Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.1)


__ADS_3

Pada suatu hari libur di pondok pesantren, Ai, Mega, dan Asri meluangkan waktu mereka duduk santai di sawah sambil menikmati angin semilir yang berhembus ringan menerbangkan kain jilbab mereka.


"Mashaa Allah, hari ini teh lebih adem dari biasanya. Anginnya juga sejuk dan nyaman." Ujar Asri seraya menutup kedua matanya menikmati hembusan angin siang yang terasa begitu adem dan lebih sejuk.


Ai dan Mega juga merasakan hal yang sama. Mega memejamkan matanya ikut menikmati sedangkan Ai membawa pandangannya menatap hamparan langit di ujung sana.


Melihat begitu luas tak terjangkau hamparan langit biru itu, melihat begitu tinggi hamparan langit biru itu, dan melihat gumpalan awan-awan putih yang mengambang bebas di hamparan langit biru itu, jantung Ai berdenyut hangat merindukan Allah.


Sungguh besar kuasa Allah. Menjadikan langit biru sebagai atap bumi yang tidak bertiang selayaknya sebuah rumah.


Dari langit itu Allah turunkan hujan, membasahi bumi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan beraneka ragam.


Mashaa Allah, sungguh rindu hati ini setiap kali memikirkannya.


"Apakah kalian tahu dunia ini hanyalah sebuah panggung senda gurau saja?" Pertanyaan ini tiba-tiba keluar dari bibir Ai, menarik perhatian kedua sahabatnya dengan mudah.


"Senda gurau?" Mega rasanya pernah mendengar kata-kata ini tapi ia lupa dimana.


Ai tersenyum,"Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam surat Al- Ankabut ayat 64 yaitu,

__ADS_1


وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ


Wa maa haazihil-hayaatud-dun-yaaa illaa lahwuw wa la'ib, wa innad-daarol-aakhirota lahiyal-hayawaan, lau kaanuu ya'lamuun.


"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 64)


Ketika mendengar suara lembut nan halus Ai membaca ayat ini mereka berdua langsung teringat pernah membahasnya di kelas.


"Ini adalah ayat pertama yang Ayah ajarkan kepadaku saat mulai mendalami agama. Ayah bilang dunia ini adalah sebuah ujian untuk kita dan bahkan menjadi hukuman untuk Nabi Adam As. Segala kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan yang kita punya di dunia ini adalah salah satu ujian dari Allah. Ujian bahwa apakah kita mampu melewatinya atau tidak sebagai tolak ukur seberapa pantas kita nanti memasuki kampung akhirat. Saat itu juga Ayah mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu berambisi untuk urusan dunia karena ini hanyalah tempat senda gurau, tempat untuk menerima sebuah ujian bukanlah tempat yang pantas untuk ditinggali. Ayah bilang semua kekayaan yang keluarga Ayah dan Bunda miliki adalah sebuah titipan dari Allah, dan cepat atau lambat akan Allah ambil juga sehingga kita tidak boleh terlalu baper mengenai titipan-titipan itu. Selain itu, Ayah pernah mengatakan kepadaku bahwa bila kita benar-benar mencintai Allah maka cintailah dengan tulus seperti Allah mencintai kita. Jangan mengharapkan surga meskipun tempat itu adalah tempat abadi yang seluruh umat muslim harapkan dan jangan pula mencintai Allah karena takut siksa neraka walaupun sejatinya semua orang sangat menakuti tempat itu. Cintai Allah tanpa meminta imbalan surga ataupun meminta imbalan dijauhkan dari siksa neraka, tapi cintai Allah dengan tulus dan hanya mengharapkan balasan ridho Allah saja. Karena bila kita mencintai Allah dengan tulus maka Allah juga tidak akan ragu membalas cinta kita, Dia Kuasa atas segalanya dan tidak akan pernah memberikan kita sebuah jawaban yang mengecewakan. Mashaa Allah, setelah dinasehati oleh Ayah dan Bunda, aku berusaha untuk muhasabah diri sendiri agar lebih dekat lagi dengan Allah. Berharap Allah membalas cinta ku suatu hari nanti." Ujar Ai menceritakan pengalaman indah masa lalunya.


Hari ketika ia belum mengenal agama dan hari ketika ia mulai perlahan-lahan mengenal agama. Sulit memang tapi lambat laun Ai mulai menikmati proses belajarnya hingga ia bisa berada di pondok ini dan bertemu dengan dua sahabat terbaiknya.


"Mashaa Allah, aku sungguh tersentuh mendengar ajaran Ayahmu. Mendengar ceritamu membuat ku tiba-tiba teringat dengan nasihat Bapak kepadaku dulu di desa." Sejenak bayangan masa-masa indah itu berkelebat di dalam kepala Asri.


"Bapak ku memang bukan orang pondok pesantren tapi ilmunya Inshaa Allah tidak kalah dengan orang-orang pondok karena beliau dulu suka sekali membaca kitab-kitab milik temannya yang pernah sekolah di pondok." Kata Asri sarat akan rasa bangga.


"Pernah suatu hari Bapak memberikan ku sebuah nasihat bagaimana bisa sukses di dunia ini dan sukses pula di akhirat kelak. Bapak bilang kuncinya terdapat di dalam surat Al-Asr, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, bahwa


وَا لْعَصْرِ 

__ADS_1


Wal-'ashr


"Demi masa."


اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ 


Innal-ingsaana lafii khusr


"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"


اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ


Illallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati wa tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr


"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr 103: Ayat 1-3)


Asri melantunkan surat pendek itu dengan khusyuk.


"Berbuat baik, tidak pelit ilmu dan saling menasihati untuk berbuat kebaikan atau saling menasehati untuk menumbuhkan sikap sabar. Ini jauh lebih berharga daripadanya kekayaan, harta, uang, ataupun kekuasaan. Bila kita mengikuti petunjuk surat pendek ini maka Inshaa Allah, kita tidak hanya sukses di dunia namun juga di akhirat."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2