
"Astagfirullah..hari kedua penerimaan santri baru pondok pesantren harus mendapatkan masalah seserius ini." Desah Ustazah sambil menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
Dia pertama-tama duduk di kursinya. Membuka tutup botol air minum putih yang ada di atas meja dan mengambil 3 tegukan besar setelah membaca doa. Setelah itu dia mengambil nafas panjang, menyentuh keningnya yang terasa agak penat dan melelahkan.
Sepertinya hari ini tidak terlalu berjalan dengan baik untuk Ustazah Nur. Mulai dari santri hingga masalah pendataan mengalami beberapa masalah yang harus segera diselesaikan. Karena masalah ini pula Ustazah Nur harus bolak-balik melihat secara langsung semua data yang mengalami masalah di kantor pusat, dan ini masih belum bisa diselesaikan. Tampaknya semua masalah itu bisa diselesaikan dua atau tiga hari ke depan, akan tetapi waktu yang tersita pasti jauh lebih ketat dari hari ini.
"Ustazah Ika, apa aku boleh tahu siapa santriwati yang telah berani-beraninya masuk ke dalam sekolah santri laki-laki dan menyelinap ke dalam ruang kerja Ustad Vano?" Ada rasa dingin yang Ustazah Nur rasakan ketika mencoba membayangkan seorang gadis mencoba masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano.
Tanpa bertanya pun Ustazah Nur tahu tujuannya masuk ke dalam ruangan Ustad Vano. Sudah pasti itu bukan alasan yang baik dan itu sudah pasti pula mempunyai alasan yang buruk. Santriwati ini..dia ingin bertemunya secara langsung untuk berbicara.
Ustazah Ika segera mengangkat kepalanya dan duduk dengan sopan. Dia adalah Ustazah yang menyambut kedatangan Ai, Mega, dan Asri tadi.
"Santriwati itu bernama Hardianti Sari, Ustazah. Dia adalah santriwati baru yang membolos dari hukuman tadi pagi dan juga tidak masuk sekolah seperti teman-temannya yang lain." Lapor Ustazah Ika dengan ekspresi berhati-hati.
Tentu saja ini mengecewakan untuk mereka semua selaku pengurus apalagi masalah ini sudah sangat serius.
"Hardianti Sari?" Ustazah Nur merasa nama ini familiar.
Dia lalu cepat-cepat membuka catatan kecil yang tertempel di dalam buku tebalnya. Di dalam buku tebal Ustazah Nur ada banyak sekali kertas kecil yang ditempel rapi dan berurutan. Jika dilihat dari puluhan lembar yang dihabiskan Ustazah Nur pasti sudah lama mempunyai kebiasaan ini.
__ADS_1
"Hardian Sari, salah satu santri baru yang mendapatkan hukuman dari Umi tadi pagi.. astagfirullah!" Ustazah Nur lebih tidak berdaya lagi setelah tahu siapa Sari.
"Anak ini perlu bimbingan serius." Gumam Ustazah Nur sekali lagi menyentuh keningnya.
Dia merasa pusing dan agak lelah. Dia ingin pergi membantu Ustazah Laila mengurus masalah Sari tapi kedua matanya tiba-tiba menangkap keberadaan Ai, Mega, dan Asri yang diam membisu memperhatikannya.
Mereka melihat semuanya tapi tidak berani bersuara.
"Astagfirullah, maafkan aku." Ustazah Nur segera berdiri mendekati mereka bertiga dan duduk di sofa yang lebih dekat dengan mereka.
"Maaf, aku benar-benar sibuk hari ini dan tanpa sadar tidak menyadari kehadiran kalian di sini." Katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.
Toh, duduk bersantai di sini sangat menyenangkan.
Ustazah Nur tersenyum. "Apa kalian tahu kenapa aku memanggil kalian ke sini?" Tanyanya agak santai.
Kali ini Mega menjawab,"Kami tidak tahu, Ustazah."
Mereka bertiga tidak tahu apa-apa dan tidak berani menebak mengapa mereka dipanggil ke sini.
__ADS_1
"Ini soal permintaan kalian tadi siang. Apa kalian masih ingin menghubungi kedua orang tua kalian? Kami bisa mengizinkannya tapi hanya 5 menit untuk masing-masing." Kata Ustazah seketika membuat mereka bertiga terkejut.
"Ustazah, terimakasih telah memberikan kami izin. Tapi bolehkah kami tahu kenapa Ustazah memberikan kami izin karena tadi siang Ustazah menegaskan bahwa kami tidak bisa melanggar peraturan yang sudah ditetapkan." Ai sangat senang tapi tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Ustazah Nur tersenyum kecil,"Ini adalah kompensasi untuk kalian setelah selesai menjalankan hukuman. Di samping itu ada beberapa orang yang meminta kepadaku agar kalian bisa diberikan izin."
Kompensasi dari menjalankan hukuman memang tidak terlalu mengejutkan tapi beberapa orang yang tidak disebutkan ini namanya, mereka bertiga jelas langsung dilanda oleh rasa penasaran yang sungguh tidak bisa disembunyikan.
Mereka ingin tahu siapa 'beberapa orang' yang telah membantu mereka.
"Jangan memintaku memberitahu kalian siapa mereka karena orang-orang itu berpesan kepadaku untuk menutup mulut. Intinya mereka adalah orang yang baik dan tidak bermaksud jahat." Kata Ustazah Nur buru-buru mengingatkan mereka.
'orang-orang' itu memintaku untuk menutup mulut maka dia akan menutup rapat mulutnya. Ini adalah amanah dan amanah ini tidak boleh dia langgar apapun alasannya.
"Oh.." Ai kecewa.
Dia ingin tahu siapa mereka dan dia juga ingin berterimakasih kepada mereka.
"Jangan terlalu dipikirkan, sekarang pergilah ke ruangan yang paling ujung. Di sana sudah ada beberapa staf yang menunggu kedatangan kalian." Kata Ustazah Nur tampak buru-buru.
__ADS_1
Ai, Mega, Asri jelas mengerti situasi Ustazah Nur. Mereka mengucapkan terimakasih sebelum keluar karena tidak ingin menahan Ustazah Nur terlalu lama lagi.