Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 6.8)


__ADS_3

Mega masih asik menutupi wajahnya sedangkan Ai masih asik menikmati belaian angin yang terkontaminasi oleh debu.


"Bukankah itu duo kulkas berjalan..,ya Allah! Laki-laki itu juga ikut bersama mereka!" Seru Asri kali ini menarik perhatian Mega.


Dia dengan malas menyingkirkan kain jilbab hitam dari wajahnya,"Duo kulkas berjalan siapa- innalilahi!"


Kain jilbab yang semula dia singkirkan kembali dinaikkan untuk menutupi wajah kesalnya.


Doa zikir apa yang aku lupa baca ketika sholat subuh tadi? Kenapa aku selalu apes dan berakhir bertemu lagi dengannya!. Batin Mega rasanya ingin melarikan diri saja.


"Innalilahi..?" Bingung Ai seraya membuka matanya secara perlahan.


"Siapa yang mendapatkan musibah- innalilahi wa innailaihi raji'un!" Kedua mata Ai langsung terbuka lebar ketika melihat beberapa laki-laki tinggi yang sedang berjalan ke arah mere-


Tidak, tidak, tidak!


Ai tidak tahu kemana mereka pergi- ah, itu bukan yang terpenting saat ini!


Ai panik melihat laki-laki dingin yang kini juga sedang menatapnya dari jauh. Dia sudah berjanji akan menjaga jarak dengan laki-laki itu dan berusaha memantapkan hatinya untuk tidak mengurus soal laki-laki dingin itu lagi.


"Aku ingin pulang ke asrama!" Kata Ai panik ingin melarikan diri.


Mega juga sama seperti dirinya, dia tanpa aba-aba menarik tangan Ai untuk segera pergi tapi langsung ditahan oleh Asri.


"Ada apa? Bukankah kamu tadi ingin kembali ke asrama karena di sini panas dan berdebu? Sekarang ayo kita pergi sebelum pakaian kita menjadi kotor dan lengket." Kata Mega berpura-pura tenang tapi nada suaranya tidak bisa dibohongi.


Dia sangat panik!


Asri tersenyum malu,"Tunggu dulu, kita bisa pergi ke asrama setelah memberi salam kepada mereka." Kata Asri seraya melirik ke arah kelompok laki-laki yang ingin dihindari Ai dan Mega.


Ai ingin buru-buru pergi,"Lebih baik tidak usah saja karena belum tentu mereka datang ke sini."

__ADS_1


Tapi meskipun begitu apa yang dikatakan cukup masuk akal. Namun Asri masih kukuh dengan keinginannya. Dia tidak mau pergi sebelum melihat laki-laki itu menghilang dari pandangannya.


"Jika mereka tidak datang ke sini maka biarkan aku melihat laki-laki itu dulu sampai dia benar-benar menghilang dari penglihatan ku." Kata Asri malu bercampur tidak sabar.


"Laki-laki?" Mega bingung.


"Em itu.. laki-laki yang berjalan di belakang Ustad Vano." Kata Asri sembari melihat kembali ke arah kelompok Ustad Vano.


Ai dan Mega sontak melihat ke arah yang disebutkan Asri tadi, kebetulan saat Ai melihat ke sana dia tidak sengaja bertatapan lagi dengan Ustad Vano. Maka sekali lagi Ai berpaling, dia tidak tahan melihat Ustad Vano untuk saat-saat ini.


"Tapi bukankah kamu tadi bilang kita tidak boleh memikirkan tentang cinta-cintaan dulu?" Tanya Ai heran.


Padahal Asri sendiri yang menasehatinya agar jangan terlalu memikirkan urusan cinta di sini. Mereka harus memperbaiki niat dan hanya fokus belajar. Tapi ini belum lebih dari 2 jam Asri mengatakannya dan dia sudah mengingkari apa yang dia katakan sendiri!


Asri cengengesan, dia menepuk pundak Ai dan Mega dengan wajah tidak bersalah.


"Tidak, itu tidak benar. Sebenarnya aku ingin mengatakan jika kita memang harus fokus pada menuntut ilmu, tapi jika ada peluang untuk mendapatkan cinta maka kenapa kita harus melewatkannya? Oh ayolah, kita sekarang ada di pondok pesantren! Rumah bagi calon suami impian yang sulit ditemukan diluar sana. Kalian harus memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat-lihat dan menilai laki-laki seperti apa yang cocok menjadi pemimpin kalian di rumah tangga nanti!"


Ai membuka mulutnya beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu untuk mengatakannya.


"Hei, jangan bengong saja. Aku bilang kita harus memanfaatkan hidup kita di sini untuk menuntut ilmu dan mulai melihat-lihat laki-laki seperti apa yang cocok menjadi pemimpin kita di dalam rumah tangga nanti." Asri berusaha memperdaya Ai dan Mega agar setuju dengan pikirannya.


"Kamu benar," Mega merasa ini cukup masuk akal tapi entah kenapa rasanya agak janggal.


"Tapi kita masih 17 tahun, belum saatnya untuk memikirkan rumah tangga." Ai mengingatkan dengan sabar. Usia ini masih belum pantas untuk membicarakan tentang pernikahan, okay!


"Apa masalahnya jika kita masih berusia 17 tahun? Bukankah beberapa bulan lagi itu akan menjadi 18 tahun dan kita legal menikah di dalam hukum negara maupun Islam?" Asri sama sekali tidak mempermasalahkannya!


Mereka awalnya tidak membicarakan topik seberat ini tapi kenapa arah pembicaraan mereka menuju ke pernikahan?


"Benar, tapi kita harusnya lebih fokus belajar dulu daripada memikirkan tentang pernikahan." Mega hampir terpengaruh oleh Asri.

__ADS_1


"Kamu benar, tapi bagaimana jika ada peluang untuk menikah muda?" Pertanyaan menggelitik ini sontak membuat Ai dan Mega terdiam.


Nikah muda?


Ini sudah banyak terjadi tapi mereka tidak pernah memikirkan kemungkinan ini terjadi kepada mereka sendiri!


"Apa kamu akan menikah jika ada laki-laki yang meminang mu?" Tanya Ai dilanda penasaran.


Karena percakapan ini mereka berdua tanpa sadar melupakan tentang 'alasan' mereka berdua ingin melarikan diri.


Asri dengan percaya diri menganggukkan kepalanya,"Aku tidak akan ragu nikah muda asal dia bisa memimpin ku dengan baik di dalam rumah tangga.".


"Apa kamu serius?" Mega tidak tahu harus tertawa atau kagum mendengar jawaban langsung Asri.


"Aku-"


"Assalamualaikum?" Suara berat itu kompak memberikan salam.


Deg


Mereka bertiga langsung membeku di tempat! Bahkan Asri yang sudah meracuni pikiran Ai dan Mega dengan semangat tadi kini tiba-tiba berubah menjadi pemalu, dia terlihat gugup sama seperti Ai dan Mega.


Padahal aku ingin melarikan diri!. Batin Ai dan Mega berteriak.


Bersambung..


Di sini ada yang nikah muda?


Lanjut?


Kalau mau lanjut insha Allah saya akan up nanti sore 🍁

__ADS_1


__ADS_2