keluar dulu untuk menghadiri acara."
Shin mengangguk.
"Saya hanya ingin menyampaikan terkait niat yang sudah di utarakan oleh nak Shin kemarin untuk mengkitbah keponakan saya, Inay. Jadi tadi saya sudah menyampaikannya pada Inay tentang niat nak Shin ini."
Shin menunduk lalu memejamkan matanya. Ia takut sekali pinangannya di tolak.
"Dan.....alhamdulilah niat baik nak Shin telah di terima dengan baik oleh Inay sendiri."
Shin mendongak kan wajahnya memandang serius ke arah Abah.
"A.....apakah lamaran saya sudah di terima oleh Norin, Abah?" tanya Shin. Seolah olah ia belum percaya atas apa yang telah ia dengar dari ucapan Abah."
Abah tersenyum."Benar, Inay sudah menerima pinangan nak Shin."
"Alhamdulilah.....terima kasih ya Allah, terima kasih..!" Shin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Betapa bahagianya Shin saat ini, rasa bahagia yang tidak bisa di ungkap kan dengan kata kata.
"Tapi, apa Norin tau bahwa yang meminangnya adalah saya, Abah?"
Abah menggeleng.
"Kenapa seperti itu? bagaimana dia bisa menerima pinangan seseorang jika dia tidak tau siapa orangnya?"
"Inay bilang, siapapun pilihan saya dia adalah pria yang tepat untuknya. Saya sudah menawarkan akan menemukannya dengan nak Shin agar dia tau terlebih dahulu siapa calon suaminya tapi dia menolaknya. Ya sudah tidak perlu di paksa. Biar kan saja dia mengetahui bagaimana suaminya setelah kalian menikah nanti."
"Tapi, apa itu bukan suatu kebohongan dan dosa, Abah?"
"Tidak. kita tidak membohonginya, dia sendiri yang menolaknya. Nak Shin tidak perlu cemas. Saya yakin setelah kalian menikah Inay pasti menerimanya sebagai istri dari nak Shin."
Shin manggut manggut kecil, meskipun ada sedikit keraguan di hatinya namun ia ikuti saja apa yang di katakan oleh Abah toh Shin tidak punya pilihan lain.
"Kapan kira kira nak Shin siap untuk menikahi Inay?"
"Hari ini juga saya siap," jawab Shin dengan serius.
"ha ha...tidak bisa begitu nak Shin. Inay punya keluarga tentu saja harus menunggu kedatangan mereka. lagi pula harus mengurus surat surat ke catatan sipil terlebih dahulu. Nak Shin persiapkan saja dokumen nya. Dan inshaallah pernikahan akan di laksanakan pada hari Ahad tanggal lima."
"Apa lagi yang harus saya persiapkan selain dokumen Abah?"
"Mahar, itu yang paling penting."
"Mahar apa yang harus saya berikan?"
"Terserah Nak Shin, bisa berupa uang bisa berupa barang."
Shin mengangguk.
"Apa saya harus memiliki wali ketika menikah? sebab, orang tua saya ada di Korea."
"Untuk mempelai pria tidak di wajibkan nak Shin, cukup datang kan saksi saja."
Shin mengangguk.
"Tapi, kita hanya akan mengadakan acara sederhana saja ya nak Shin, mungkin hanya beberapa relasi dan saudara dekat yang di undang."
"Terserah Abah saja baiknya bagaimana."
Shin merogoh ponselnya lalu mengetik sesuatu. Tak lama kemudian ponsel Abah bergetar yang ia letak kan di atas meja. Abah mengambil nya lalu melihat pada layar ponselnya. Abah mengerutkan dahinya setelah membaca pemberitahuan dari M banking bahwa uang tiga ratus juta telah masuk ke rekeningnya.
"Saya sudah transfer uang tiga ratus juta ke akun Abah,"ucap Shin tiba tiba.
"Jadi nak Shin yang mengirim uang ke rekening saya? untuk apa nak?"
"Abah, saya tidak tau bagaimana tata cara pernikahan muslim. Jadi saya menyerahkan semuanya pada Abah. Dan uang itu sebagai penunjang apa saja yang di butuhkan dan yang harus di beli dalam mempersiapkan pernikahan kami."
"Tapi uang ini terlalu banyak nak Shin."
"Tidak apa apa. Apalagi ini acara pernikahan kami jadi saya yang harus mendanai semuanya. Dan bukan kah kita butuh makanan juga untuk menyambut para tamu? siapa tau Abah mau mengundang relasi Abah untuk menyaksikan acara pernikahan kami nanti."
"Ya sudah terserah nak Shin saja."
"Kalau begitu saya permisi untuk kembali ke pondok Abah."
"iya nak Shin, silahkan."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Shin bergegas kembali ke pondok. Sepanjang jalan senyum kebahagiaan tak lepas dari bibirnya. Rasanya seperti mimpi jika lima hari lagi Norin akan menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1