
"Hah.." Ai tertegun, wajahnya menjadi pucat pasi tertangkap tidak siap.
Dinda tersenyum miring, menjauh dari Ai dia lalu berdiri dari duduknya dan membantu Ai dengan sopan duduk di kursi depan mejanya. Sikapnya masih lembut seolah kata-kata kejam itu tidak pernah keluar dari mulutnya.
"Aku dengar Bunda kamu melahirkan bayi kembar tiga, hah..itu pasti berat untuk kamu sebagai anak angkatnya." Katanya lagi-lagi membuat Ai bingung bercampur kosong.
Sejak Dinda mengatakan itu mulutnya seolah tertutup rapat tidak bisa mengeluarkan suara.
Dinda mengulum senyumnya,"Apa wanita itu melupakan kamu sekarang?"
Tanyanya dengan sorot mata penuh kecemburuan dan kebencian. Dia tidak bisa menerimanya sampai sekarang bila Safira hidup berbahagia dengan Ali. Apalagi mereka sekarang sudah dikaruniai 3 anak kembar, Safira pasti lebih sombong dari sebelumnya.
Lagipula dia yakin dan percaya bila Safira sibuk mengurus anak-anaknya sampai melupakan keberadaan Ai. Yah, menurutnya itu wajar saja karena Ai adalah anak angkat yang ada hanya bila dibutuhkan dan dibuang bila sudah tidak dibutuhkan lagi.
__ADS_1
"Wanita..siapa?" Ai bertanya bingung.
Dinda memutar bola matanya jengah,"Safira, Bunda angkat mu yang sok alim dan sok cantik itu. Apa dia tidak melupakan kamu setelah mempunyai 3 anak kembar sekaligus?" Tanyanya agak tidak sabar.
Ai tertegun, Safira selalu berusaha ada untuknya meskipun sibuk mengurus ketiga adik-adiknya. Bahkan Ali saja selalu meluangkan waktunya setiap pulang kerja untuk menemaninya tidur, mengantarnya ke sekolah pagi-pagi dengan kecupan hangat khas seorang Ayah.
"Bunda selalu ada untuk Ai. Dia memang sibuk mengurus ketiga adikku tapi Bunda selalu meluangkan waktu untuk menyiapkan pakaian ku, sarapan-"
Dia menatap Dinda dengan tatapan ingin tahu sekaligus curiga. Pasalnya wajah Ali tampak pucat dan gelisah di seberang sana.
Dinda memperbaiki wajahnya, tersenyum malu sebagai permintaan maaf. Guru itu masih curiga tapi diam-diam memendamnya sembari mewanti-wanti bila suatu hari Ai mendapatkan masalah dari Dinda.
"Dia melakukan itu kepadamu karena terpaksa, okay! Sebenarnya kegunaan kamu di rumah itu sudah tidak ada lagi. Dia sudah punya anak sekarang jadi kamu tidak dibutuhkan lagi di rumah itu." Kata Kayana dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
__ADS_1
Dari sudut matanya dia melihat guru itu tidak lagi memperhatikan mereka sehingga dia bisa lega.
Ai memang lemah dan pendiam tapi bila itu menyangkut urusan Safira atau Ali dia akan sangat marah.
Dia marah karena faktanya Safira bukan orang yang seperti itu. Safira adalah Ibu yang baik dan Ai tidak pernah sekalipun bertemu wanita sebaik Safira di dunia ini.
"Bu guru, bohong! Bunda bukanlah orang yang seperti itu! Dia baik dan dia selalu menganggap Ai sama seperti ketiga adik-adik ku." Katanya sambil menahan isak tangis.
Dia marah dan kesal sampai-sampai ingin menangis.
Dinda lebih kesal lagi dengannya, dia mengangkat kedua bahunya acuh sambil berpura-pura tidak perduli dengan apa yang Ai katakan.
"Ya itu terserah padamu bila kamu tidak mempercayai ku. Lagipula tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau membesarkan manusia gagal seperti kamu. Jangankan Safira, kedua orang tuamu saja memilih membuang mu ke panti asuhan daripada membesarkan kamu."
__ADS_1